Achievement

2 Desember, 2014

You may say that this ticket is an ordinary thing. While i would say that this ticket is very extra ordinary.

Not only because this corridor 9 route still doing un-electronic ticketing as the other corridors do.

But also the Rp2 thousands tickets are limited to those who hop on bus before 7 a.m. And for me this is an achievement. – at Halte TransJakarta Ragunan

View on Path

Iklan

akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)


coretan di busway

23 September, 2010

Siapa yang sukacita melihat busway dicorat-coret? Saya kira tak satupun

Bagaimana dengan coretan mengenai busway? Barangkali http://tbws.wordpress.com (yang sebagian tulisannya merupakan impor dari blog ini) dapat bercerita sedikit mengenai hal-hal yang dialami oleh salah seorang penumpang setia Transjakarta busway.

Terima kasih telah berkunjung dan menikmati cerita tentang busway. Dan bila anda adalah salah satu dari penumpang, peminat, pemerhati, atau pengurus busway, saya mengundang anda untuk mencoretkan sebarang komentar atau berbagi cerita di blog tersebut. Silakan!


Selamat!

9 Juli, 2010

“Halo, selamat sore Bapak, saya dari Transjakarta, mohon maaf mengganggu waktunya, saya hendak mengucapkan selamat karena Bapak telah memenangkan hadiah Gratis 1 Minuman produk Coca Cola. Mohon informasinya, apakah Bapak telah menukarkan hadiah tersebut?”

Mengalirlah keluhan saya sebagaimana posting sebelumnya dan juga berbagai kesan dan saran sebagai pengguna bus Transjakarta Busway. Ternyata kejadian yang saya alami boleh dibilang “apes”. Sebabnya, menurut sang penelpon, sudah banyak pemenang lainnya yang menukarkan hadiah tersebut di halte lain dan tidak menghadapi masalah seperti yang saya alami.

“Terima kasih banyak, Bapak atas segala masukannya untuk menjadikan kami menjadi lebih baik lagi. Untuk keluhan Bapak akan kami telusuri. Bapak dapat membubuhkan komentar pada website kami. Selamat beraktivitas kembali, Bapak.”


Promosi (1/2 hati) Transjakarta

7 Juli, 2010

Dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan dan pendekatan dengan para pengguna bus transjakarta, Badan Layanan Umum Transjakarta Busway (BLU TB) telah membuka layanan SMS Pengaduan 9250. Bahkan untuk lebih menarik kepedulian para pengguna busway selama bulan Juni 2010 lalu bagi pengirim SMS Pengaduan 9250 terbanyak diiming-imingi dengan Promosi Gratis Sebotol Produk Coca Cola. Promosi tersebut dilakukan dalam bentuk poster yang ditempel di setiap halte busway. Saya sebagai pengguna busway tentu saja tertarik dengan promosi tersebut, iseng-iseng melepas dahaga. Mengingat betapa menyebalkannya menanti bus yang datang di setiap jam pulang kantor antara jam 17 – 19, karena sudah lama, harus berebutan pula dengan penumpang yang lain, tentu saja membuat sebotol minuman menjadi sangat berharga dalam penantian busway tersebut. Fasilitas vending machine yang diletakkan di beberapa halte busway pun saya gunakan untuk membayar kehausan itu. Dengan harga yang tidak jauh beda dengan kaki lima, minuman dari vending machine lebih terjamin karena penyimpanannya. Sayangnya untuk menggunakan mesin tersebut masih dibantu operator yang seringkali tidak berada di tempat.

Pesan demi pesan yang saya kirimkan ke SMS Pengaduan 9250 selama bulan Juni 2010 lalu membuahkan hasil tidak hanya sms ucapan terima kasih dari mesin penjawab sms otomatis beridentitas Hot News, tetapi juga berbagai informasi dari BLU TB. Kemudian pada tanggal 5 Juli 2010 saya mendapat pesan singkat di ponsel saya dari Hot News berbunyi: “04-Tunjukkan & tukarkan SMS ini dengan 1 minuman gratis dari Coca Cola for Jakarta di loket halte Transjakarta yang terdapat vending machine. Berlaku 6-7 Juli’10”. Pada tanggal 6 Juli 2010 sepulang kantor di Halte Ragunan saya tunjukkan SMS tersebut kepada petugas yang kemudian diarahkan untuk menemui operator vending machine.

Dari operator itu saya peroleh informasi bahwa ia mendapat SMS dari Ibu Yuni (085693863347) bahwa orang yang bernama Pak Dudung dari pihak busway tidak setuju dengan program ini sehingga operator diminta untuk menolak pelanggan yang hendak menukarkan SMS tersebut dengan sebotol minuman. Saya tanyakan kepada operator tersebut siapa saja yang sudah klaim botol minuman pada hari itu? Dijawabnya bahwa selama ia berjaga, belum ada satupun kecuali saya yang melakukan klaim SMS gratis minuman tersebut. Enggan berdebat dengan operator tersebut, saya coba hubungi Ibu Yuni dengan nomor yang diberikan oleh operator untuk klarifikasi hingga 3 (tiga) kali, tetapi tidak ada jawaban. Pertanyaan saya mengapa tidak ada SMS klarifikasi dari Hot News yang meminta maaf bahwa program gratis tersebut dibatalkan?

Sekali lagi BLU TB telah menunjukkan kinerja yang tidak profesional dan tidak jelas dengan mengecewakan pelanggan melalui promosi separuh hati (xxxxx xxxxxxxxx).


pembagian gender di bus transjakarta

11 Juni, 2010

Ada hal baru dalam dua hari terakhir yang saya temui ketika menumpang bus transjakarta koridor 6, barangkali hal ini berlaku pula untuk koridor yang lain, yaitu pemisahan antri pintu berdasarkan gender. Selama ini pemisahan antri pintu hanya berdasarkan ibu hamil-orang sakit-berdiri-duduk dan itu pun hanya berlaku di terminal keberangkatan, bukan di setiap halte busway. Kabarnya pemisahan pintu berdasarkan laki-laki dan perempuan ini dilakukan sebagai tanggapan atas laporan kasus pelecehan seksual yang dialami oleh salah seorang penumpang beberapa waktu lalu. Tindakan reaktif ini walau cukup bagus, menurut saya kurang efektif jika belum memisahkan penggunaan busnya.

*update 060710: Ada polling tentang hal ini di http://www.transjakarta.co.id/ kita juga bisa senyum melihat hasil pollingnya lho!*


Cycling, the 2nd

7 Mei, 2010

As a person who tries to respect the rights of others, I try to be consistent with that attitude though sometimes had a little break as long as permitted by the right owner 🙂 As well as when cycling this morning, I felt safe with me pedaling my bike in the lane.

Until now, in Jakarta was not yet provided a special lane for bicycles, so it is still biased to the so-called cycling track. Therefore, using the general rule that motorcycles, bicycles, even cars with low speed should drive in the left lane, so I ride my bike in the left lane. With a little maneuvering to take the pedestrian path, especially when the jam while there was no passing pedestrians.

Several times I’ve seen cyclists who rode in the busway lane, but I did not have enough courage to follow them because I cringe first heard the Transjakarta sound the horn. Besides, by taking the busway lane, I had violated the rights of Transjakarta bus users and put myself at high risk of accidents. Better and safer to ride on the left lane, anyway.

This morning, cycling 20 km to work only takes 60 minutes, 15 minutes faster than before. Could be due to leave early and take a different route: Matoa Golf – Kahfi 1 – Cilandak – Ampera – Kemang Timur – Pasar Warung Buncit – Mampang Prapatan – Kuningan Barat – Jamsostek Bridge – Patra Jasa. Try it, because cycling is refreshing.


%d blogger menyukai ini: