berbagi: bertukar bahagia

17 Agustus, 2014

image

ketika pembagian hadiah hiburan, anak-anak segera membuka bungkus dan mendapatkan satu set alat tulis dengan berbagai motif. sementara anak-anak lain membuang bungkusnya sembarangan, radya dan tsuraya diingatkan agar menyimpan atau membuangnya di tempat sampah.

radya mendapat set alat tulis bertema angry bird berwarna kuning. tsuraya mendapat set bertema cars berwarna merah. mereka saling bertukar hadiah. beberapa saat kemudian, radya datang dengan set bertemakan spiderman berwarna merah. set cars miliknya sudah ditukar dengan kawannya.

tsuraya pun datang meminta set angry bird kuning miliknya yang dititipkan pada baba lalu membawanya pergi. terlihat ia mendekati seorang anak laki-laki yang sedang jongkok bersedih memegangi hadiahnya. tsuraya menawarkan pertukaran dengannya sehingga anak laki-laki itu pun gembira.

tsuraya kembali kepada baba dengan riang dan menunjukkan set alat tulis bertema barbie berwarna merah muda hasil barter, sambil berkata, “dia bilang terima kasih.”


kita harus berbagi

10 Mei, 2013

Radya (7), Fikri (6), dan Zaydan (3) sedang bermain balok-balokan “City Blocks” membuat karya arsitektural mereka untuk difoto dan dipamerkan di facebook ortunya. Ketika Zaydan merebut balok Fikri dan membuat kakaknya marah, mereka pun bertengkar. Radya berupaya menengahi, “Fikri sama Zaydan jangan berebutan, ini balok-balokan bisa dimainin berdua, kita kan harus berbagi, ya!” Meredalah pertengkaran itu walau masih nampak sungut di wajah keduanya. Tiba-tiba, Athiya (1.5) menghampiri mereka dan menendang karya Radya yang kemudian tak mampu berkata-kata melihat karyanya yang hancur berantakan dan belum sempat difoto. Zaydan pun tertawa melihat hal itu, Fikri tertawa, Athiya tertawa dan Radya ikut tertawa. 😀


rumah bibi berantakan

7 Maret, 2013

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***


Sandal kelinci

28 Februari, 2013

imageSejak awal Tsuraya tidak suka dengan sandal kelinci sehingga dibiarkan saja sandal tersebut menganggur begitu saja. Ketika adiknya, Athiya sudah mampu mengenakan sandal dan senang dengan sandal kelinci, Tsuraya menggugatnya.

“Itu kan sandal Aya!” sungut Tsuraya sambil berupaya merebutnya dari kaki adiknya. Athiya pun mempertahankan diri sambil mengerang, “Heeeh.”

“Sudahlah, Tsuraya. Nanti kalau adikmu bosan juga akan dilepasnya. Lagipula mana muat lagi sandal itu dengan kakimu?” ujar Bubu menengahi pertikaian.

***

“Baba mau ke mushala. Siapa ikut?” ajak Baba kepada anak-anak. Radya langsung beranjak pergi setelah berwudhu di rumah sedangkan Tsuraya meraih kerudungnya lalu segera mengenakan sandal kelinci incarannya yang sedang tidak dipakai Athiya.

Selesai salat, Baba tidak lagi mendapati Radya maupun Tsuraya di mushala. Tidak pula sandal Baba, hanya sepasang sandal kelinci tertinggal di halaman. Baba memungut sandal kelinci itu dan berjalan pulang tanpa alas kaki. Di jalan, Tsuraya mengadang tanpa kerudung dan memakai sandal Baba yang kebesaran untuk ukuran kakinya berkata,”Kok, Baba gak pake sandal?” Baba tersenyum, “Kan, sandalnya dipakai Tsuraya?”

“Kalau ayam ga pakai sandal, ya Ba?” tanya Tsuraya. “Iya, mana ada sandal yang pas untuk kaki ayam?” jawab Baba. “Baba, seperti ayam dong?” kata Tsuraya. “Heh, masa Baba harus pakai sandal kelinci? Mana muat?” Baba balik bertanya kepada Tsuraya yang disambut dengan ketawa, “Habisnya sudah kekecilan sandalnya, Ba.”

“Makanya Tsuraya kan gak perlu merebut sandal yang dipakai adik Athiya,” nasehat Baba, “sesuatu yang sudah tidak muat dan pas lagi buat kita, biarlah menjadi milik orang lain yang lebih membutuhkan dan lebih menyukainya.” Kemudian Tsuraya berkata, “Nanti Tsuraya dibelikan sandal kelinci yang lebih besar, ya?” :p


Menabung Air di Musim Hujan

19 Februari, 2010

Problem utama setiap musim panas adalah kurangnya pasokan air tanah untuk keperluan air rumah tangga. Sedangkan di musim hujan, isu banjir menjadi momok mengerikan, terutama bagi yang tinggal di dataran rendah atau daerah aliran sungai. Padahal banyak upaya yang bisa disiasati, tentu saja ada yang butuh dukungan dari para tetangga karena dampaknya akan kurang maksimal jika dilakukan sendirian. Berikut di antara upaya yang dapat dilakukan sebagai solusi atas problem tersebut.

1. Stop penggunaan jet pump

Alasan utama adalah, karena jet pump menguras cadangan air lebih cepat dan lebih banyak, sehingga potensi kekeringan menjadi lebih besar. Apalagi melihat kesalahan kaprah jika seorang tetangga menggunakan jet pump, maka 4 hingga 8 tetangga lainnya memasang jet pump.

Sebagai alternatif, gunakan pompa listrik biasa, atau jika perlu kembali menggunakan pompa tangan yang tetap dapat digunakan walau aliran listrik mati, sekalian berolahraga 🙂
Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: