tentang beng-beng

16 Februari, 2015

25g dikatakan lebih besar? Dibandingkan sebelumnya?
Jika dibandingkan dengan masa kecil dulu, semestinya berbunyi: “Kini Kembali Besar!” 😉

View on Path


nabi adam dan dinosaurus

24 Februari, 2014

radya: ba, tahu gak kalau dinosaurus bisa jadi tunggangan nabi adam?
baba: waduh, menurut kamu bagaimana?
radya: kan lebih tinggi nabi adam, ba.
baba: ah, masak iya?
radya: iya lah, kalau nabi adam setinggi ini (kepala radya), dinosaurus cuma setinggi ini (perut radya). bisa jadi tunggangannya nabi adam.
baba: hmmm… bagaimana kalau kita tanyakan ke ustad saja?

baba: ustad, maaf ada yang mau bertanya.
ustad: oh iya pertanyaan apa?
baba: ini anak saya bilang bahwa dinosaurus bisa jadi tunggangan nabi adam.
radya: iya ustad, kan nabi adam lebih tinggi dari dinosaurus.
ustad: eh, apa iya? nabi adam tingginya 60 hasta. itu berapa meter ya?

teman radya: 30 meter!
ustad: ah, tidak setinggi itu, barangkali hanya 26 meter. nah, dinosaurus terbesar apa? t-rex?
radya: bukan! t-rex mah kecil.
ustad: hmm atau brontosaurus ya? yang lehernya panjang?
radya: argentinosaurus, panjangnya 40 meter dari kepala sampai ekor. tapi tidak tinggi.
ustad: wah… ustad baru tahu ada yang lebih panjang dari brontosaurus.

teman radya: ustad, Allah kan lebih besar daripada nabi adam ya?
ustad: wah itu namanya membandingkan antara dua hal yang tidak setara. antara makhluk dengan pencipta.

🙂


Allah (jauh) lebih besar

5 Agustus, 2012

Ada yang mempertanyakan tulisan “Allah lebih besar“, apakah maksudnya Allah itu besar secara fisik atau zat-Nya? Daya nalar anak-anak adalah fitrah, belum dicampuri hal-hal kompleks sebagaimana orang dewasa. Barangkali anak-anak menalar bagaimana mungkin Allah bisa menciptakan hal-hal yg besar jika Dia tidak lebih besar daripada semua makhluk-Nya. Bagaimanapun kemahabesaran Allah tidak hanya secara zat melainkan juga sifat-sifat-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika memberikan penjelasan tentang Kursi[1] pada Ayat Kursi yang disebut di dalam kitab Aqidah Wasithiyah sebagai dalil keagungan sifat Allah, menyampaikan bahwa Kursi lebih besar daripada langit dan bumi. Karena jika tidak lebih besar tidak mungkin akan meliputi keduanya. Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radiyallahu anhuma mendefinisikan bahwa Kursi adalah tempat berpijaknya kaki Allah[2].

Demikian pula Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan perihal Kursi dan Arsy pada kitab Aqidah Thahawiyah Syarh wa Ta’liq.

Kursi bukanlah Arsy, bahkan Arsy lebih besar dari Kursi. Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa Kursi bila dibandingkan dengan Arasy adalah seperti cincin yang dilemparkan ke padang pasir[3]. Maka, apabila Kursi lebih besar daripada alam semesta dan Arsy lebih besar lagi, tentu saja Allah jauh lebih besar! Allahu Akbar!

—-

[1] secara harfiah berarti tempat pijakan kaki atau kursi

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dia mengatakan bahwa hadits ini sahih menurut syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkan. Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Arsy. Disahihkan oleh Al-Albani dalam kitab As-Silsilah Ash-Shahihah, dia berkata bahwa tidak ada hadits yang marfu’ dari Nabi mengenai Arsy kecuali hadits ini.


Allah lebih besar

31 Juli, 2012

Pada mulanya konsep betapa besarnya Allah barangkali merupakan hal yang rumit dipahami anak-anak. Hanya dengan kata-kata bahwa Allah Mahabesar, jauh lebih besar daripada manusia, daripada ultraman (tokoh fiktif jagoan buatan Jepang) dan konsep yang benar mengenai keberadaan-Nya yang di atas langit saja masih membingungkan mereka. Apalagi jika orang tua menyampaikan konsep yang salah tentang Tuhan ada di mana-mana atau ada di dalam diri manusia, tentulah akan menjadi sangat tidak masuk akal bagi mereka.

Namun sekembalinya pulang dari Planetarium, Radya dan Tsuraya membahas kembali dengan babanya mengenai konsep kemahabesaran Allah. “Allah kan lebih besar ya, Baba?” ujar mereka. Baba menjawab, “Bagaimana menurut kalian Allah lebih besar?”. “Iya, kan planet dan matahari itu besar,” kata Tsuraya yang disambut oleh Radya, “Bumi lebih kecil daripada matahari.” Baba penasaran, “Lalu?” Radya melanjutkan, “Manusia kan tinggal di bumi, keciiil sekali!” Tsuraya pun menimpali, “Allah kan ada di atas langit, jadi lebih besar!”

Masya Allah, semoga Allah memberkahi mereka.


nilai shalat jumat

10 April, 2010

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat-shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke Jum’at yang berikutnya, dan puasa Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa kecil di antara keduanya jika ia meninggalkan dosa-dosa besar. (HR. Muslim, Ahmad).

Khatib shalat jumat di masjid Fatahillah, Tanahbaru, Depok, kemarin menyampaikan khutbah mengenai keistimewaan hari jumat, nilai dan hikmah yang terkandung di dalam ibadah tersebut. Pada setiap mukadimah khutbah Jumat, seorang khatib selalu menyitir ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

QS Aal ‘Imran, 3:102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Maksud dari ayat ini adalah sudah merupakan kemestian bagi orang-orang yang beriman yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yaitu secara konsekuen menjauhi segala larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-Nya, maka akan mati dalam keadaan beragama Islam sebagai satu-satunya agama yang diridai oleh Allah.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

QS Aal ‘Imran, 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Setelah sepekan berkutat dalam urusan dunia, barangkali kita melupakan akan agama. Maka shalat jumat adalah saat dikumpulkannya umat muslim di masjid-masjid untuk kembali mengingat Allah, mengenal tauhid-syirik, ibadah-muamalah, halal-haram, sunnah-bid’ah, dan ilmu-ilmu yang menyempurnakan peribadatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

QS Al Jumu’ah, 62:9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Allah berseru kepada orang-orang beriman untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan semua pekerjaan ketika khatib telah naik mimbar dan muazin mengumandangkan azan di hari Jumat. Jual beli yang hukumnya boleh, menjadi haram hukumnya ketika menghalangi kita memenuhi kewajiban.

Sebagaimana  hadits di awal tulisan, orang-orang yang secara konsekuen menjalankan ibadah shalat lima waktu, shalat Jumat, dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka ibadah-ibadah itu akan menghapus dosa-dosa kecil yang diperbuat di antara kedua waktu ibadah yang disebutkan, dengan sebuah syarat: meninggalkan dosa-dosa besar. Hal ini karena dosa-dosa besar membutuhkan tatacara khusus untuk mendapatkan pengampunan Allah. Namun begitu, bukankah kabar pengampunan dosa-dosa kecil ini cukup menjadi kabar gembira bagi orang-orang beriman?

Semoga Allah menjadikan kita istikamah dalam menjalani ketakwaan kepada-Nya, sehingga kelak Dia mematikan kita dalam keadaan beragama Islam.


%d blogger menyukai ini: