cermin

26 Agustus, 2016

​sikap terbaik orang yg dinasihati adalah menjadikan nasihat cukup sebagai cermin bagi dirinya, bukan membalik cermin kepada yg menasihati. karena tentu saja, orang yg diberi hikmah selalu bercermin terlebih dahulu sebelum berjumpa manusia.
@ndi, 24111437


rumahku panas!

8 November, 2007

“bener deh, semua laki-laki sama!”

“lho, memangnya ada apa kok bisa-bisanya mbak bilang begitu?”

“ya iya lah, tadi mas andi kan cerita kalau kemarin pulang kantor kemalaman, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, apa nggak mikir kalau ada yang nungguin di rumah?”

“hehehe, saya sih lebih enak kalau sudah sampai di rumah gak ketemu sama kerjaan kantor, bercengkerama dengan keluarga jadi lebih asyik. makanya saya coba selesaikan di kantor”

“tapi itu pekerjaan gak bakalan pernah selesai, perempuan tuh maunya, laki-laki kalau sudah jamnya pulang ya pulang, gak usah pake alasan macam-macam buat terlambat pulang”

“bukan begitu, mbak. mungkin setiap laki-laki punya alasan berbeda. memang apa yang mendasari mbak mencak-mencak sama saya begitu? apalagi mbak cuma teman saya?”

mulailah perempuan itu bercerita tentang kondisi rumah tangganya karena suaminya yang selalu punya alasan terlambat pulang. saya coba menyimak baik-baik supaya apa yang saya katakan kepadanya nanti tidak melukai perasaannya. maklum perempuan, sama citra aja saya masih suka salah bicara, apalagi sama perempuan itu yang cuma teman biasa.

semua keluhan tentang kelakuan suaminya yang suka terlambat pulang terpampang di muka saya seperti cermin… hehehe, maklum saya kadang-kadang memang suka telat pulang. tetapi ya, itu tadi saya punya alasan yang jelas misalnya rapat yang selesai terlalu sore, atau ada tugas tiba-tiba yang harus saya siapkan karena dibutuhkan malam itu juga oleh bos, atau karena hujan: kalau yang ini saya katakan ke citra, “sayang, masak lebih suka mas sakit kehujanan daripada pulang sehat?” 🙂

nah, berkaitan dengan kelakuan suami teman itu, saya coba mengelus dada, tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkan. tetapi saya coba mengarahkan pembicaraan, bahwa apa yang kita inginkan sebenarnya adalah cerminan dari apa yang kita lakukan.

mari bercermin, apa yang kita ingin lihat? wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan? lalu apakah pada cermin terbayang hal-hal tersebut? apabila saat bercermin kita baru bangun tidur dengan rambut awut-awutan dan pakaian acak-acakan, tentu saja tidak akan kita lihat wajah cantik menarik penuh senyum dan menawan.

begitu pula, kalau kita ingin melihat pasangan kita memahami kita sesuai dengan keinginan kita, bukankah seharusnya kita bercermin, apakah kita sudah sesuai dengan apa yang ingin dilihat oleh si dia? kadang-kadang sulit karena masing-masing keras kepala! tidak ada yang mau mengalah!

“kan aku juga lelah, bayangkan harus mengejar-ngejar klien, naik turun tangga. pulang-pulang tidak mendapati suami di rumah. bagaimana tidak kesal? bisa-bisa piring terbang bersliweran ketika dia pulang, huh!”

waduh, hal ini dapat dipahami karena kurangnya komunikasi antara pasangan. banyak pasangan lupa bahwa menikah, justru harus memperbanyak komunikasi karena persoalan yang dihadapi jelas bertambah. bagi yang pernah pacaran, komunikasi lebih sering sekedar basa-basi. tetapi kalau sudah menikah, semua komunikasi adalah hal-hal matang yang ada konsekuensinya.

tak pelak lagi, sikap tidak mau mengalah bisa bikin rumah makin panas. cuma toleransi jawabannya: saling mendukung untuk hal-hal yang disepakati dan saling toleran untuk hal-hal yang sulit disepakati. Dalam kacamata islam: toleransi dibatasi dengan hal-hal yang sesuai syariah, sedangkan untuk hal yang diluar syariah hukumnya jelas: haram.

maka upaya saling memahami antara pasangan harus dimulai dari titik persamaan yang dimiliki oleh keduanya. akan sulit, namun pasti kecewa jika tidak dicoba. toh, pasangan yang sudah melalui Golden Anniversary saja masih ada sedikit ketegangan, apalagi yang baru menikah seumur jagung. alangkah sayangnya jika hal-hal yang tidak prinsip secara syar’i  merusak usia pernikahan kita?


%d blogger menyukai ini: