akuarium planet – 3

11 Juli, 2012

Kenangan masa kecil dahulu di ruang pertunjukan Planetarium tidak mampu diwujudkan kembali ketika memasukinya bersama anak-anak pada liburan yang lalu. Naratornya yang dahulu kocak dan mampu menghidupkan suasana sudah berganti dengan narator yang textbook dan sekadarnya saja. Laser pointer menjadi alat bantu yang mengganggu kenyamanan menikmati suasana malam buatan. Kehadiran mantan planet kesembilan dan kemunculan pesawat antariksa USS Enterprise dari episode awal film seri StarTrek menunjukkan bahwa program pertunjukan tidak diperbarui selama lebih dari 20 tahun.

Pembelaan paham heliosentris dan upaya penguburan paham geosentris masih dipertahankan. Padahal hingga saat ini belum terbukti secara empiris bahwa paham heliosentris adalah kebenaran dibandingkan paham geosentris. Kebenaran tersebut masih berupa bukti secara teoretis. Banyak pertanyaan yang belum dapat dipenuhi oleh paham heliosentris dipaksakan untuk diterima secara logika. Di antaranya masalah rotasi (perputaran pada porosnya) bumi yang menyebabkan pergantian malam dan siang, revolusi bumi terhadap matahari yang menyebabkan perjalanan satu tahun, penampakan 13 rasi bintang dalam satu tahun untuk menunjukkan 12 bulan pada kalender matahari.

Bagaimanapun pengetahuan mengenai benda-benda luar angkasa tetap diperlukan sebagai tambahan ilmu yang seharusnya digunakan dalam mendukung kehidupan manusia seperti penunjuk arah, musim bercocok tanam dan terutama penunjang peribadatan kepada Allah (penentuan waktu untuk shalat, puasa dan haji).

Sebagaimana merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Albukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Abu Qatadah radiyallahu anhu menyebut ayat Allah yang artinya, “Dan kami hiasi langit yang terdekat dengan pelita-pelita,” lalu menjelaskan, “Bahwa penciptaan bintang-bintang  adalah untuk tiga tujuan, yaitu sebagai penghias langit, sebagai misil untuk melempari setan-setan, dan sebagai petunjuk arah bagi musafir. Maka, barangsiapa yang mencoba mencari-cari penafsiran lain, dia akan tersesat, upayanya sia-sia, dan memberatkan dirinya dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuannya yang terbatas.”

[selesai]


Orion dan Radya

29 Januari, 2012

Malam gelap masih belum larut, rembulan masih hilal belum tampak seperti tandan, Radya mengajak Baba menatap langit melihat bintang-bintang. Baba mengambil Samsung Galaxy 5 miliknya dan membuka aplikasi Google Sky Map. Radya mampu membedakan antara planet dengan bintang. Planet adalah bintang kembara, benda langit yang cahayanya terang tidak berpendar, karena hanya memantulkan sinar matahari. Sedangkan bintang adalah bintang tetap, benda langit yang bersinar dan cahayanya berkelap-kelip, letaknya yang sangat jauh membuatnya terlihat kecil di langit malam. Andai saja bintang yang besar itu dekat, sudah pasti ia lebih terang cahayanya dibandingkan sinar matahari.

Orion adalah salah satu rasi bintang yang mudah terlihat di ekuator langit (ketika diobservasi oleh Radya, Orion sedang berada di dekat zenith). Dalam mitologi Yunani, Orion adalah sang pemburu. Di Jawa disebut sebagai rasi Waluku, yang kemunculannya sebagai penanda waktu menanam padi pada sawah tadah hujan. Radya mengamati Orion dengan seksama, di sekitarnya ada rasi bintang dua ekor anjing (Canis Major dan Canis Minor), serta rasi bintang binatang buruan yaitu Taurus si kerbau dan Lepus si kelinci. Agak ke utara terlihat bintang kembara (planet) yang besar dan terang yaitu Jupiter. Radya menikmati pemandangan langit dengan antusias dan rasa puas.

[26Januari2012/02RabiulAwal1433]


tunjuk bintang

29 Mei, 2004

ada bermilyar bintang
dalam balutan pekat
gelap yang bertajuk malam..

tak perlu memilih satu untuk hatimu
kelak Allah kan hadiahkan
yang terindah, yang kan temanimu
berakhir indah..

===

c, 270504


%d blogger menyukai ini: