ga ada kamu

14 Desember, 2016

Ketenangan pagi di suatu hari jumat pun pecah, terdengar suara Athiya yang menangis dan Tsuraya yang berteriak, “Ini gelang Aya!”

“Bukan, ini gelang Athiya!” Athiya balas berteriak sambil menyembunyikan tangannya.

Tsuraya meraih tangan adiknya dan berusaha melepas gelang yang melingkarinya. “Ini kan gelangnya Aya!”

“Gelang Athiya!” Seru sang adik.

“Duh! Ada apa ini?” Tanya Bubu yang menghampiri sumber keributan.

“Athiya mengambil gelang Aya,” jawab Tsuraya yang masih memegangi tangan adiknya.

“Itu kan gelang dari tante, buat Athiya,” sanggah sang adik meringis lara.

“Bohong, gelangnya Athiya bukan yang itu!” Sang kakak menggugat dan berhasil melepaskan gelang dari tangan Athiya.

“Gelang Athiya kemana dong? Huaaaa…!” tangis si adik pecah.

“Ya ampun! Tsuraya, bagaimanapun, mengambil kembali milik kamu sendiri tidak boleh dengan kasar dan menyakiti. Apalagi Athiya itu adik kamu!” Bubu menengahi dan melanjutkan, “Athiya juga, yang bukan milik kamu, bilang baik-baik kepada pemiliknya jika mau memakai atau meminjamnya.”

“Bagaimana kalian berdua ikut pergi bersama Eyang Uti, kalau bertengkar seperti ini?” Tanya Bubu kepada kakak-beradik itu. “Kasihan Eyang Uti, jadi repot nanti.”

Athiya pun pergi keluar rumah dengan rasa dongkol di hatinya. Sedangkan Tsuraya, membongkar kembali baju-baju dari dalam tasnya yang sedianya dibawa untuk pergi bersama neneknya.

***

Tak lama kemudian, Tsuraya menghampiri ibunya meminta maaf, “Bubu, maafkan Aya, ya.”

“Iya sayangku, Bubu maafkan,” Bubu memandang tulus wajah gadis kecil yang dipenuhi penyesalan itu.

“Aya mau ikut Eyang Uti pergi. Tapi, baju-bajunya sudah dibongkar” kata Tsuraya. Bubu tersenyum dan bertanya, “Lagipula, siapa yamg suruh kamu membongkar bajumu?”

“Tadi, Bubu bilang gak boleh ikut Eyang?” Jawab Tsuraya.

“Oya?” Bubu balik bertanya, “Bubu gak bilang begitu. Bubu bilang, kalau kalian bertengkar seperti tadi sedangkan kalian ikut Eyang Uti, tentu akan merepotkan.”

“Hmmm…,” gumam Tsuraya.

“Ya sudah, sekarang pak lagi baju-bajumu itu.”

***

Tiba-tiba pintu rumah terbanting, sosok Athiya berdiri di tengah pintu dan berkata sambil menahan isaknya, “Athiya maunya pergi bersama Mbak Aya!”

—selesai—

Iklan

ketika baba pulang

30 November, 2016

1. (2009, Efek Babanya sering pergi dinas)

Radya: “Bubu, ini kan rumah mas sama Bubu, ya?”
Bubu: “Ya, enggak lah mas. Ini rumah Baba, kita dititipi untuk menjaganya.”
Radya: “Enggak dong, Bu. Ini rumah mas sama Bubu.”
Bubu: “Lalu, Baba rumahnya di mana, dong mas?”
Radya: “Baba kan rumahnya di kantor.”

2. (2011, Efek Babanya pulang kemalaman)

Tsuraya: “Bubu, kok Baba belum pulang ya? Kan udah malam.”
Bubu: “Baba nanti juga pulang, kok. Mungkin saja kena macet. Dan karena sudah malam, mbak Aya bobok ya.”
Tsuraya pun kemudian tertidur lelap.

Pada pagi harinya, Tsuraya terbangun dari tidurnya dan mendapati Baba yang berpakaian kerja, lalu berkata: “Eh, Baba baru pulang.”
Baba: “Iya sayang, Baba sudah pulang tadi malam, dan sekarang bersiap berangkat ke kantor lagi ya.”
Muah. Peluk dan kecup Baba pada Tsuraya.

3. (2014, Efek Babanya sering lembur)

Athiya: “Bubu, Baba kan kalau pulang malam ya?”
Bubu: “Iya sayang. Kan Baba banyak kerjaannya di kantor, belum lagi kena macet di jalan.”

“Assalamualaikum,” suara Baba menyapa di balik pintu.
Athiya: “Eh, Baba pulang. Kok Baba pulangnya masih siang?”

4. (2016, Efek Babanya pulang kemalaman)

Ketika azan subuh, Athiya terbangun, melihat Babanya mengenakan pakaian batik kerja.
Lalu dia pergi ke Bubunya sambil berkata, “Bubu, lihat tuh. Masak, Baba subuh baru pulang.”
Bubu: “Hahaha. Baba pulang tadi malam, Nak. Sayangnya kamu sudah tidur. Itu Baba mau salat subuh.”

5. (2016, Efek Babanya sebagai yang dirindukan)

“Assalamualaikum,” Baba menyapa dari balik pintu.
Bergemuruh, “Hore, Baba pulang!” Anak-anak langsung menyerbu Bapaknya. Ke pelukan, bahu, paha, dan punggung.
“Siapa yang mau ambilkan air minum untuk Baba?” tanya Bubu

Athiya dan Safiya, langsung berebutan menuju dispenser air, saling sikut mengambil gelas, berlomba-lomba menuju Baba, lalu terdengar raungan tangis Safiya karena dikalahkan oleh kakaknya.

Baba pun menerima gelas dari Safiya dan meminumnya setelah menghabiskan isi gelas yang disuguhkan Athiya. 😀

#family


For: Bubu, From: Tsuraya

23 Desember, 2015

image

image

image

THANK You MOM
You it’s my Friends
Happy Mom day
I (heart) You Mom

image

HAPPY Mother Day

image


Perisa dan pewarna

9 April, 2015

“Perisa dan pewarna,” sebut Tsuraya ketika membaca label botol pewarna makanan. “Hih, Bubu!” teriaknya tiba-tiba.

Bubu menghampiri dan bertanya, “Ada apa sih, Aya? Kok teriak begitu?”

“Ini kan, perisa dan pewarna,” jawab Tsuraya. “Berbahaya! Kita kan tidak boleh makan makanan yang mengandung perisa dan pewarna,” lanjutnya menjelaskan dengan lagak menggurui.

“Oh begitu?” timpal Bubu dengan santai, “Ya sudah, nanti Bubu berikan ke Bu Erte saja.”

“Lho, kok dikasih ke Bu Erte?” tanya Tsuraya bingung.

“Iya lah, kan Bu Erte kalau bikin susu kedele yang biasa kamu minum itu menggunakan perisa dan pewarna makanan,” jawab Bubu.

“Lho, eh,” Tsuraya pun terdiam dan salah tingkah, diikuti kerlingan mata Bubu.

#08042015

View on Path


Doa bingung

26 Maret, 2015

Tsuraya: Ya Allah, ya Allah.. bingung banget nih.. Bubunya aja pengen langsing kok jadinya malah gendut
Bubu: Qiqiqiqiq
Tsuraya: Kok Bubu ketawa, emang salah ya doanya Aya?
Bubu: Salah dikit Ay, banyakan lucunya

(@chee, 26032015)


Jalan-jalan naik bus

16 Januari, 2015

Tsuraya: Kemarin enak lho Bu, jalan2 sama Eyang naik bus
Bubu: Enakan juga naik pesawat Ay, ngga cape
Tsuraya: Enakan bus, ada tivinya
Bubu: Ooh jadi Aya seneng sama tivinya, bukan sama busnya?
Tsuraya: Seneng juga sama busnya, soalnya gedeee banget.. Eh, coba Bubu anaknya 10 ya, nanti Baba bisa beli bus
Bubu: Aamiin.. etapi kalo cuma mau naik bus mah ngga usah nunggu Bubu anaknya 10 Ay, tinggal ke terminal aja grin emoticon
Tsuraya: Hehehe.. iya ya

*bocah, mikirnya suka ajaib grin emoticon


boleh gak?

14 Mei, 2014

Baba dapat telpon dari rumah, suara Bubu di seberang sana bertanya, “Ba, ini dapat kiriman makanan dari tetangga kita, katanya syukuran kelahiran anaknya. Boleh dimakan gak?”

Baba menjawab, “Boleh, insya Allah.” Tiba-tiba terdengar sahutan di latar, “Boleh katanya tuh!”

“Eh, siapa itu?” tanya Baba. “Si kecil ngocol tuh, Ba, hehehe” jawab Bubu sambil terkekeh, “dari tadi merengek: ‘Bubu, mau makan ayamnya’. Bubu bilang tanya Baba dulu.” Baba pun turut tertawa mendengar kelakuan Athiya.

Bertetangga dengan non muslim memang perlu adab dan toleransi. Memberi atau menerima hadiah dan tolong menolong dalam urusan duniawi adalah hal yang dibolehkan. Adapun urusan akidah dan ibadah merupakan hal yang sudah jelas batasannya.

Maka itu, menerima atau mengirim makanan, jika bukan untuk sesaji atau dalam rangka hari raya non muslim, bukan termasuk hal yang dilarang oleh ajaran Islam. Wallahu a’lam.


%d blogger menyukai ini: