memaknai doa agar hujan berhenti

22 Januari, 2014

Ketika musim banjir dan hujan sekarang, beredarlah doa populer yang berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Kemudian beredar pula tanggapan apakah doa itu masih relevan dengan kondisi baik waktu dan tempatnya? Lalu mengorelasikan dengan asbabul wurud Rasulullah membacakan doa tersebut? Dan mendiskusikan antara tekstual dan kontekstual doa tersebut?

Sebenarnya jika kita mau merenungi dan memahami, bahwa baik tekstual dan kontekstual serta kondisional dari doa tersebut, kita akan menemukan betapa banyak faidah dan relevansi doa itu bagi kita. Teks lengkap doa itu bisa kita baca di sini. Secara ringkasnya, seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan kemarau yang membinasakan dan untuk berdoa minta hujan. Setelah Rasulullah berdoa, hujan turun selama sepekan dan tidak berhenti. Orang itu datang kembali karena hujan telah membinasakan, maka Rasulullah membaca doa di atas sehingga hujan berhenti dan matahari kembali bersinar cerah.

Dalam kondisi hujan dan bencana banjir yang kita hadapi, tentu tidak ada ruginya kita membaca doa tersebut. Di antara faidah yang bisa kita petik:
1. Mengikuti amal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu dan sepakat bahwa sikap ittiba’ adalah kecintaan yang sempurna kepada beliau, dan tentu saja mendapat pahala.
2. Doa itu berisi agar hujan dialihkan ke tempat selain pemukiman, karena lebih membutuhkan dan lebih memberi manfaat. Allah maha mengetahui di mana tempat-tempat yang tepat untuk diturunkannya hujan yang bermanfaat. Maka doa ini mengajarkan kita untuk percaya dan mengembalikan keimanan kita seutuhnya dan murni kepada Allah saja.
3. Doa itu menyebutkan tempat-tempat agar hujan dialihkan yaitu dataran tinggi, perbukitan, lembah dan tanah subur. Apabila kita lihat kondisinya sekarang, tempat-tempat itu sudah rusak dan tidak berfungsi sesuai peruntukkannya. Ketika melihat iklan pengembang pemukiman: BEBAS BANJIR, kita akan dapati pemukiman tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Resapan Air (DRA). Maka karena kerusakan yang kita buat sendiri, wajar saja jika banjir melanda.

Bagaimanapun, secara harafiah dan maknawi, doa ini telah mengajak kita merenungi kembali apakah kita telah benar-benar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan mengamalkannya, Allah segera menghentikan hujan dan menerbitkan kembali cerahnya sinar matahari. Wallahu a’lam.


super bonus! pahala rabiul awal!

23 Januari, 2013

Raihlah Pahala di Hari Kamis, Jumat, Sabtu, Ahad dan Senin

_

Bismillâh.

Mulai besok, Kamis (24 Januari 2013) hingga Senin––pekan depan––(28 Januari 2013) adalah lima hari yang Allah berikan secara berturut² bagi Kaum Muslimîn untuk meraih pahala yang tiada terkira, insyâ Allâh. Bagaimana tidak? Pada lima hari tesebut, terdapat dua ‘Puasa Sunnah’ dan satu hari yang sangat agung, yakni hari Jumat.

❒ Besok, Kamis (12 Rabî’ul Awwâl 1434 H) dan Senin (16 Rabî’ul Awwâl 1434 H) adalah hari yang dinanti Kaum Muslimîn setiap pekannya untuk berpuasa, yakni ‘Puasa Sunnah Senin & Kamis'[1].

❒ Sedangkan lusa dan dua hari setelahnya, Jumat (13 Rabî’ul Awwâl), Sabtu (14 Rabî’ul Awwâl) dan Ahad (15 Rabî’ul Awwâl) adalah hari yang dinanti Kaum Muslimîn setiap bulan (Hijriah)-nya untuk berpuasa, yakni ‘Puasa Yaumul Bidh'[2].

_______________________

Footnote:

[1] Sunnah-nya Puasa Senin & Kamis berdasarkan hadis² berikut:

✔ Aisyah radhiyallahu’anha berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَحَرَّىَ صِيَام الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيس

“Sesungguhnya Rasulullah––shallallâhu ‘alaihi wasallam––senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah. Lihat: Shahih Ibni Majah, 1414]

✔ Dari, Abû Hurairah––radhiyallâhu ‘anhu, ––Rasulullah––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Amalan-amalan diperhadapkan kepada Allah Ta’ala pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika diperhadapkan amalanku sedang aku sedang berpuasa.” (HR. at-Tirmidzi. Lihat: Shahih at-Targhib, 1041)

_

[2] Sunnah-nya Puasa Yaumul Bidh berdasarkan hadis² berikut:

✔ Abû Hurairah––radhiyallâhu ‘anhu––berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku (yakni: Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––) telah berwasiat kepadaku (untuk mengerjakan): puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat di waktu duha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no.1981, dan Muslim no.721)

✔ Dari Abdullâh bin Amr––radhiyallâhu ‘anhu––, Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

….وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ

“..Dan berpuasalah tiga hari pada setiap bulan, karena sesungguhnya kebaikan itu akan (dilipat gandakan) dengan sepuluh (kali) yang semisalnya. Oleh karenanya, seolah-olah engkau berpuasa selama sebulan penuh. (HR. al-Bukhari no.1976 dan Muslim no.1159)

✔ Abû Dzar ––radhiyallâhu ‘anhu––, Nabi––shallallâhu ‘alaihi wasallam––bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Wahai Abû Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam setiap bulannya, maka berpuasalah pada (tanggal) 13, 14 dan 15.” (HR. at-Tirmidzi no.761. Hadits ini dinilai ‘hasan’ oleh Imâm at-Tirmidzi, dan dinilai ‘hasan shahîh’ oleh Muhaddits al-Ashr)

https://www.facebook.com/naufan.surya


anak dan doa orang tua

13 November, 2012

Kesal, marah, bahkan sumpah serapah barangkali sempat mewarnai hubungan antara kita sebagai orang tua dengan anak-anak kita, terutama ketika mereka tidak memenuhi harapan ataupun keinginan kita. Barangkali juga kekesalan dan kemarahan itu dilandasi dalih kebaikan untuk mereka. Namun sebaiknya kita berhati-hati dengan ucapan kita, karena ucapan buruk orang tua kepada anak adalah doa yang pengabulannya tidak mengenal tempat dan waktu.

Di dalam kitab Al-Adabul Mufrod, Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu, “Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan  lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (dikatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Di masa kecil kita pernah didongengkan tentang Si Malin Kundang, anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu, tetapi dongeng itu hanyalah kabar tutur yang tidak berasas kokoh. Sedangkan di dalam tradisi Islam didapati hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seorang dari bani Israil yang bernama Juraij, kisah yang lebih baik dan lebih pantas untuk diambil pelajaran daripadanya. Juraij bukanlah anak durhaka, bahkan ia adalah ahli ibadah. Namun ia ketiban fitnah akibat doa jelek ibunya yang pernah kesal ketika Juraij tidak memenuhi panggilannya sedangkan Juraij lebih mengutamakan salatnya.

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah teladan bagi orang tua beriman yang  doa-doa beliau diabadikan di dalam Alquran. Doa-doa yang penuh kebaikan dipanjatkan kepada Allah untuk anak keturunan beliau. Khalifah Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu pernah memberikan nasehat untuk para orang tua agar bersikap baik kepada anak-anak: “Bermainlah dengan anak-anakmu hingga mereka mencapai usia tujuh tahun, didiklah mereka dengan pengajaran dan pengetahuan untuk tujuh tahun berikutnya, dan bersahabatlah dengan mereka untuk tujuh tahun berikutnya.”

Semoga Allah memudahkan kita sebagai orang tua untuk menahan amarah dari berkata buruk kepada anak kita, memudahkan kita untuk senantiasa bersikap baik dan mendoakan kebaikan kepada anak keturunan kita.


pohon kurma

27 Maret, 2012

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara pepohonan, ada yang daunnya tidak rontok. Sungguh, itu adalah pemisalan seorang muslim. Beritahukan kepadaku, pohon apakah itu?” Orang-orang menyebut pohon-pohon yang ada di lembah-lembah. Ibnu Umar mengatakan, “Terlintas dalam diriku bahwa itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu (untuk mengatakannya).” Kemudian para sahabat mengatakan, “Beritahukan kepada kami, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Pohon kurma.” (HR. Al-Bukhari)


Ini Bagian Kalian dan Ini Hadiah Untukku

29 Januari, 2012

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Kitab Sahih keduanya, dari Abu Humaid As-Sa’idi: “Ketika Ibn Al-Lutbiyyah, orang yang dipekerjakan untuk mengumpulkan zakat, datang kepada Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam), dia berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku’, lalu Rasulullah (shallallahu alaihi wasalam) berdiri, memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: ‘Aku mempekerjakan beberapa orang di antara kalian untuk suatu pekerjaan yang Allah kuasakan kepadaku, kemudian seseorang di antaranya datang kepadaku dan berkata: ‘Ini bagian kalian dan ini hadiah untukku.’ Mengapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak atau ibunya dan menunggu sehingga hadiah itu datang kepadanya? Demi Allah, tidak satupun di antara kalian yang mengambil sesuatu tanpa hak, kecuali ia akan datang kepada Allah di hari kebangkitan dengan memikulnya. Aku tidak ingin melihat siapapun di antara kalian memikul unta yang merintih, atau sapi yang melenguh, atau domba yang mengembik ketika dia berjumpa dengan Allah.’ Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya (tinggi-tinggi sehingga) ketiaknya yang putih terlihat, dan bersabda: ‘Wahai Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?'”

hadits tersebut oleh para ulama dijadikan dalil dari haramnya bagi pekerja atau pegawai untuk mengambil atau menerima hadiah (alias suap) dari suatu pekerjaan yang (memang tugas yang harus) dilakukannya, padahal ia telah menerima upah atas pekerjaannya itu, sehingga yang demikian (menerima hadiah) itu termasuk pengkhianatan terhadap pemberi kerja.

Faidah hadits:

  1. Diwajibkan bagi pegawai melaporkan hasil pekerjaan kepada si pemberi kerja
  2. Disunnahkan untuk memuji dan menyanjung Allah sebelum berpidato atau berkhutbah
  3. Adalah adab ketika memperingatkan manusia dari sebuah perbuatan buruk yaitu dengan tidak menyebutkan nama si pelaku
  4. Dibolehkan mempekerjakan orang lain untuk membantu menyelesaikan suatu urusan yang dikuasakan kepada kita
  5. Tidak boleh mengambil sesuatu sebagai hadiah bagi diri si pegawai di luar dari upah yang diberikan oleh si pemberi kerja
  6. Ancaman terhadap orang yang mengambil sesuatu tanpa hak yaitu akan menghadap Allah dengan memikulnya
  7. Disunnahkan berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangan

Wallahu a’lam.


%d blogger menyukai ini: