walk, run, and ride in Boston

27 September, 2012

Boston adalah salah satu kota yang “memaksa” warganya menggunakan fasilitas dan transportasi umum secara bertanggung jawab. Terbatasnya lahan dan mahalnya tarif parkir membuat para pemilik kendaraan berpikir berkali-kali untuk memasuki kota Boston. Kemacetan di tengah juga menjadi isu yang menjadi perhatian, sehingga banyak pekerja komuter yang memarkir kendaraannya di luar kota untuk kemudian menumpang bus atau kereta menuju tempat kerjanya masing-masing. Massachusetts Bay Transportation Authority (MBTA) memberikan kemudahan berkendara bus maupun kereta dengan aman dan nyaman.

Beberapa warga yang mampu dapat memilih tinggal di kota sehingga mereka dapat pergi ke tempat kerja dengan berjalan kaki saja. Pejalan kaki mendapat hak-haknya secara penuh dengan tersedianya pedestrian yang lebar. Lampu lalu lintas dilengkapi dengan lampu penyeberangan bagi pejalan kaki. Pejalan kaki yang berlalu lalang adalah pemandangan biasa yang ditemui sejak pagi hingga malam hari. Termasuk mereka yang berjalan kaki pulang malam dari tempat makan dan minum-minum.

Tersedianya trek lari memberikan kemudahan bagi warga kota untuk jogging sejauh kesanggupan dan ketahanan. Amat mudah menemui pelari  di pagi atau di malam hari di tengah kota Boston. Sepatu lari termasuk sepatu yang laris terjual di toko sepatu dan toko peralatan olahraga. Berbagai rancangan pada sepatu seperti warna pendar, material yang ringan, dan kelenturan bertujuan memberi kenyamanan dan keselamatan bagi para pelari.

Jalur sepeda disediakan bagi para pesepeda maupun roller blader dan skateboarder. Bagi yang tidak memiliki sepeda dapat menyewa sepeda di stasiun Hubway dengan biaya $5 untuk seharian asalkan dalam setiap trip tidak melebihi 30 menit. Sepeda dapat dikembalikan di stasiun Hubway manapun yang tersedia. Para pesepeda sangat disarankan untuk mengenakan helmet sebagai keselamatan bersepeda.

Dengan kondisi tersebut di atas, jarang ditemui warga Boston yang memiliki masalah kegemukan kecuali orang-orang yang tinggal di daerah suburban.


Cycling, the 2nd

7 Mei, 2010

As a person who tries to respect the rights of others, I try to be consistent with that attitude though sometimes had a little break as long as permitted by the right owner 🙂 As well as when cycling this morning, I felt safe with me pedaling my bike in the lane.

Until now, in Jakarta was not yet provided a special lane for bicycles, so it is still biased to the so-called cycling track. Therefore, using the general rule that motorcycles, bicycles, even cars with low speed should drive in the left lane, so I ride my bike in the left lane. With a little maneuvering to take the pedestrian path, especially when the jam while there was no passing pedestrians.

Several times I’ve seen cyclists who rode in the busway lane, but I did not have enough courage to follow them because I cringe first heard the Transjakarta sound the horn. Besides, by taking the busway lane, I had violated the rights of Transjakarta bus users and put myself at high risk of accidents. Better and safer to ride on the left lane, anyway.

This morning, cycling 20 km to work only takes 60 minutes, 15 minutes faster than before. Could be due to leave early and take a different route: Matoa Golf – Kahfi 1 – Cilandak – Ampera – Kemang Timur – Pasar Warung Buncit – Mampang Prapatan – Kuningan Barat – Jamsostek Bridge – Patra Jasa. Try it, because cycling is refreshing.


%d blogger menyukai ini: