Kelakuan kita terhadap dosa

14 Oktober, 2015

Perilaku kita menghadapi dosa-dosa besar adalah cerminan keadaan hati kita,

… dan juga masyarakat kita.

image

Anas berkata: “Anda telah melakukan perbuatan yang telah, di mata anda, sangat kurang penting. Walaupun di zaman Rasulullah (salawat dan salam dari Allah ke atasnya) kami menganggapnya sebagai dosa-dosa besar. ” [HR. Al-Bukhari]

… dan ini telah dikatakan lebih dari 1300 tahun yang lalu

………………………………………………………….

Notre coeur face aux péchés majeurs

………………………………………………………….

Al-Hasan berkata: “Kami pernah mengetahui beberapa orang yang takut kebaikan mereka akan ditolak, (merasa) lebih prihatin daripada kalian yang tidak takut diazab atas perbuatan dosa kalian.” [al-Jaami’]

#hijrah


baunya dosa

17 Februari, 2015

Asyiknya membicarakan kesalahan orang lain. Serunya menggunjingkan dosa orang lain. Ramainya memperbincangkan kekeliruan orang lain. Sampai-sampai lupa bahwa diri sendiri juga punya kesalahan, dosa dan kekeliruan.

View on Path


tentang buruk sangka

31 Januari, 2015

Berburuk sangka itu mudah. Saking mudahnya ga perlu usaha. Cukup gunakan mata, telinga, dan mainkan perasaan.

Sayangnya tidak berpahala, malah berdosa.

View on Path


tentang sakit

27 Januari, 2015

Berbulan-bulan kepayahanmu yang lalu berjuang melawan sakit, Bapak. Engkau telah terus menerus mengharapkannya sebagai penghapus bagi dosa-dosamu.

Rasa lelah kami yang telah lalu di sisimu, Bapak. Kami mengharapkannya lebih dari sekadar bakti, tetapi juga sebagai penghapus dosa-dosa kami.

Beristirahatlah, Bapak, setelah sirna semua rasa letih dan nyeri itu. Biarkanlah kami terus merangkai doa untuk kesejahteraan engkau.

View on Path


tentang kebajikan dan dosa

17 Januari, 2015

عن النواس بن سمعان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” البر حسن الخلق والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس ” رواه مسلم

Dari An Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Kebajikan itu keluhuran akhlaq sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya”. (HR. Muslim)

View on Path


tentang menahan nafkah

19 Desember, 2014

Bagi yang mendapat bonus, upah, SHU, atau deviden, harus INGAT untuk memberikan jatahnya kepada keluarga dan orang2 yg ditanggungnya 😉

View on Path


paling-paling

12 November, 2014

Kalau kita terus menerus melihat keburukan orang lain, maka tidak ada yg tersisa kecuali melihat diri kita berada pada tempat yg paling baik.

Kalau kita terus menerus mempersalahkan orang lain, maka tidak akan tersisa kecuali kita berada pada kondisi yg paling benar.

Kalau kita terus menerus memandang dosa orang lain, maka tidak akan tersisa kecuali kita memandang diri sendiri paling suci.

View on Path


jangan meremehkan perkara kecil

8 Maret, 2014

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS 31:16)

Adalah kita seringkali menganggap perkara-perkara kecil adalah hal yang biasa diremehkan. Karena tidak signifikan maupun tidak fantastis sehingga patut diabaikan. Tidak peduli bahwa yang kecil-kecil itu tetaplah terhitung di catatan amal.

Padahal terlambat walaupun sebentar tetaplah terlambat. Berdusta walaupun kecil dan membuat tawa tetaplah berdusta. Membuang sampah sembarangan walaupun sepotong kulit kacang tetaplah sembarangan. Mencuri walaupun sebatang pensil pun tetaplah mencuri.

Sedangkan senyuman yang tulus walaupun sesungging tetaplah senyuman. Sedekah walaupun sesen pun tetaplah sedekah. Menepati janji walaupun kepada anak kecil pun tetaplah disebut tepat janji. Berbuat baik walaupun sekadar menyingkirkan duri di jalanan tetaplah sebagai wujud keimanan.

Oleh karenanya, patutlah bagi kita mulai memperhatikan hal-hal kecil dan tidak meremehkannya. Bukan untuk mempersoalkan, melainkan untuk berbuat lebih baik. Agar balasan dari Allah yang kita harapkan adalah balasan yang baik pula.


mas masih kecil

3 Mei, 2013

1
Kata Radya suatu hari, “Bubu, kok Bubu suka nyanyi sih?”
Bubu yg lagi nyanyi langsung mendelik.. “Eh, emang kenapa Mas?”
“Kan kata Bu Guru ngga boleh nyanyi, dosa”
“Dosa gimana?”
“Tauk,” sambil ngangkat bahu dan ngeloyor pergi

2
Radya lagi babling soundtrack game Angry Birds sambil main
Bubu, “Yaah kok Mas nyanyi sih? Katanya dosa?”
Radya langsung diam dan nyengir
Tsuraya yg ada di dekatnya menimpali, “Kan Mas masih kecil Bu, jadi boleh nyanyi. Yang dosa tuuuh orang dewasa. Bubu kan orang dewasa ya Mas? Jadi Bubu yang ngga boleh nyanyi.. Kita kan masih anak-anak jadi boleh nyanyi.. Huu Bubu sih ngga tau”
Masnya ketawa, Bubu nyaut, “Eh, latihan itukan dimulainya dari masih kecil, jadi nanti kalau udah dewasa udah terbiasa”
Masnya menimpali, “Iya dek, kata Bu Guru Mas juga begitu”
Tsuraya langsung pasang muka sewot, barangkali di pikirannya “Ih Mas, udah Aya belain kok malah belain Bubu sih?”

*Inilah bedanya cara berpikir n bicara laki-laki dengan perempuan.. 😀


لا بأس طهور إن شاء الله

6 April, 2013

feverRasulullah صلي الله عليه وسلم dalam hadits riwayat al-Bukhari menganjurkan orang yang menjenguk orang sakit agar menghiburnya dengan doa:

لا بأس طهور إن شاء الله

“Tidak mengapa, semoga membersihkanmu dari dosa-dosa, atas seizin Allah”.

Ketika babanya sakit, Radya, 7 tahun, menghibur dengan doa tersebut. Penghiburan yang berganda, selain karena doa dan makna doa tersebut, karena yang menyampaikannya adalah seorang anak kecil yang belum baligh sebagai tanda berkahnya pendidikan yang dipatri ke dadanya.

Ketika Radya sakit, baba mencoba menghiburnya dengan doa tersebut. Namun sesungguhnya doa itu bukan ditujukan untuknya. Seorang anak kecil yang belum baligh tidaklah memiliki dosa-dosa, walaupun ia melakukan kesalahan maka pena diangkat (dari catatan amal) dan ia dianggap keliru, karena akalnya belum sempurna. Maka doa penghiburan itu sesungguhnya ditujukan kepada babanya sendiri.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, dari Nabi صلي الله عليه وسلم beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

rujukan:

  1. http://kaahil.wordpress.com/2008/12/27/6-adab-dan-tuntunan-lengkap-ketika-sakit/#more-624
  2. http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3359-apakah-anak-kecil-mendapat-pahala-amalan-sholeh.html
  3. http://al-atsariyyah.com/anak-tanggung-jawab-ayah.html

%d blogger menyukai ini: