uang lebaran

8 Agustus, 2014

Lebaran adalah masa bersuka cita, termasuk bagi kanak-kanak. Bertemu sanak saudara dan handai tolan meramaikan silaturahim. Turut pula momen bagi-bagi uang lebaran. Uang cetakan terbaru dengan nilai mata yang beraneka dikumpulkan satu persatu dari paman, bibi, kakek dan nenek.

Sebagaimana kanak-kanak lain memanfaatkan uang lebaran untuk membeli benda kesukaannya, begitupun anak kami. Setelah selesai menghitung dan memilah pendapatan masing-masing, Toys Kingdom di Living Plaza Cinere menjadi pilihan jitu tempat membelanjakan uang lebaran.

Sebelum berangkat, Baba dan Bubu mengingatkan anak-anak agar memilih mainan hanya yang paling disukai dan mencermati harganya. Baba atau Bubu tidak akan menomboki jika harga mainan lebih besar daripada uang lebaran yang dikumpulkan, tetapi mereka boleh berutang jika perlu.

Di toko anak-anak langsung menuju rak mainan. Athiya, 3 tahun, memilih mainan boneka bayi 1 set dengan perlengkapan mandi serta stiker. Tsuraya, 6 tahun, memilih 1 set boneka barbie, 1 set boneka penata rias dan rambut, dan pola pakaian barbie. Sedangkan Radya, 8 tahun, memilih 2 set lego hero factory dan 1 set megablocks hotwheels.

Setelah yakin dengan pilihannya, anak-anak menuju kasir untuk membayar dengan uang lebaran masing-masing. Penggenapan kembalian per seribu rupiah disumbangkan untuk sedekah anak yatim, kerja sama antara Toys Kingdom dengan PKPU. Celotehan riang anak-anak tentang rencana mereka dengan mainan yang baru saja dibeli pun mengiringi perjalanan pulang ke rumah.


angry birds dan barbie

13 Februari, 2013

14054638_121010143000Akhirnya tidak tahan juga Radya ingin membelanjakan uang tabungannya. Ketika diajak ke Living Plaza Cinere untuk membeli knock down shelf di Ace Hardware, mampir dulu ke Toys Kingdom untuk melihat-lihat mainan yang bakalan dibeli. “Oke, kalian mau belanja mainan?” tanya Baba disambut anggukan oleh Radya dan Tsuraya yang mulai merengek juga minta dibelikan mainan. “Kalian bawa uang?” Baba bertanya dan dijawab dengan gelengan, kemudian Baba berkata, “Bagaimana kalau hari ini kalian melihat-lihat mainan yang akan dibeli lalu beberapa hari lagi kita datang untuk berbelanja.” Dengan gembira mereka berdua menyahut, “Asyik!” Buru-buru baba menambahkan, “Tapi…, belanjanya pakai uang tabungan kalian dan hanya belanja 1 buah mainan setiap orangnya. Bagaimana?” Radya dan Tsuraya berpandangan lalu bertanya, “Boleh beli mainan apa aja, Ba?” Baba mengangguk setuju kemudian Radya menjawab, “Boleh deh, kan uangnya masih bisa ditabung, ya Ba?”

Di rumah, Radya sudah merencanakan untuk membeli mainan Angry Birds, Tsuraya juga berencana membeli Barbie. Hampir tiap hari membicarakan mainan angry birds dan barbie hingga hari yang dinanti pun tiba. “Ba, kita bawa HotWheels ya,” kata Radya, “buat dimainkan di treknya.” Sesampai di Toys Kingdom, langsung menuju trek HotWheels, sayang cuma bawa 1 mobil-mobilan. “Habisnya tadi HotWheels yang satunya lagi dimainin Tsuraya dan gak kebawa waktu pergi,” Radya menjelaskan. Kemudian Radya melihat-lihat mainan Transformer, senapan mainan, dan sebagainya. Tsuraya juga melihat-lihat mainan anak-anak perempuan, alat make-up, glitters, boneka bayi dan Barbie. Mulanya Tsuraya berminat dengan boneka bayi yang bisa gosok gigi, pipis dan ganti popok, namun ketika pramuniaganya memeragakan menyikat gigi bayi yang putih dan bertanya kepada Tsuraya, “Coba lihat gigi, Kakak!” ia pun mengurungkan niatnya membeli boneka bayi tersebut.

Radya datang membawa kotak mainan Angry Birds yang diincarnya dan menagih uangnya untuk membayar di kasir sementara Tsuraya masih memilih boneka Barbie yang ingin dibeli. Masing-masing dari mereka membawa beberapa lembar uang Rp100 ribuan yang Baba ambil dari uang tabungan mereka kemudian menyerahkannya kepada kasir untuk membayar mainan. Bubu bersama Athiya yang sedari tadi turut menemani berbelanja berkata, “Rawat baik-baik mainannya, ya. Setiap kali selesai bermain jangan lupa membereskan dan menyimpannya kembali.” Radya bertanya, “Besok boleh beli mainan lagi, Bu?” Bubu tersenyum dan menjawab, “Boleh, tapi nanti 6 bulan lagi. Sekarang uangnya ditabung lagi, sehingga cukup untuk belanja mainan 6 bulan kemudian.”


bertukar bangku?

16 Mei, 2010

Penataan bangku kelas Economy pesawat A380-800 dari Singapore ke London adalah 3-4-3, saya memilih duduk di kolom kiri pada sisi gang, pada sisi jendela duduk seorang perempuan Inggris yang bekerja sebagai dokter anak dan perempuan di Bangladesh. Antara bangku saya dan dia tidak ada satupun yang menempatinya hingga pintu pesawat ditutup. Bangku kosong itu dapat kami gunakan untuk menaruh barang-barang, atau menaruh kaki ketika tidur.

Pada kolom tengah di deretan terdepan setelah toilet ataupun galley diperuntukkan bagi keluarga yang membawa bayi, sehingga dapat ditaruh di bassinet apabila pesawat telah mengudara. Sebuah keluarga kecil duduk di sana, para pramugari menaruh perhatian kepada mereka. Bayi mereka yang berusia kurang lebih 1,5 tahun tertidur di pangkuan ayahnya. Karena ukuran bassinet yang tersedia lebih pendek daripada panjang si bayi.

Pramugari berinisiatif mencari solusi dengan menawarkan pertukaran bangku pada penumpang lain yang terdapat bangku kosong di antara 3 bangku, supaya si bayi mendapat bangku tersendiri. Pramugari menawarkan kepada saya dan perempuan di sebelah saya untuk bertukar, dengan mengatakan bahwa bertukar bangku bukan sebuah kewajiban. Sebenarnya saya tidak berkeberatan jika bertukar bangku. Namun perempuan di sebelah saya memperlihatkan keengganannya. Jadi akan tidak bermanfaat juga apabila hanya saya yang bertukar. Pada akhirnya keluarga kecil tersebut mendapat tempat di kolom kanan.

Saya kira alasan ekonomilah yang membuat keluarga kecil itu memesan 2 bangku: untuk ayah dan ibunya saja. Dan mereka berpikir anaknya dapat dipangku ketika tertidur dan dapat bermain di lantai ketika terjaga. Alasannya biaya bangku kelas Economy untuk penerbangan jarak jauh masih terbilang mahal. Jadi bagi beberapa orang keluarga itu telah mengorbankan kenyamanan, maka sudah sepantasnya mendapat fasilitas sesuai yang telah dibayarkan. Keberuntungan bagi mereka bahwa pesawat ini tidak terisi penumpang sepenuhnya sehingga masih terdapat bangku kosong yang dapat mereka tempati lebih layak, dan terdapat orang-orang baik hati yang mau bertukar bangku.

Saya kemudian menyangka-nyangka dokter anak dan perempuan macam apa perempuan yang duduk di sebelah saya karena enggan memberikan fasilitasnya kepada keluarga kecil dengan seorang bayi?


%d blogger menyukai ini: