Salat ayam

29 Maret, 2015

image

Pernah lihat ayam makan?

Ia akan mematuk-matuk tanah atau tempat makanannya dengan begitu cepat. Tanpa jeda antara satu patukan dengan patukan berikutnya. Begitu selesai, ia langsung pergi.

Bagaimana pendapat kamu tentang orang yang salat?

Yaitu, salatnya orang yang antara satu gerakan salat ke gerakan berikutnya begitu cepat, tanpa jeda, dan begitu selesai pun langsung pergi.

View on Path


ayam di dalam botol

24 Februari, 2015

Siapa yang bisa mengeluarkan ayam dari dalam botol?

***

Pada sebuah pertemuan akhir sebelum ujian akhir pelajaran bahasa arab, datanglah murid kepada gurunya mengadukan betapa sulitnya belajar bahasa arab.

Guru tersebut lalu bertanya kepada seluruh murid di kelasnya apakah mereka setuju dengan hal tersebut? Lalu ramailah kelas atas pertanyaan sang guru dengan berbagai macam jawaban.

Maka guru memutuskan untuk mengganti pelajaran hari itu dengan sebuah permainan. Guru menggambar di papan tulis sebuah botol dengan ayam betina berada di dalamnya.

Ia berbalik menghadap kepada para murid lalu bertanya: ” Siapa yang bisa mengeluarkan ayam dari dalam botol?”

Para murid berupaya menjawab pertanyaan tersebut tetapi semuanya tidak berhasil menjawabnya dengan benar.

Suasana kelas menjadi sepi. Lalu terdengar suara putus asa dari ujung kelas: “Pak Guru, ayamnya tidak bisa keluar kecuali botolnya dipecahkan atau kita bunuh si ayam.”

Sang guru berkata, “Oh, tidak boleh begitu.”

Lalu si murid berkata dengan nada sarkastis, “Kalau begitu, cari saja orang yang memasukkan si ayam ke dalam botol agar dia mengeluarkannya.”

Kelas pun bergemuruh dengan tawa para murid. Kemudian hening kembali.

Sang guru lalu berkata, “Benar! Itulah jawabannya! Hanyalah orang yang memasukkan si ayam ke dalam botol yang bisa mengeluarkannya. Begitu pula dengan kalian! Kalian telah memiliki konsep bahwa bahasa arab itu sulit. Tidak peduli bagaimana saya menjelaskan dan mencoba membuatnya lebih mudah, maka tidak akan berhasil. Siapapun tidak dapat membantu kalian. Kecuali jika kalian semua melepaskan anggapan tersebut sebagaimana kalian telah menyetelnya di dalam pikiran kalian tanpa bantuan siapapun.”

***

Demikianlah kisah tentang ayam di dalam botol. Berapa banyak ayam yang telah kita masukkan ke dalam botol pikiran kita?

Maka tidak satupun di dunia ini susah, jika kita mendahulukan iman kepada Allah. Lalu bangun konsep dalam pikiran kita bahwa tidak ada yang sulit, kecuali kemauan kita yg membuatnya sulit. Buatlah konsep yang mudah. Maka semua hambatan dan masalah akan mudah diatasi.

Dengan demikian kita semua dapat mengeluarkan ayam dari dalam botol.

***

View on Path


rumah bibi berantakan

7 Maret, 2013

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***


Sandal kelinci

28 Februari, 2013

imageSejak awal Tsuraya tidak suka dengan sandal kelinci sehingga dibiarkan saja sandal tersebut menganggur begitu saja. Ketika adiknya, Athiya sudah mampu mengenakan sandal dan senang dengan sandal kelinci, Tsuraya menggugatnya.

“Itu kan sandal Aya!” sungut Tsuraya sambil berupaya merebutnya dari kaki adiknya. Athiya pun mempertahankan diri sambil mengerang, “Heeeh.”

“Sudahlah, Tsuraya. Nanti kalau adikmu bosan juga akan dilepasnya. Lagipula mana muat lagi sandal itu dengan kakimu?” ujar Bubu menengahi pertikaian.

***

“Baba mau ke mushala. Siapa ikut?” ajak Baba kepada anak-anak. Radya langsung beranjak pergi setelah berwudhu di rumah sedangkan Tsuraya meraih kerudungnya lalu segera mengenakan sandal kelinci incarannya yang sedang tidak dipakai Athiya.

Selesai salat, Baba tidak lagi mendapati Radya maupun Tsuraya di mushala. Tidak pula sandal Baba, hanya sepasang sandal kelinci tertinggal di halaman. Baba memungut sandal kelinci itu dan berjalan pulang tanpa alas kaki. Di jalan, Tsuraya mengadang tanpa kerudung dan memakai sandal Baba yang kebesaran untuk ukuran kakinya berkata,”Kok, Baba gak pake sandal?” Baba tersenyum, “Kan, sandalnya dipakai Tsuraya?”

“Kalau ayam ga pakai sandal, ya Ba?” tanya Tsuraya. “Iya, mana ada sandal yang pas untuk kaki ayam?” jawab Baba. “Baba, seperti ayam dong?” kata Tsuraya. “Heh, masa Baba harus pakai sandal kelinci? Mana muat?” Baba balik bertanya kepada Tsuraya yang disambut dengan ketawa, “Habisnya sudah kekecilan sandalnya, Ba.”

“Makanya Tsuraya kan gak perlu merebut sandal yang dipakai adik Athiya,” nasehat Baba, “sesuatu yang sudah tidak muat dan pas lagi buat kita, biarlah menjadi milik orang lain yang lebih membutuhkan dan lebih menyukainya.” Kemudian Tsuraya berkata, “Nanti Tsuraya dibelikan sandal kelinci yang lebih besar, ya?” :p


%d blogger menyukai ini: