cacing tanah dan keimanan

31 Maret, 2013

Cacing tanah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan mengurai zat-zat organik, secara tradisional dikenal juga dengan khasiatnya yang seketika meredakan demam. Di dalam literatur Islam, cacing tanah dikelompokkan ke dalam الحشرات  atau binatang melata. Penggunaannya untuk pertanian dan peternakan tidak diragukan kebolehannya. Namun penggunaan cacing tanah untuk dimakan diperselisihkan, karena tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya.

Merujuk kepada pendapat yang dianggap lebih kuat, kebanyakan binatang melata diharamkan untuk dimakan oleh seorang muslim. Alasan keharamannya bukan karena menjijikkan, sedangkan kriteria jijik berbeda-beda pada setiap kaum, melainkan karena tidak dapat disembelih. Binatang yang matinya tidak disembelih berstatus sebagai bangkai. Sebagai binatang yang darahnya tidak mengalir, bangkai cacing tanah tidaklah najis. Tetapi Allah telah mengharamkan untuk memakan seluruh bangkai kecuali dua jenis yaitu bangkai hewan air dan belalang.

Bolehnya memakan yang haram hanya dikhususkan pada kondisi darurat. Mayoritas ulama sepakat bahwa keadaan darurat yang dimaksud adalah pada keadaan yang menyebabkan kematian jika tidak memakannya. Kalau masih ada obat lain walaupun reaksi penyembuhannya lambat, tidak dianggap sebagai darurat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk menghindari pengobatan dengan yang haram kecuali sama sekali tidak menemukan obat pengganti yang halal atau diperkecualikan oleh dalil. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah ia menyerah kepada keadaan dengan memakan obat mujarab walaupun kehalalannya diragukan atau tetap istikamah dalam pendirian imannya, yaitu berobat dengan yang halal dan bersabar menjalani takdir. Semoga Allah memberi pahala.

والله أعلم بالصواب

rujukan tulisan:

1. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3659-hukum-cacing-sebagai-obat.html
2. http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html
3. http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf


Mesirku malang

4 Februari, 2011

Sebagai sebuah negeri muslim yang telah berada pada peradaban dunia beribu-ribu tahun lamanya, tentulah Mesir memiliki kekayaan khasanah yang mendewasakan masyarakatnya. Namun apa yang terjadi di Mesir beberapa hari belakangan ini tentulah mengiris jiwa. Betapa tidak, darah tertumpah untuk menggulingkan kekuasaan yang dianggap lalim. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Mesir sangat berpengalaman dalam hal ini karena tidak hanya di masa demokrasi, juga sering terjadi di masa kesultanan Islam, bahkan di zaman Firaun dan raja-raja Mesir Kuno. Yang sangat disayangkan adalah gejolak ini digerakkan oleh orang-orang yang mengaku muslim dan aktif dalam dakwah.

Apakah mereka lupa dengan Quran dan Hadits yang mereka dakwahkan telah melarang untuk menumpahkan darah sesama muslim? Apakah mereka lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan agar setiap muslim tetap mendengar dan taat kepada pemerintah, walaupun ia memukul punggung dan mengambil harta dengan paksa (Ref HR Muslim)? Lalu apa bedanya mereka dengan Bani Israil yang diperingatkan oleh Allah karena telah menumpahkan darah dan mengusir saudara sebangsanya (Ref QS 2:84)? Mereka mengira telah berbuat kebaikan, padahal telah memecah belah dan berbuat kerusakan (Ref. QS 9:107, 2:11).

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, mendamaikan pertikaian di antara mereka dan menganugerahi mereka pemimpin yang bertaqwa.


%d blogger menyukai ini: