tentang mengeluh

15 Februari, 2016

Kita sering mengeluhkan lelah, padahal ia pintu kepada nikmatnya istirahat. Kita juga mengeluhkan lapar, sedangkan ia gerbang nikmatnya makanan. Tidak luput mengeluhkan sakit, sejatinya ia penggugur dosa-dosa kita.

Tetaplah bersyukur, dalam senang maupun susah.


banyak bersyukur: refleksi kemerdekaan hamba

17 Agustus, 2012

Hendaklah seorang muslim ahlussunnah banyak bersyukur kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada seluruh alam.  Bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya dari rizki yang diberikan Allah kepadanya. Bersyukur atas berdirinya masjid ahlussunnah, sehingga dapat menggali ilmu-ilmu agama sesuai pemahaman para salaf serta berkumpul di dalamnya orang-orang yang gemar menghidupkan sunnah serta menjalankannya tanpa rasa was-was.

Bersyukur atas nikmat kemerdekaan bagi negeri ini, sehingga dimudahkan segala urusan untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk menikmati hasil jerih payah perjuangan para pendahulu dan untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan umat, sebagaimana firman Allah: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (QS Ali Imran, 3: 103)

Bagaimanapun kondisi kita saat ini dalam memperjuangkan sunnah, sangatlah tidaklah sebanding dengan perjuangan berat yang dijalani oleh Nabi Nuh alaihissalam. Walau begitu, beliau disebut-sebut di dalam Alquran surat Al Israa, 17: 3 sebagai hamba yang banyak bersyukur kepada Allah.

Bersyukur atas dimudahkan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan, bulan yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan dan kelebihan. Bersyukur karena dihampirkan di penghujung Ramadan, sebagaimana firman Allah: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Albaqarah, 2: 185)

Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam, pada hari-hari terakhir di bulan Ramadan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya. Mengencangkan ikat pinggang maksudnya menahan diri dari menggauli istri-istrinya. Menghidupkan malam untuk banyak beribadah dengan shalat, membaca Alquran dan berdzikir mendekatkan diri kepada Allah. Membangunkan keluarga untuk bersama-sama menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan dan menjadikan kita hamba yang banyak bersyukur.

(disarikan dari khutbah Ustadz Ja’far Shalih hafizhahullah pada Khutbah Jumat di Masjid Al-Muhajirin Wal Anshar, Jl. Pramuka, Grogol, Depok)


dakwah turun ke jalan

13 November, 2007

pemuda itu meminta ijin kenek untuk naik bus metromini yang membawa penumpang ke arah pasar minggu. wajahnya penuh senyum, setelah pengamen turun dari bus, ia maju ke depan, mengucap salam dan shalawat kemudian mulai berbicara tentang maraknya aliran sesat, dan ia memperkenalkan program dakwah turun ke jalan.

ia berbicara begitu santun dan anggun, pemilihan kata-katanya berusaha untuk tidak menyinggung perasaan, walaupun sementara masih dangkal. tetapi ia mengajak penumpang untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Allah atas segala karunia dan kemampuan yang diberikan secara berbeda-beda kepada setiap orang. keahlian yang dimiliki sepatutnya digunakan dengan rasa syukur.

setelah selesai ia mengajak penumpang untuk berpartisipasi mendanai program dakwah turun ke jalan. walau tak seorang pun yang mengulurkan receh, barangkali karena sudah habis untuk pengamen sebelumnya, pemuda itu tetap menghiasi wajahnya dengan senyuman dan berusaha ikhlas. ia pun turun dari bus seraya berterima kasih kepada kenek.

ada sebuah ayat di dalam Alquran surat Yaasin, 36:21

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

mungkin perlu perhatian dari pihak yang berwenang (ulama, pemerintah, lembaga dakwah, lembaga pendanaan umat, dsb) untuk penggagas program dakwah turun ke jalan, supaya mereka tidak menjual ayat-ayat dengan harga murah. meminta penumpang berpartisipasi dalam program tersebut (ini pun berlaku bagi para pencari dana pembangunan masjid) adalah perilaku yang dibenci dalam agama, karena hanya orang-orang yang mencari balasan dari Tuhan mereka saja itulah yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk yang benar.

QS 6:90 Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).”


%d blogger menyukai ini: