saring sebelum sharing

20 Januari, 2015

Bagi atau tidak, mesti tabayun pada setiap berita yang kita terima.

View on Path


berita, menambah ataukah meringankan derita

5 November, 2010

49:6

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujuraat, 49:6)


informasi dan dusta

9 Februari, 2010

Sebuah ungkapan yang berbunyi: “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika ia menyampaikan semua yang didengarnya” [1] hendak mengatakan kepada kita bahwa dusta bukan hanya karena ketidakjujuran, namun barangkali kejujuran yang salah kaprah justru membawa kepada kedustaan. Seringkali informasi yang kita dapati dari orang lain bukanlah melulu kebenaran, oleh karenanya mekanisme cek dan ricek menjadi wajib jika kita merasa perlu menyampaikannya lagi. Jika sebuah berita yang kita dengar bukanlah hal yang perlu diteruskan, cukuplah kita membatasi diri dengan cara berdiam, mengabaikan bahkan melupakannya.

Baca entri selengkapnya »


kasus bullying dan pemberitaan lebay

15 November, 2007

(belajar dari kasus geng di sman 34) 

sejak kasus sman 34 jadi headline kompas minggu 11 november 2007 lalu, milis-milis dan forum online yang dikelola oleh alumni dan siswa sman 34 ramai dengan thread diskusi. ada yang bertanya-tanya, ada yang mengecam, dan ada yang mencoba mengurai permasalahan, ada yang mencoba mengklarifikasi, bahkan ada yang bersaksi mengenai kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang diketahui. tentu saja hal itu bermanfaat bagi keluarga alumni sman 34 karena mendapat informasi yang lebih valid daripada informasi berlebih-lebihan yang terdapat di media massa.

terus terang, pemberitaan “lebay” (baca: berlebih-lebihan) oleh media massa lebih sering berasal dari pihak “korban”, namun sedikit sekali yang berasal dari pihak “pelaku” atau counter part-nya. pemberitaan tidak seimbang akan membuat opini yang tidak sehat dan cenderung pointing finger kepada tersangka. padahal belum tentu semua yang diungkapkan oleh “korban” adalah kenyataan di lapangan. karena “korban” sendiri secara sadar lebih tepat menjadi korban dari persepsi dirinya sendiri atau pelapor (yang notabene adalah ayah “korban”).

ayah mana yang tak tergerak untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan keganjilan pada anaknya? tentu saja ini wajar. namun jika harus menjadi berita nasional yang dampaknya memperburuk citra sekolah, walaupun pada awalnya “hanya” berniat mengungkapkan adanya “geng” dan “kenakalan” remaja siswa sman 34 (dimana anaknya bersekolah), tentu saja ini menjadi berlebihan. apalagi dengan kelakuan aneh para pencari warta, yang pengen denger sendiri kesaksian “korban” akhirnya malah menjadi bumbu penyedap yang bikin gerah para alumni sman 34.

akhirnya ada beberapa alumni sman 34 menjadi informan para pencari warta, dengan maksud bermacam-macam. tentu saja “kepedulian” seperti ini diperlukan untuk mengembalikan citra positif sman 34. namun bukan aneh apabila ada saja oportunis yang justru memperburuk keadaan dengan membongkar kisah yang seharusnya hanya jadi “rahasia keluarga”. tanpa sadar pemberitaan yang semakin heboh ini menjadi perbincangan berbagai kalangan yang lebih luas, memperburuk keadaan dan tentu saja akan menguatkan eksistensi kepopuleran “korban” dan ayahnya.

dengar-dengar, gubernur dki akan makan es campur (baca: mendukung) “pembasmian” geng yang ada di sman 34 itu. waduh! benar-benar “lebay” !!!

apakah pak gubernur yang terhormat sudah selesai dengan program 100 hari mengatasi kemacetan dan banjir?

lalu apa langkah selanjutnya untuk kasus ini?
perilaku “kriminal” para tersangka memang patut ditindak secara hukum, namun asas peradilan yang berimbang harus mendampingkan para tersangka dengan bantuan hukum supaya mereka mendapat keadilan dari “fitnah” (baca: bumbu-bumbu berita) yang disebarkan media.

perlu ketegasan dari pihak sekolah mengenai sikap mereka menghadapi kasus semacam ini. sudah seharusnya pihak sekolah membangun kembali komunikasi yang baik dengan siswa. terus terang, munculnya geng dan kelakuan aneh siswa dapat saja dipicu oleh kebijakan sekolah yang menuntut teralalu banyak dari siswa, sedangkan potensi siswa sebenarnya tidak diapresiasi dengan baik oleh sekolah.

perlu dukungan lebih baik dari alumni sman 34 yang masih peduli untuk melakukan langkah nyata dalam memperbaiki “kaderisasi” kebaikan kepada para siswa sman 34 dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah, bahwa: “ini lho, para alumni berniat baik dan mendukung sekolah”.

perlu kebijaksanaan para orang tua siswa untuk melihat permasalahan lebih komprehen. bangun komunikasi yang positif dengan anak-anak mereka, sehingga tidak perlu “menunggu” tiga bulan untuk mengendus “keganjilan” perilaku anaknya. tindakan represif ortu kepada anaknya dapat menjadi sikap bullying, karena memaksa anak menuruti kehendak ortu. padahal secara fisik dan kejiwaan, usia sma sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang dewasa yang memiliki pemikiran dan pilihan sendiri. di sinilah peran ortu untuk mengarahkan, bukan memaksakan, supaya perjalanan hidup anaknya lebih mengarah positif dan bermakna.

terakhir, perlunya menghentikan ulah para pencari warta dalam membesarkan kasus internal keluarga sman 34 ini. karena ulah mereka sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, justru memperburuk keadaan. serahkan saja kepada pihak-pihak yang “bertikai” untuk berdamai. toh mereka bukan selebriti, selebriti seperti Roy Marten saja butuh privasi apalagi para pelaku kasus ini?

ah, tulisan ini hanya segelintir pemikiran dari seorang alumni sman 34.
[andi]


ketika FPI menolak pembongkaran

14 Maret, 2007

http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=34999

Dari berita di Metro TV ini diperoleh informasi bahwa aparat yang akan membongkar lokasi usaha Yayasan Al-Kautsar (YAK) dihadang oleh massa FPI. Berita ini menjadi perhatian saya, karena selama ini massa FPI identik dengan aksi perusakan lokasi usaha mesum dan esek-esek, sehingga membuat FPI dicap sebagai golongan perusak. Namun pada berita ini, malah FPI menghadang aksi pembongkaran oleh aparat.

YAK mendirikan lokasi usaha, terutama gelanggang Futsal di Jl. M Kahfi I, Jagakarsa. Beberapa waktu lalu usaha ini sangat laku keras, banyak pelajar dan masyarakat yang memanfaatkan fasilitas ini dengan baik dan nyaman karena rancangan lay outnya yang modern dan asyik. Usaha ini tentu saja menguntungkan, dan bisa menjadi pemasukan yang cukup besar bagi yayasan yang kabarnya membina pesantren dan anak-anak yatim piatu itu. Namun usaha ini tidak berjalan lama, karena ijin usaha sampai kemarin (12-Mar-07) belum diberikan oleh pemerintah kota jaksel dengan alasan menyalahi fungsi kawasan.

Dalam berita disebutkan bahwa perundingan buntu dan akhirnya FPI dengan sukarela secara simbolis membongkar bangunan yang telah mereka dirikan. Pernyataan ini membuat premis bahwa ada kaitan yang langsung antara YAK dengan FPI (walaupun secara dugaan sudah terkemuka di awal tulisan).

Bisa jadi YAK adalah yayasan yang dibuat oleh FPI untuk menunjang agenda dakwahnya, tentu saja dakwah amar makruf nahyi munkar. Hal ini menjadi penting karena selama ini lebih mudah bagi kalangan tertentu merusak fasilitas yang buruk daripada membangun fasilitas yang lebih baik. FPI boleh dikata telah berusaha membangun fasilitas kebaikan dengan YAK dan Gelanggang Futsalnya, dan ini adalah langkah maju yang harus mendapat apresiasi.

Dari Kampung Kandang hingga Tanahbaru, akan mudah sekali terlihat bahwa sepanjang jalan M Kahfi I ditempati oleh berbagai macam usaha, di antaranya pengrajin kayu, mebel, pombensin, minimarket, toko buah-buahan, pabrik konveksi, toko bahan bangunan dan klinik. Berbagai macam usaha itu sudah sejak lama menjalankan usahanya di sana. Kejelian YAK membangun gelanggang futsal terbukti dengan banyaknya pelanggan yang datang dan bermain futsal, oleh karenanya YAK mengurus perijinan usaha sambil membangun dan menyelenggarakan usahanya itu.

Alangkah aneh jika kemudian YAK tidak diberikan ijin karena menyalahi fungsi kawasan yang katanya seharusnya untuk perumahan itu.
Apakah ada sentimen tertentu? Tanya kenapa?


what a day…

7 April, 2006

Memperhatikan berita-berita di media massa serta keramaian di milis-milis mengenai undang-undang ketenagakerjaan, menggelitik perasaan untuk ikut melempar pandangan.

Kita memang harus menyadari bahwa pemogokan kerja akan mengurangi produktivitas perusahaan dan tentu saja ekonomi nasional. Namun revisi undang-undang buruh semakin membuka cover perlindungan buruh. Sejak dulu selalu saja ada kontroversi antara pengupah dan buruh. Ditambah lagi pemerintah kita yang terlalu keenakan menjadi pemerintah sehingga lupa bahwa dirinya pun adalah buruh negara.

Sebenarnya ada prinsip yang bisa kita gunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Buruh, pengupah maupun pemerintah adalah juga manusia yang memiliki hak dan kewajiban dalam hubungan mereka. Dan kita berharap hak dan kewajiban itu dijalankan dengan semestinya oleh ketiga pihak tanpa harus ada kepentingan dengki.

Sebagai buruh jangan hanya cukup untuk menjadi kacung, memenuhi kewajiban perusahaan harus disertai dengan peningkatan kompetensi diri. Dan harus pandai membedakan mana hak buruh terhadap kewajiban perusahaan, dan mana hadiah perusahaan terhadap buruh. memberi hadiah bukanlah kewajiban bagi perusahaan.

Sebagai pengupah harus mendapatkan hak-hak dari setiap kewajiban pekerjanya, dan berhak mencapai target produktivitas yang diinginkan, namun tetap harus memenuhi kewajiban dengan mengupah buruhnya sesuai dengan kesepakatan kontrak kerja, memberikan apresiasi terhadap setiap prestasi pekerja. Dan juga mengembangkan potensi pekerja untuk kemajuan usahanya.

Sebagai pemerintah, membuat perundang-undangan adalah untuk melindungi hak-hak dan kewajiban pengupah dan buruh. Menetapkan upah minimum sebagai pemenuhan standar kesejahteraan buruh. Menghargai prestasi buruh di dalam negeri sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Memangkas birokrasi yang menghambat persaingan usaha dan iklim investasi.

Dan sepertinya, tak akan habis perbincangan ini sampai hari kiamat nanti… hiks T-T

Mari kembali bekerja, dengan penuh keyakinan bahwa pekerjaan kita memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain, bukan semata untuk diri sendiri, dan lebih banyak lagi manfaat bagi masyarakat, yakinlah hasil kerja kita tidak akan nihil.


kekerasan di sekitar kita

22 Mei, 2004

gak habis-habisnya kalo bicara tentang kekerasan, dan gak habis juga heranku mengapa terlalu banyak orang yang suka dengan kekerasan. Sebut saja televisi, kotak ajaib ini terlalu sering mengumbar informasi tentang kekerasan, seakan-akan tidak ada dunia yang tidak berisi kekerasan. Mulai dari informasi patroli, buser, kupas tuntas, derap hukum, sinetron-sinetron, film-film, hingga acara lawak pun berbumbu kekerasan.

Pernah nonton film “How to Create a Monster” ? film ini bercerita tentang ambisi sebuah perusahaan game komputer untuk membuat game console yang canggih. Mereka menciptakan monster game yang diramu dengan keserakahan, kebencian, kekerasan, dan kelicikan para pencipta karakternya. pada suatu malam, energi listrik yang dibawa oleh petir telah merusak server komputer perusahaan game tersebut, dan saat itulah, karakter monster hidup dan membunuh para penciptanya. yang berhasil bertahan hanyalah seorang cewek magang yang tadinya lugu dan baik. Dengan usaha yang dicapainya, ia berhasil mengalahkan karakter dan menyempurnakan game hingga dapat dipasarkan. Ia belajar bahwa hidup memang keras.

Masih ingat cerita rakyat, bawang putih dan bawang merah? atau cerita Cinderella? ternyata kekerasan telah melekat dalam jiwa kita dengan cerita masa kanak-kanak itu.

bagaimana dengan berita-berita di televisi: praktek aborsi, penganiayaan terhadap pembantu, pemerkosaan, incest, pembunuhan, pencabulan, dan sebagainya… seperti tak ada rasa aman dalam kehidupan sekitar kita?

Sejarah selalu terisi dengan kekerasan dan pertumpahan darah, inilah sebabnya para malaikat bertanya kepada Tuhan ketika Dia hendak menjadikan manusia sebagai kalifah bumi: “Mengapa Engkau jadikan di bumi orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami terus mengkuduskan Engkau?”

Tapi Tuhan ternyata punya kehendak atas segala kekerasan itu, seperti kata-Nya: “Dialah yang menjadikan kematian dan kehidupan guna mengetahui siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu”.

Sebaiknya informasi kekerasan biarlah sebagai informasi saja, jangan perlakukan ia sebagai santapan keseharian, saya khawatir jika sudah jadi santapan, kekerasan akan merasuki kita sehingga membangkitkan potensi kerusakan dalam diri kita. Ya Allah, damaikanlah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu yang mencintai kedamaian.


%d blogger menyukai ini: