Arabic

19 Desember, 2015

image

Comparison of the number of words between four languages ​​of the world. Number 1 is Arabic.

The amount is 25x higher than the words exist in English.

Arabic = 12,302,912 words (without repetition)
English = about 600,000 words
French = about 150,000 words
Russia = approximately 130,000 words *

* Data taken from the largest dictionaries, released for each language.

(18th of December, the World Arabic Day)


Satu lagi alasan

9 Oktober, 2015

image

“Saya ada penawaran penting, bekerja di luar negeri, dengan gaji 3x lipat!!”

“Dibutuhkan personel yang menguasai Word dan Excel…”

“Memiliki lisensi B …”

“Mendapatkan fasilitas hotel dan restoran mewah …”

“Dan mampu berbahasa Arab.”

Satu lagi alasan untuk belajar bahasa Arab.

[Gambar diambil dari galeri Le BDouin]

catatanbelajarbahasaarab.wordpress.com


gara-gara telat inget

18 September, 2015

Ada teman saya yang bercerita via WhatsApp tentang pentingnya belajar bahasa Arab sbb:

GARA2 TELAT INGET

Habis datengi walimahan, Dadan & Dudung duduk santai di warung kopi.

“Dan, dah enak2 kerja di Arab, gaji gede, koq malah balik ke Tambun?” Tanya Dudung.

“Bukannye keluar Dung, ane baru sebulan kerja langsung dipecat tanpa pesangon, gaji juga nggak dibayar…”

“Lha…? Koq bisa gitu???”

“Pas lagi nganter juragan, di tengah jalan ade batu gede. Sebenernye ane dah mao lewat pinggir, eeeh si juragan malah nunjuk2 ke arah batu sembari teriak2, “Hajar! Hajar! Hajaaaaarrr!!!”

“Terus ?”

“Ya ane tabrak… JDERRR!!! Sampe mobilnye ringsek & jumpalitan. Juragan masuk rumah sakit, kepalenye bocor. Langsung ane dipecat…

Habis dipecat, ane baru inget… Bahasa Arabnye ‘Hajar’ artinye ‘Batu’…”

catatanbelajarbahasaarab.wordpress.com


bersama kesulitan ada kemudahan

24 April, 2015

Pernah baca atau dengar kalimat berikut ini?

(إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا)

Kalimat itu berasal dari Surat Al-Sharh ayat ke-6. Yang menurut terjemahan memiliki arti:

“sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

**

Kesulitan (العسر) disebut dalam bentuk makrifah (bertanda ال), sedangkan kemudahan (يسرا) disebut dalam bentuk nakirah.

Makrifah (معرفة) adalah lafal yang menunjukkan sesuatu yang diketahui atau tertentu. Adapun nakirah (نكرة) adalah lafal yang menunjukkan sesuatu yang tidak diketahui atau tidak tertentu.

Dengan bentuk penyebutan seperti itu, tentu makna yang terkandung pada ayat ini melebihi apa yang tertulis pada terjemahan.

Apabila “kesulitan” disebut dengan bentuk makrifah, maka hal ini bermaksud menunjuk kepada kesulitan tertentu yang sudah diketahui perihalnya.

Sebaliknya, “kemudahan” disebut dengan bentuk nakirah. Hal ini bermaksud bahwa kemudahan yang dijanjikan itu tidak hanya satu atau pada kemudahan tertentu saja. Akan tetapi Allah menyediakan kemudahan yang tidak kita ketahui jumlahnya untuk dapat mengatasi kesulitan itu.

**

Jadi, jikalau kita menghadapi suatu masalah, maka jangan sampai putus asa, karena bersama kesulitan tersebut telah tersedia begitu banyak kemudahan. Insya Allah.

(@nd, 04071436)

View on Path


ayam di dalam botol

24 Februari, 2015

Siapa yang bisa mengeluarkan ayam dari dalam botol?

***

Pada sebuah pertemuan akhir sebelum ujian akhir pelajaran bahasa arab, datanglah murid kepada gurunya mengadukan betapa sulitnya belajar bahasa arab.

Guru tersebut lalu bertanya kepada seluruh murid di kelasnya apakah mereka setuju dengan hal tersebut? Lalu ramailah kelas atas pertanyaan sang guru dengan berbagai macam jawaban.

Maka guru memutuskan untuk mengganti pelajaran hari itu dengan sebuah permainan. Guru menggambar di papan tulis sebuah botol dengan ayam betina berada di dalamnya.

Ia berbalik menghadap kepada para murid lalu bertanya: ” Siapa yang bisa mengeluarkan ayam dari dalam botol?”

Para murid berupaya menjawab pertanyaan tersebut tetapi semuanya tidak berhasil menjawabnya dengan benar.

Suasana kelas menjadi sepi. Lalu terdengar suara putus asa dari ujung kelas: “Pak Guru, ayamnya tidak bisa keluar kecuali botolnya dipecahkan atau kita bunuh si ayam.”

Sang guru berkata, “Oh, tidak boleh begitu.”

Lalu si murid berkata dengan nada sarkastis, “Kalau begitu, cari saja orang yang memasukkan si ayam ke dalam botol agar dia mengeluarkannya.”

Kelas pun bergemuruh dengan tawa para murid. Kemudian hening kembali.

Sang guru lalu berkata, “Benar! Itulah jawabannya! Hanyalah orang yang memasukkan si ayam ke dalam botol yang bisa mengeluarkannya. Begitu pula dengan kalian! Kalian telah memiliki konsep bahwa bahasa arab itu sulit. Tidak peduli bagaimana saya menjelaskan dan mencoba membuatnya lebih mudah, maka tidak akan berhasil. Siapapun tidak dapat membantu kalian. Kecuali jika kalian semua melepaskan anggapan tersebut sebagaimana kalian telah menyetelnya di dalam pikiran kalian tanpa bantuan siapapun.”

***

Demikianlah kisah tentang ayam di dalam botol. Berapa banyak ayam yang telah kita masukkan ke dalam botol pikiran kita?

Maka tidak satupun di dunia ini susah, jika kita mendahulukan iman kepada Allah. Lalu bangun konsep dalam pikiran kita bahwa tidak ada yang sulit, kecuali kemauan kita yg membuatnya sulit. Buatlah konsep yang mudah. Maka semua hambatan dan masalah akan mudah diatasi.

Dengan demikian kita semua dapat mengeluarkan ayam dari dalam botol.

***

View on Path


هل تتكلم العربيه

12 Maret, 2014

1.

“هل تتكلم العربيه؟”

Seseorang tiba-tiba memberi salam kepada saya yang sedang berjalan di pelataran Masjid Nabawi dan bertanya dengan pertanyaan tersebut. Tergagap, saya pun menjawab, “I am sorry, أنا لا أتكلم العربية”

Orang itu tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih dalam bahasa arab dan pergi meninggalkan saya. Saya mengira dia hendak menanyakan sesuatu namun tidak jadi karena saya tidak berbahasa yang sama dengannya.

2.

Lain waktu saya menghadiri majelis tahsin alquran setelah subuh dibimbing seorang syaikh. Setiap hadirin selesai membaca, syaikh mengomentari dan bercakap sebentar dengannya. Pada giliran saya membaca beliau menyimak dengan saksama, kemudian mencukupkan bacaan saya dan bertanya, “جيد ، هل أنت أندونيسي؟”

Terkesima, saya pun menjawab, “نعم، أنا اندونيسي”

Beliau tersenyum dan mendoakan keberkahan lalu beralih kepada giliran berikutnya.

3.

Usai mengikuti pengajian tafsir Juz Amma berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi yang dibawakan oleh Ustaz Firanda, seorang pemuda mendatangi saya dan bertanya, “Excuse me, in what language the talk was presented?” Saya pun menjawab pertanyaannya dengan bahasa Inggris dan terjadi percakapan beberapa saat dengannya. Pemuda yang berasal dari suatu daerah di Turki itu tidak terlalu fasih berbahasa Inggris namun kami berusaha saling memahami.

4.

Pada kesempatan saya menghadiri majelis taklim bada magrib di Masjidil Haram, saya berharap dengan beraneka ragamnya peziarah mendapati orang yang saya dapat berkomunikasi dengannya. Saya membuka pertanyaan dengan orang yang duduk di samping saya, “Excuse me, who is the sheikh who was giving a lesson?” Orang itu pun menjawab, “باللغة العربية، من فضلك”

Saya kaget, lalu bertanya dengan terbata-bata, “ما هو اسم الشيخ؟” Orang itu pun menjawab, “أنا لا أعرف؟” Kami pun kembali menyimak pelajaran tanpa berpanjang kalam.

5.

Setiap waktu salat berjamaah yang saya hadiri di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, saya merasa bersyukur dapat menjadi salah seorang makmum. Menikmati kesyahduan lantunan qiraah para imam yang  selama ini bacaannya hanya didengar melalui rekaman. Namun untuk menghayatinya sepenuh hati, barulah pada ayat-ayat yang sering saya dengar atau yang saya hafal dan diketahui maknanya.

6.

Suatu ketika saya mengunjungi maktab atau perpustakaan yang berada di sisi barat Masjid Nabawi. Melihat koleksi buku-buku yang terpampang di sana, terbayang betapa banyak pengetahuan yang tersedia dan siap untuk dibaca oleh para penuntut ilmu. Saya memindai setiap rak mencari-cari buku yang dapat saya baca. Hati dan perasaan saya bergolak, tak terasa saya pun menitikkan air mata. Mendapati diri ini tak mampu memetik sedikitpun faidah dari ribuan buku yang ada, hanya karena kemampuan berbahasa yang minim.

7.

-epilog-

Dari Hasan Al-Bashri, beliau pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang suatu kaum yang belajar bahasa arab?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang baik, karena mereka mempelajari agama nabi mereka.”


good night, sleep tight

7 Maret, 2013

goodnightGood Night, Sleep Tight” adalah frasa yang biasa diucapkan kepada orang-orang yang beranjak tidur oleh kebanyakan orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Frasa tersebut juga sering menjadi judul buku anak-anak yang berisi cerita-cerita pengantar tidur. Walaupun frasa “good night” sudah lazim digunakan sebagai ucapan selamat tidur, tambahan frasa “sleep tight” sendiri baru dikenal penggunaannya pada awal abad ke-20. 

Tanpa bermaksud mencari-cari hubungannya, ternyata di dalam dunia Islam, sudah mengenal frasa yang mirip dengan itu. Namun sayangnya cukup mengerikan jika kita tahu siapa yang memopulerkannya pertama kali. Hadits berikut memaparkannya dengan jelas:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan, jika dia berwudhu maka lepaslah tali yang lainnya, dan jika dia mendirikan shalat maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek dan menjadi malas beraktifitas”.[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Namun apakah dengan demikian عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ yang berarti “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak” dapat diartikan sama dengan “Good night, Sleep tight“?

Wallahu ta’ala a’lam.

Bagaimanapun, beberapa faidah yang dapat dipetik dari hadits tersebut diantaranya adalah:

  1. Kita dikabari hal ghaib oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– yaitu bahwa setan mengikat tengkuk orang yang tidur dengan tiga tali ikatan.
  2. Setiap kali mengikat talinya, setan membisiki dengan ucapan عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ
  3. Untuk melepas ikatan tali setan tersebut, hendaklah ketika bangun kita berzikir kepada Allah diantaranya dengan doa bangun tidur:Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :إذا استيقظ أحدكم فليقل : أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِيْ، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklah ia membaca : ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan ‘afiat kepada tubuhku, mengembalikan kepadaku ruhku, dan memberikan ijin kepadaku untuk kembali berdzikir kepada-Nya”. [HR At-Tirmidzi]

  4. Untuk melepas ikatan tali yang kedua adalah dengan berwudhu, dan untuk melepas tali yang ketiga adalah dengan melakukan shalat minimal 2 rakaat dilanjutkan shalat witir jika ia belum mengerjakannya sebelum tidur.
  5. Dengan melakukan aktivitas tersebut, selain melepas ikatan tali setan, bermanfaat untuk menyegarkan dan semangat yang berdampak kepada ketentraman jiwa.
  6. Lalai mengerjakan hal-hal tersebut akan membuat jiwanya jelek dan tidak bersemangat dalam beraktivitas.

Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mendawamkan amalan yang ringan namun berdampak luar biasa bagi aktivitas kehidupan dan penghidupan kita tersebut. Wallahu waliyyut taufiq.


%d blogger menyukai ini: