Gentle Birth

18 Agustus, 2011

Bubu lagi kesengsem sama prinsip n metode Gentle Birth.. Rasanya udah ogah banget menjalani proses melahirkan di Rumah Sakit yang full of drama & trauma. Dua kali melahirkan di RS selalu ketemu dgn yg namanya induksi, episiotomi, pemecahan ketuban, pendorongan janin u/ mempercepat kelahiran (lupa istilahnya), dll.
Ingin yang alami dan menyenangkan..

Tapi jujur, nyari info dimana bidan muslimah yg pro gentle-birth, berlokasi di Depok, dan bersedia dipanggil ke rumah sangat2 sulit.. maklum ini pengalaman pertama jadi rasanya masih perlu pendampingan.. next pengen juga nyobain free-birth, dimana proses melahirkan dilakukan sendiri tanpa bantuan bidan atau dokter..

Padahal HPL tinggal sekian minggu lagi.. sempet deg2an juga takut ngga nemu yg pas di hati.. Baba masih pro RS karena khawatir Bubu mengalami pendarahan seperti waktu melahirkan Tsuraya.. padahal tahu ngga, pendarahan bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap obat yg diberikan, terutama obat induksi (ini Bubu baca dari artikel yg ditulis seorang ibu dgn anak penderita Anenchephali).. dan waktu itu Bubu diberikan obat untuk mempercepat pembukaan (sejenis obat induksi) tanpa persetujuan Bubu.. Inilah jeleknya RS, seringkali melakukan tindakan tanpa persetujuan pasien – wali pasien (dalam hal ini Baba) hanya diminta menandatangani form persetujuan tindakan apapun tanpa mengetahui obat/tindakan apa saja yang akan diberikan dan efek sampingnya.. hal ini membuat pihak RS kebal hukum jika suatu saat terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa pasien.. masya Allah..
Padahal Islam sangat menghormati jiwa..

Dan prinsip gentle-birth ini, dengan pendekatannya sendiri, juga sangat menghormati jiwa.. menghormati kekuatan alami seorang perempuan, bahwa melahirkan bukanlah proses yang rumit dan tak perlu dianggap sebagai suatu penyakit..
Metode Gentle Birth bermacam-macam, bahkan proses SC pun bisa dianggap gentle birth jika dilakukan dengan penuh penghayatan, tidak terburu-buru dan memberi kesempatan kepada jiwa ibu dan anak untuk saling berkomunikasi hingga proses kelahiran menjadi minim intervensi medis dan pemulihan pasca melahirkannya pun lebih cepat..

Sudah selayaknya setiap kelahiran memakai prinsip Gentle Birth, karena birth trauma itu nyata.. proses kelahiran yang traumatik bisa terekam dalam pikiran bawah sadar kita dan mempengaruhi perilaku.. hasilnya mungkin kita menjadi pribadi yang mudah cemas, mudah marah, mudah tersinggung, atau mudah mendendam..

Bubu jadi berpendapat, bahwa gentle birth adalah hak setiap anak yang lahir ke dunia.. sudah selayaknya kehadiran mereka disambut dengan hangat dan tenang.. dengan dukungan penuh seluruh anggota keluarga.. kelahiran yang supportif bisa menjadi bekal positif untuk kehidupan anak di masa depan, baik secara fisik maupun mental..

Sudah saatnya menghapuskan paradigma rasa takut yang banyak mempengaruhi sendi kehidupan kita.. dimulai dari kelahiran anak-anak kita..

Depok, 18-19 Agustus 2011/18-19 Ramadhan 1432H

ps: join grupnya yuuk https://www.facebook.com/groups/gentlebirthuntuksemua/


Nulis Lagi Ahh..

1 November, 2010

Sudah 2 tahun blog ini nggak bertambah entri-nya.. Sejak Baba nggak boleh lagi akses multiply dari kantor n Bubu sibuk jualan di kedaijajakaulan.

Ngeliat blog temen2 yang tetep eksis, Baba n Bubu pun jadi ingin menghidupkan lagi blog yang dulu sempat jadi rumah maya kami ini.. apalagi sekarang udah nggak perlu lagi tergantung sama fasilitas intenet kantor n Bubu nggak perlu nitip2 posting ke Baba segala.. hahaha jadul amat yak? 😀

At the end of October, bulan dimana negeri kita sering ditimpa musibah, kami mulai menulis lagi seperti dulu.. setiap goresan dari tuts keyboard adalah jejak hidup yang mudah2an membawa hikmah, bukan sekedar curcol 😀


Due Date – Semua Ada Waktunya

1 November, 2010

Bismillahirrahmanirrahim..

Dulu saya sempat senewen ketika pada minggu ke-40, kedua bayi saya -pada dua periode- belum juga menunjukkan tanda2 akan lahir.. dokter sudah mewanti-wanti untuk segera induksi tapi saya mangkir karena (jujur) saya takut mengalami sakit berlebihan yang akhirnya membuat saya tidak sabar dan memilih jalan operasi..

Pada akhirnya, dua anak saya lahir pada minggu ke 41 dan 42 secara spontan (bahasa bekennya: normal) tanpa induksi.. walaupun saya mendapat banyak ceramahan dari dokter dan bidan soal mangkirnya saya dari proses induksi..

Menurut beberapa -tapi jumlahnya banyak sekali lho..- dari mereka, kelahiran bayi yang terbaik adalah pada minggu ke-39.. lewat dari itu bisa terjadi beragam komplikasi. Tapi baru saja saya menemukan artikel yang menjelaskan bahwa justru minggu ke-39 adalah waktu tercepat kelahiran bayi jika kita menghendaki bayi yang sempurna (dalam arti tidak ada kesalahan prosedur pembelahan sel pada tahap awal kehamilan).. ternyata proses kelahiran memang lebih baik menunggu kontraksi alami..

Banyak sekali teman dan kerabat saya yang memilih jalan operasi akibat tidak memiliki pemahaman soal ini.. tapi saya juga awam, pengalaman saya tersebut di atas saya lakukan hanya berdasarkan intuisi semata.. ada slogan sederhana yang telah menguatkan saya, yang dihadiahkan seorang sahabat yang sangat plegmatis ketika menghadapi saya yang seringkali begitu melankolis, katanya: “semua ada waktunya”..

Tanpa berpanjang-panjang, berikut saya hadirkan artikel yang saya anggap sudah mendukung intuisi saya tadi

Minggu Akhir yang Menentukan

Mengapa minggu-minggu terakhir di trimester 3 menentukan kondisi terbaik bayi setelah lahir

by Adhiatma Gunawan

Belakangan ini seringkali kita mendengar wanita hamil yang menjalani proses persalinannya dengan cara operasi caesar. Ada yang melakukannya karena alasan medis tertentu (atas anjuran dokter), ada juga yang melakukannya dengan alasan praktis (bahkan karena alasan tidak ingin menimbulkan trauma pada organ kewanitaan).

Hari ini bukan isu operasi caesar yang akan kita bahas, melainkan lebih kepada penentuan tanggal lahir si bayi. Ketika proses persalinannya tersebut merupakan elected date (suatu tanggal yang ditentukan, atau persalinan yang direncanakan), maka hasil penelitian dan para pakar menganjurkan untuk sebisa mungkin proses persalinan paling cepat dilakukan di minggu ke-39.

Pertanyaan yang berikutnya akan muncul adalah: Memangnya adakah perbedaan bermakna jika bayi dilahirkan sebelum minggu ke-39 dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan setelah minggu ke-39? Bukankah setelah menginjak usia kehamilan 37 minggu, bayi dinyatakan telah cukup matur untuk dilahirkan?

Jika bayi dilahirkan sebelum usia 37 minggu, maka kita sepakat bayi tersebut digolongkan pada bayi lahir prematur (persalinan prematur). Nah, tapi apa bedanya jika bayi dilahirkan usia 37 minggu dibandingkan bayi yang lahir sekitar usia kehamilan 40 minggu?

Walaupun hanya selisih sekitar 3 minggu, tapi penelitian membuktikan bahwa di minggu-minggu terakhir itulah perkembangan semua organ tubuh bayi mengalami kesempurnaan. Paru-paru lebih matang dan lebih siap. Demikian juga organ lain seperti otak, liver dan lainnya, akan mengalami kesempurnaan -walau hanya- pada interval waktu 2 minggu tersebut.

Selain itu, berat badan bayi juga mengalami kenaikan signifikan di trimester 3, oleh sebab itu selisih waktu kelahiran 1 minggu saja bisa berdampak pada berat badan bayi lahir. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadinya gangguan pada organ maupun sistem pertahanan tubuhnya.

Kecuali dikarenakan faktor medis, jika ibu hamil ingin melahirkan dengan cara induksi maupun operasi caesar, (elected date) ada baiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter, sehingga tanggal persalinan bisa sedekat mungkin dengan minggu ke-39 atau 40.

Berikut link untuk menuju tulisan aslinya:
http://www.mommeworld.com/post/view/…ng-menentukan/

Semoga tulisan ini menentramkan hati para bumil yang cemas menanti due-date


%d blogger menyukai ini: