17 Trip 4

18 April, 2006


[pob.01.04] up to FPSO, room 517. Classroom maintenance. Exercise.

Jam 6 ½ kami terbang dengan helikopter ke FPSO, perjalanan kedua kami ke fasilitas mengapung terbesar di Indonesia itu. Kami ditempatkan di kamar 517. mengingat pengalaman kunjungan sebelumnya, kami meminta kepada koordinator kegiatan offshore agar materi yang disampaikan kepada kami dipadatkan dalam waktu satu pekan saja. Siang itu kami belajar sistem maintenance bersama pak Taufik Hidayat.
[pob.02.04] morning meeting. HSE weekly meeting. Touring maintenace. Pindah kamar 416 & 411.

Setelah morning meeting, disampaikanlah laporan mingguan HSE dan memberi penghargaan untuk pekerja yang aware terhadap HSE. Pak Michael Louis menyampaikan cara penggunaan breathing apparatus untuk penyelamatan diri.
Pagi itu ditemani pak Taufik dan pak Yusuf, kami melakukan touring untuk peralatan yang menjadi objek maintenance.Melalui telepon, kami diberitahu untuk berpindah kamar tidur, saya dan bagus ke 416, sedangkan bayu ke 411. Kami bersyukur atas perpindahan kamar ini, karena di kamar baru ada pesawat telepon, yang memudahkan kami melakukan komunikasi dengan keluarga lebih dekat.

[pob.03.04] morning meeting. Alarm drill. Classroom maintenance planner. PROPER Preparation report. Classroom System overview. Sickbay.

After morning meeting, alarm drill was broken, we gathered in our muster station and waiting for commander’s instructions. And dismissed when its over. Today our classroom subject is about maintenance planner with pak Madi Hakim and pak Agus Supriyanto.

In the afternoon, we follow the PROPER Preparation Report meeting. The Preparation Team had been conducted inspection to meet PROPER requirements since Saturday to Monday and asked to give report of their foundings and suggestions to the champions of FPSO.

After coffeebreak, we continue our classroom with System Maintenance team, lead by pak M Yusuf, followed by pak Bagus Wibowo, pak Deden and also pak Yasid from Honeywell.

When the class over, I came to the sickbay to have consultation with dr Ketut Karnala about the allergic indications.

[pob.04.04] morning meeting. Business audit opening.

Today, the unit business team come to conduct a Tier-2 Audit for FPSO. Not much we can do, because everyone is busy, so we just keep ourselves in business.

[pob.05.04] morning meeting. Classroom POB management.

Let’s have a tidy workplace!
The slogan was campaigned by the manager, to remind the workers to keep the cleanliness and tidiness of FPSO.

Pak Luki Tjahjadi gave us POB Management System as our classroom subject.

[pob.06.04] morning meeting. Warehouse touring. Marine and services overview. Classroom maintenance mechanic. Exercise.

After morning meeting, we met pak Tony Jujur to give us warehouse touring. Then we came to pak Peter Pattihahua and Capt. Dwiyono for Marine and services overview. In the afternoon, pak Wardoyo give us a lesson for mechanic maintenance.

In FPSO, almost everyday for more than one hour, we use the gym for exercise. To maintain our body mass and keep healthy.

[pob.07.04] mentoring program. Presentasi.

In the forenoon, we met Troy Jenkins and pak Tresna Lesmana to have discussion about mentoring program. And we have some suggestions for the program, as our commitment to develop national workers competencies.

n Mentoring program from expatriates
• Mentoring mandate information
• Guidance of implementation, curriculum & achievement target of mentoring
• Assessment of the program successfulness & reporting supported by documentation & certification
• Commitment from mentor & mentee for mentoring program under Manajemen (FM or DFM) supervision.
• Intensify open communication & feedback between mentor and mentee

n Recruitment program
• Provide equal opportunity for fresh graduate and expertized personnel with proporsional precentage to ensure continuous knowledge transfer.

At about 7 ½ pm, we were asked to give presentation for what we’ve get and take from the FPSO and also we were asked to give ideas and knowledges about the concept of oil and gas production sharing contract.

**

Iklan

09 Trip 2-2

26 Maret, 2006

[pob.20.02] morning meeting. Classroom for HSE Programs and Process Design Overview of FPSO.Dalam morning meeting di FPSO ada agenda yang disebut sebagai safety talks. Berhubung masih banyak orang asing yang bekerja di FPSO ini, the communication is conducted in English language especially for meetings. It’s not bad; as we can improve the capability of these workers in speak English as foreign language. Back to safety talks, juga disampaikan dalam bahasa Inggris. Setiap hari pembicaranya berbeda dari para pekerja dan sudah dijadwalkan dengan rapi.Agenda safety talks merupakan salah satu program dari HSE. Di antara program lainnya adalah sosialisasi prosedur, program championship, program weekly safety leader, audit, fire drill, dan safety training & observation program (STOP).

STOP menjadi tolok ukur keberhasilan penerapan HSE pada pekerja. Kegiatan STOP sendiri adalah menghentikan pekerjaan, memulai pemindaian keadaan dan potensi bahaya, melakukan intervensi, dan mencatat dalam kartu STOP. Kriteria pengisian kartu STOP yang baik harus memenuhi sebesar apa kewaspadaaan dan apa yang dilakukan untuk mengatasi potensi bahaya tersebut, baik kepada alat maupun orang. Setiap orang yang mengetahui dituntut untuk membuat kartu STOP.

Permasalahan laten yang harus diwaspadai oleh HSE advisor dan safety leader adalah ketika kartu STOP banyak dibuat oleh para pekerja dapat berarti tingkat kewaspadaan tinggi atau tingkat potensi bahaya tinggi, sedangkan ketika kartu STOP sedikit dibuat dapat berarti tingkat potensi bahaya rendah atau para pekerja sudah mulai lengah. Oleh karena itu, media safety talks dan safety campaign menjadi perhatian untuk terus mengingatkan para pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman.

Setelah pak Agung Djatmiko menyampaikan materi kelas mengenai HSE program, pak Ramli Pakeh sebagai superintendent operasi mengajarkan desain proses pabrik gas di FPSO.

Mengikuti materi yang disampaikan oleh pak Ramli, ingatan saya melayang ke masa kuliah dulu. Sebagai mahasiswa Teknik Gas dan Petrokimia, salah satu mata kuliah wajib adalah Pengolahan Gas. Kembali saya teringat tentang proses pengolahan gas alam sehingga menjadi liquified natural gas (LNG) dan LPG yang keduanya merupakan NGL (natural gas liquid).

LNG adalah Gas Bumi yang terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu sangat rendah (sekitar minus 160º C) dan dipertahankan dalam keadaan cair untuk mempermudah transportasi dan penimbunan. Sedangkan LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.

Di dalam FPSO proses pengolahan gas alam menjadi NGL mengalami beberapa perlakuan, yaitu:

  • Amine contactor sebagai alat untuk menghilangkan kandungan H2S pada gas alam
  • Mercury guard bed sebagai alat untuk menghilangkan kandungan merkuri
  • Mol sieve dehydration sebagai alat untuk menghilangkan kandungan air
  • Cryogenic Expander plant sebagai alat untuk memperoleh kandungan etana yang tinggi

LNG yang dihasilkan oleh FPSO utamanya untuk ekspor, dan sebagian digunakan sebagai fuel gas dan injeksi sumur. Gas injeksi bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir. LPG yang dihasilkan oleh LPG plant akan ditampung pada FSO untuk LPG yang sedianya baru dioperasikan akhir tahun ini.Dari hasil perbincangan, diketahui bahwa FPSO masih membutuhkan tenaga kerja insinyur proses untuk dapat menghitung dan menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi di FPSO. Tertarik dengan tantangan ini, sempat tergiur juga untuk mencicipi pekerjaan di lepas pantai. Apalagi mendapat sinyalemen dari kantor agar saya belajar apa saja yang dapat mengembangkan kemampuan saya, barangkali dibutuhkan untuk masa depan. Who knows?[pob.21.02] morning meeting. Safety initiatives.

Tak banyak yang dapat diceritakan, sebagian besar pembicaraan mengenai safety sudah diungkap di atas. Saya malah ngeblog dan mulai menulis for dummies seri safety hehehe..

[pob.22.02] morning meeting. Kerja bakti suplai makanan. Management of change presentation.

Ada kerja bakti mengangkut bahan makanan dari container ke gudang dapur. Container terletak di section P2 dan S2 sedangkan gudang dapur berada di section 8 dan di level 2 living quarter. Untuk mencapai level 2, menggunakan tangga 1 level dari deck. Teman-teman yang di bekerja di container, mengeluarkan barang-barang dan menempatkannya ke dalam trolley, ada 3 trolley yang digunakan untuk mengantarkan barang sebanyak 2 container ke dekat gudang. Teman-teman yang di dekat gudang membentuk barisan untuk mengoper barang-barang dari deck ke level 2 diteruskan ke gudang.

Wah, pekerjaan hari itu menyenangkan sekaligus melelahkan.

Presentasi management of change sebagai sosialisasi kepada para leader bahwa setiap pekerjaan yang merubah desain harus dilakukan prosedur MOC.

[pob.23.02] tier-1 audit, housekeeping.

Diajak melakukan audit hosekeeping, dibagi dalam 3 team. Tim pertama ke level 2 gas plant, tim kedua ke level 1 gas plant, dan tim ketiga ke warehouse dan workshop.

[pob.25.02] PTW Review in morning meeting. Power management system with Rahmad Syamsudin.Permit to Work (PTW) merupakan dokumen resmi yang memastikan pekerjaan yang dilakukan sesuai prosedur dan telah mengidentifikasi kaitan dengan unit proses maupun pekerjaan lain serta meminimalisasi potensi bahaya. Prosedur PTW harus dilakukan dengan baik dan dokumen pendukungnya lengkap untuk mempermudah evaluasi.[pob.26.02] electricity touring.

Setelah belajar mengenai power management system pada hari kemarin, kami melanjutkan dengan touring melihat fasilitas pembangkit listrik dan ruang control yang memasok kebutuhan listrik seluruh FPSO. Berbahan bakar gas alam yang sudah diproses di gas plant, menghidupkan generator dan memasok kebutuhan listrik sesuai dengan daya yang dibutuhkan oleh alat-alat di fasilitas. Selain generator gas, FPSO juga memiliki cadangan generator diesel sebagai pendukung saat darurat.

[pob.27.02] Gas export process, operation touring and PTW system at control room with Fujiono.

Pak Ramli sulit ditemui untuk mengajar, beliau disibukkan oleh pekerjaan dan rapat-rapat. Posisinya sebagai superintendent membuat beliau sangat dibutuhkan. Hari itu beliau sangat sibuk, untunglah beliau telah mendelegasikan tugas mengajar kami kepada pak Fujiono.

Bersama dengan beliau kami mendalami proses pengolahan gas ekspor yang dilakukan di FPSO. Setelah cukup memberi pengantar, beliau mengajak kami melihat sosok unit proses secara langsung, menelusuri alur proses dari high pressure separator hingga gas export compressor. Setelah makan siang, kami bertemu kembali untuk mempelajari prosedur dan dokumen PTW.

[pob.28.02] offloading process

hari itu ada tanker yang merapat di single buoy mooring (SBM) untuk membeli minyak dari FPSO. Sebelum proses offloading dimulai, para leader bertemu dan membicarakan pre-job safety. Lamanya offloading proses berlangsung sesuai dengan jumlah barrel yang ditransfer dan kecepatan pompa. Untuk akurasi metering, dilakukan di dua tempat yaitu di tanker penerima dan di tanki pengirim, serta dilakukan running test setiap segmen untuk memastikan kesesuaian jumlah dan komposisi minyak yang dijual.

[pob.01.03] wellhead process with Dody Yuhanes

tidak sempat mengunjungi wellhead platform (WHP) karena kesibukan mentor di FPSO, membuat kami belajar mengenai proses yang terjadi di WHP hanya dari layar monitor di ruang kendali.

[pob.03.03] presentation

sebagaimana trip pertama, di akhir trip kedua ini kami diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai hasil observasi dan learning kami mengenai proses operasi produksi, kendala dan usulan untuk FPSO. Kemudian diskusi dilanjutkan mengenai partnership antara perusahaan minyak dengan badan pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta konsep kontrak kerja sama yang dibangun oleh keduanya.

Kali ini audiens presentasi kami tidak hanya dari para leader, para pekerja dan pihak ketiga yang berminat dipersilakan untuk hadir. Presentasi yang berlangsung selama 2,5 jam itu berjalan seru dan hidup.

[pob.04.03] down to Matak.

Akhirnya selesailah masa trip kedua kami. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan ini, setiap orang diperbolehkan berada di fasilitas produksi maksimal 21 hari dan diberikan masa berlibur minimal 7 hari dalam sebulan. Di awal masa OJT ini kami diberitahu bahwa masa “on” adalah 2 minggu dan masa “off” adalah 1 minggu.

Namun ketentuan perusahaan kami mengenai OJT bahwa peserta OJT tidak diperkenankan kembali ke republik Jakarta (pulau Jawa) selama masa OJT. Sehingga masa “off” kami harus dihabiskan di pulau Matak dan sekitarnya. Banyak hal exciting yang dapat kami alami selama berlibur di pulau Matak, yang tentu saja tidak mudah diperoleh jika kami berlibur di kota.

Teman-teman yang mendapatkan OJT di onshore, memanfaatkan waktu libur di kota propinsi terdekat dengan lokasi OJT. Sedangkan kami, bergumul dengan perahu, air laut, pulau-pulau, hutan dan bukit.

Helikopter yang akan menjemput kami kembali ke Matak, akhirnya datang sore setelah ditunggu sejak siang dan membuat kami sampai di Matak menjelang magrib.


08 Trip 2-1

14 Maret, 2006

Jam 5 ½ pagi, telepon di kamar berdering, membangunkan kami yang masih kelelahan. Suara di seberang telepon meminta kami cek in di bandara untuk keberangkatan jam 6 pagi. Walah!!! Pagi yang sangat sibuk, tak sempat sarapan, setelah mandi dan salat subuh, kami lakukan finishing pada packing barang-barang kami. Kemudian ijin kepada pak asep bahwa kami berangkat pagi itu.Tujuan kami pada trip 2 ini adalah fasilitas floating production, storage & offloading (FPSO) yang berada di Eastern Hub Operation.[pob.18.02] up to FPSO. Orientation.

Di FPSO kami disambut dengan program orientasi yang terjadwal, wah rupanya mereka lebih siap menerima kami. Pagi itu setelah meminta waktu untuk sarapan, kami mulai orientasi di ruang TV yang dijadikan sebagai classroom. Dibuka pengantar oleh pak Ian McCulloch sebagai field manager, dilanjutkan pengenalan FPSO oleh pak Nurzaini Maksum. Siang harinya tour melihat-lihat fasilitas FPSO.

Resiko yang nyata dihadapi para pekerja di FPSO ini selain keberadaannya di tengah laut, adalah kebocoran gas beracun dan merkuri. Gas beracun H2S berasal dari sumur gas sedangkan kandungan merkuri berasal dari sumur minyak. Dengan kondisi ini, setiap pekerja dibekali detector gas beracun portable, dan diharuskan menerapkan standar tinggi untuk kesehatan. FPSO dilengkapi fasilitas alarm yang sensitive terhadap percikan api dan kebocoran gas.

[pob.19.02] morning meeting. Fire drill. Classroom HSE Management System. Bypass Review Meeting. ERP Meeting. Toxic Gas Detect at about 9 pm go to muster station.

**

Morning Meeting

Seperti halnya di fasilitas operasi lainnya, di FPSO ini setiap pagi dilakukan morning meeting yang bertujuan sebagai sarana komunikasi dan informasi dari, oleh dan untuk para pekerja. Hal-hal yang disampaikan dalam morning meeting adalah:

Isu-isu yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (HSE).
Isu-isu yang berhubungan dengan kebijakan manajemen, baik dari kantor pusat maupun dari operasi di lapangan.
Permasalahan, kemajuan, pesan dan saran, serta solusi yang berkaitan dengan pekerjaan.

Sebagaimana namanya morning meeting menjadi sarana efektif di awal hari kerja, sehingga para pekerja dapat menjalankan pekerjaannya dengan rasa aman, nyaman, waspada, dan senang.

**

Fire Drill for your reminder

Setiap orang yang baru naik ke fasilitas operasi akan diperkenalkan dengan peraturan yang berlaku di lingkungan kerja, di antaranya adalah pengenalan bunyi alarm dan muster point (tempat berkumpul yang aman), dan diberikan kartu personal yang berisi informasi penting. Tidak cukup hanya mengenal bunyi alarm di awal trip, setiap orang berpotensi untuk melupakannya sehingga dilakukanlah latihan alarm untuk berbagai kondisi seperti alarm kebakaran, alarm deteksi gas beracun, dan alarm meninggalkan platform.

Dengan dilakukan latihan alarm setiap kali trip, diharapkan para pekerja waspada dalam keadaan darurat, berjalan dengan tenang menuju muster point, membalikkan kartu personel (T-Card) milik sendiri, mengenakan life jacket, dan menunggu perintah komandan darurat. Untuk beberapa kondisi, latihan juga dilakukan dengan menjalankan mesin lifeboat dan memasukinya, latihan penanganan orang terjatuh ke laut (men overboard), dan latihan penanganan tumpahan minyak atau bahan-bahan berbahaya.

**

Toxic Gas Detect.. toxic gas detect..

Hari itu, setelah mendapatkan materi kelas mengenai HSE management system yang diaplikasikan di lingkungan perusahaan kontraktor tempat kami melaksanakan OJT, kami diajak berpartisipasi dalam beberapa meeting seperti bypass review dan table top.
Bypass review membahas pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai, ditunda, maupun dialihkan. Karena bersifat review, meeting ini cukup singkat. Detil pembahasan dilakukan oleh masing-masing bidang pekerjaan.Table top adalah meeting yang dihadiri oleh para leader seperti para supervisor, kapten, field manager, dan dokter. Pada hari itu table top dilakukan sebagai pengganti latihan men overboard karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Bahasan table top kali ini adalah rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan – ERP). Masalah tumpahan api di laut menjadi tema pembahasan ERP. Meeting berjalan dengan cukup baik dan hangat.

Malam harinya, ketika mata mulai mendapatkan posisi ternyaman dalam terpejamnya, terdengar sayup nada dari speaker. Didengarkan lebih saksama ternyata bunyi alarm deteksi kebocoran gas beracun. Kami segera bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan kamar 515 untuk menuju muster point di lantai 2. Setelah membalikkan T-Card masing-masing, kami bersama para pekerja lainnya menunggu informasi dari komandan. Beberapa saat kemudian terdengar pemberitahuan komandan bahwa isu alarm dapat dikenali dan hanya berupa false alarm, para pekerja di muster point dipersilakan kembali melakukan aktivitas masing-masing.

Menegangkan, bekerja di fasilitas lepas pantai dengan resiko tinggi seperti ini. Pantas teman-teman pekerja mendapatkan tunjangan resiko yang tinggi disamping tunjangan lain-lain dari perusahaan mereka. Sedangkan kami yang sedang melaksanakan OJT ini, hanya mendapatkan uang saku yang tidak besar.

(mungkin gak ya, kami dapat memperoleh tunjangan resiko dari perusahaan kami jika mereka tahu kondisi seperti ini? :D)

*


%d blogger menyukai ini: