rumah bibi berantakan

7 Maret, 2013

messyroomAnak-anak sering pergi bermain ke rumah Bibi, begitu kami memanggil orang yang membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kami, begitu Bibi selesai dengan urusan pekerjaan. Selain bercerita tentang bermain dengan ayam dan dengan anak-anak keponakan Bibi, anak-anak juga sering menceritakan kondisi rumah bibi yang sederhana. Komentar mereka seakan-akan mengharapkan agar orang tuanya dapat membagikan sesuatu buat Bibi dan keluarganya. Sehingga tak jarang kami berbagi dengan Bibi dan keluarganya dari kelebihan karunia yang diberikan Allah.

Tsuraya, dalam kesempatan menghabiskan plafon 2000 kata per harinya di malam hari sebelum tidur, menyebutkan, “Rumah Bibi berantakan.” Bubunya menanggapi, “Mengapa rumah Bibi berantakan?”

“Barang-barangnya banyak,” jawab Tsuraya. “Bibi gak sempat membereskan rumahnya, ya?” tanya Bubu. “Iya, Bibi capek,” Tsuraya menjawab sambil memainkan sendok di gelas teh manisnya. “Mengapa Bibi capek?” Bubu balik bertanya. “Bibi capek beresin rumah Tsuraya,” jawab Tsuraya.

“Kasihan ya, rumah Bibi berantakan. Karena capek, Bibi gak sempat membereskan rumahnya sendiri,” Baba menimpali disambut dengan jawaban, “Iya,” setuju Tsuraya. “Kalau begitu, Bibi kita berhentikan saja, supaya tidak capek, dan bisa membereskan rumahnya sendiri. Bagaimana?” tanya Baba.

Tsuraya menjawab, “Nanti, yang beresin rumah Tsuraya, siapa dong?”

***


kemana si cublak-cublak suweng?

6 Februari, 2008

cublak-cublak suweng,
suweng e ting geleder,
mambu ke tunjung guder,
pak empong lera lere sopo ngguyu delek ake,
sir, sir pong delek kopong,
sir, sir pong delek kopong

mantra yang pernah dinyanyikan dalam permainan anak-anak kini lenyap bersama permainan itu sendiri. tak banyak yang mengenal cublak-cublak suweng, congklak, galasin atau gobak sodor, petak jongkok, petak umpet, lempar kasti pada permainan masa kini. begitupun membuat mainan sendiri seperti senapan dan kuda dari batang daun pisang, mobil-mobilan dari pelepah daun kelapa atau kulit buah jeruk bali, peletok dari batang bambu pringgodani, wayang-wayangan dari batang daun singkong, siapa anak-anak yang dapat melakukannya?

ketika kampung kehilangan halaman, tempat bermain anak-anak pun pindah dari halaman menuju ke mal, pusat perbelanjaan, playstation…


%d blogger menyukai ini: