bullying lagi

1 Agustus, 2012

Gak nyangka tulisan tentang bullying menjadi tren lagi di statistik blog ini setelah kejadian di SMA Don Bosco pada pekan lalu. Berita ini merebak di media massa dalam sepekan terakhir. Perilaku bullying sudah menjadi bagian dari sejarah manusia dan  sulit dihentikan karena dipengaruhi oleh berbagai macam latar belakang, seperti keluarga dan lingkungan. Sampai-sampai kasus ini juga diikuti oleh presiden dan beliau meminta agar budaya kekerasan dihentikan. Barangkali perlu dibuat program untuk menyalurkan dan mengarahkan karakter bully seseorang agar lebih bermanfaat dan tidak memakan korban, wajib militer misalnya. Tentu saja berhasil tidaknya program tersebut bergantung kepada dukungan dari semua pihak.


bullying bocah di sekitar kita

15 November, 2007

“bibi, ada si X ga?”

“ngga ada, emangnya kenapa?”

“aku ngga mau main sama dia, karena dia licik. si Y aja tau makanya dia gak main sama si X”

“trus kamu main sama siapa dong?”

“aku mainnya sama dek raka”

“lho, dek raka kan masih kecil, kalau kamu gak main sama seumuran kamu bagaimana kamu bisa berkembang?”

“habis, aku bakalan kena marah kalau ketahuan mama, main sama si X”

sebetik percakapan itu menggelitik, sebab dilakukan oleh bocah laki-laki kelas VI SD kepada bibi di rumah kami terhadap salah seorang anak tetangga yang seumuran dengannya. FYI, raka adalah anak kami, si X adalah anak laki-laki tetangga, si Y adalah anak perempuan tetangga kami lainnya, nama keduanya sengaja kami samarkan untuk kebaikan. jelas aja si Y tidak main dengan si X, beda jenis kelamin sih 🙂

tidak sekali itu saja bocah tersebut menjelek-jelekkan temannya. pernah sebelumnya memojokkan anak tetangga lainnya dengan panggilan yang buruk. tetapi sayangnya ketika “korban” ejekannya menantang berkelahi, si bocah malah lari tunggang langgang ngumpet di kolong tempat tidur mamanya, nggak keluar-keluar hingga yakin si “korban” ejekannya pergi.

si bocah yang masih jadi anak tunggal itu, tidak hanya melakukan bullying kepada teman-temannya, tetapi sedang menumbuhkan sikap kebencian dalam dirinya kemudian mencari dukungan dari pihak lain. apabila pihak lain tersebut tidak dapat dipengaruhi, maka ia akan membencinya pula. hal ini kelak membuatnya hidup tanpa teman seorang pun. sungguh kasihan.

yang lebih menarik lagi adalah, pernyataan bocah tersebut bahwa ia melakukan itu karena ada “tekanan” dari mamanya. [jadi ingat kasus fadil, siswa sman 34 yang kabarnya ditekan oleh ayahnya untuk berbicara kepada media massa sesuai dengan keinginan ayahnya, walaupun menurut beberapa siswa sman 34 kesaksiannya itu terlalu banyak yang tidak sesuai kenyataan]

mengapa bocah tersebut berlindung di balik ketiak mamanya? jika ditelusuri ke belakang, mamanya si bocah pernah mengalami konflik dengan mamanya si X. kasus sebenarnya sudah diselesaikan secara baik-baik dengan penengah yang dianggap adil. tetapi dalam hati siapa yang tahu 🙂

yang jadi pertanyaan lagi, apakah berlindungnya si bocah di balik mamanya itu benar-benar atas suruhan mamanya atau inisiatif si bocah tersebut untuk mencari patron – pelindung, back up kelakuannya yang buruk itu.

istilah “bullying” sendiri sangat sulit dicari definisi yang resmi, namun ketika disebutkan bullying, kebanyakan sepakat bahwa tindakan itu meliputi ulah negatif yang intensif untuk menyakiti orang lain secara verbal, fisik dan koersif (intimidasi), sehingga membuat orang lain tersebut tidak nyaman, merasa takut dan dapat mengalami gangguan perkembangan jiwa.

bullying itu ada di sekitar kita, sebuah kenyataan yang harus dihadapi, bukan disikapi dengan paranoid apalagi fobia. jika pelakunya masih bocah, jadikan refleksi apakah anak-anak kita bisa saja menjadi seperti itu? dan sudah menjadi tugas sosial kita untuk mengarahkan anak-anak pelaku bullying kepada jalan yang baik. karena anak-anak kita bukan hanya yang lahir dari rahim kita, tetapi juga anak-anak yang bermain dengan anak-anak kita, yang secara moral berhak mendapat pendidikan yang baik juga dari kita sebagai orang tua sosial mereka.

banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mengurangi efek bullying itu pada anak-anak kita. yang jelas tidak dengan tindakan represif yang memperkeruh suasana. bisa baca di kids health

“mas kan sudah besar, tentu bisa membedakan hal-hal seperti benar-salah, dan baik-buruk?”

“iya, bi”

“mas harus bisa bermain dengan siapapun, jangan pandang bulu, kalau ada kesalahan diselesaikan dengan diskusi dan maaf, bukan dengan cara membenci seperti ini”

[citra]


kasus bullying dan pemberitaan lebay

15 November, 2007

(belajar dari kasus geng di sman 34) 

sejak kasus sman 34 jadi headline kompas minggu 11 november 2007 lalu, milis-milis dan forum online yang dikelola oleh alumni dan siswa sman 34 ramai dengan thread diskusi. ada yang bertanya-tanya, ada yang mengecam, dan ada yang mencoba mengurai permasalahan, ada yang mencoba mengklarifikasi, bahkan ada yang bersaksi mengenai kejadian sebenarnya berdasarkan apa yang diketahui. tentu saja hal itu bermanfaat bagi keluarga alumni sman 34 karena mendapat informasi yang lebih valid daripada informasi berlebih-lebihan yang terdapat di media massa.

terus terang, pemberitaan “lebay” (baca: berlebih-lebihan) oleh media massa lebih sering berasal dari pihak “korban”, namun sedikit sekali yang berasal dari pihak “pelaku” atau counter part-nya. pemberitaan tidak seimbang akan membuat opini yang tidak sehat dan cenderung pointing finger kepada tersangka. padahal belum tentu semua yang diungkapkan oleh “korban” adalah kenyataan di lapangan. karena “korban” sendiri secara sadar lebih tepat menjadi korban dari persepsi dirinya sendiri atau pelapor (yang notabene adalah ayah “korban”).

ayah mana yang tak tergerak untuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan keganjilan pada anaknya? tentu saja ini wajar. namun jika harus menjadi berita nasional yang dampaknya memperburuk citra sekolah, walaupun pada awalnya “hanya” berniat mengungkapkan adanya “geng” dan “kenakalan” remaja siswa sman 34 (dimana anaknya bersekolah), tentu saja ini menjadi berlebihan. apalagi dengan kelakuan aneh para pencari warta, yang pengen denger sendiri kesaksian “korban” akhirnya malah menjadi bumbu penyedap yang bikin gerah para alumni sman 34.

akhirnya ada beberapa alumni sman 34 menjadi informan para pencari warta, dengan maksud bermacam-macam. tentu saja “kepedulian” seperti ini diperlukan untuk mengembalikan citra positif sman 34. namun bukan aneh apabila ada saja oportunis yang justru memperburuk keadaan dengan membongkar kisah yang seharusnya hanya jadi “rahasia keluarga”. tanpa sadar pemberitaan yang semakin heboh ini menjadi perbincangan berbagai kalangan yang lebih luas, memperburuk keadaan dan tentu saja akan menguatkan eksistensi kepopuleran “korban” dan ayahnya.

dengar-dengar, gubernur dki akan makan es campur (baca: mendukung) “pembasmian” geng yang ada di sman 34 itu. waduh! benar-benar “lebay” !!!

apakah pak gubernur yang terhormat sudah selesai dengan program 100 hari mengatasi kemacetan dan banjir?

lalu apa langkah selanjutnya untuk kasus ini?
perilaku “kriminal” para tersangka memang patut ditindak secara hukum, namun asas peradilan yang berimbang harus mendampingkan para tersangka dengan bantuan hukum supaya mereka mendapat keadilan dari “fitnah” (baca: bumbu-bumbu berita) yang disebarkan media.

perlu ketegasan dari pihak sekolah mengenai sikap mereka menghadapi kasus semacam ini. sudah seharusnya pihak sekolah membangun kembali komunikasi yang baik dengan siswa. terus terang, munculnya geng dan kelakuan aneh siswa dapat saja dipicu oleh kebijakan sekolah yang menuntut teralalu banyak dari siswa, sedangkan potensi siswa sebenarnya tidak diapresiasi dengan baik oleh sekolah.

perlu dukungan lebih baik dari alumni sman 34 yang masih peduli untuk melakukan langkah nyata dalam memperbaiki “kaderisasi” kebaikan kepada para siswa sman 34 dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah, bahwa: “ini lho, para alumni berniat baik dan mendukung sekolah”.

perlu kebijaksanaan para orang tua siswa untuk melihat permasalahan lebih komprehen. bangun komunikasi yang positif dengan anak-anak mereka, sehingga tidak perlu “menunggu” tiga bulan untuk mengendus “keganjilan” perilaku anaknya. tindakan represif ortu kepada anaknya dapat menjadi sikap bullying, karena memaksa anak menuruti kehendak ortu. padahal secara fisik dan kejiwaan, usia sma sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang dewasa yang memiliki pemikiran dan pilihan sendiri. di sinilah peran ortu untuk mengarahkan, bukan memaksakan, supaya perjalanan hidup anaknya lebih mengarah positif dan bermakna.

terakhir, perlunya menghentikan ulah para pencari warta dalam membesarkan kasus internal keluarga sman 34 ini. karena ulah mereka sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan, justru memperburuk keadaan. serahkan saja kepada pihak-pihak yang “bertikai” untuk berdamai. toh mereka bukan selebriti, selebriti seperti Roy Marten saja butuh privasi apalagi para pelaku kasus ini?

ah, tulisan ini hanya segelintir pemikiran dari seorang alumni sman 34.
[andi]


%d blogger menyukai ini: