perempuan kebaikan

21 April, 2015

Perempuanlah, kaum ibu, yang pertama-tama meletakkan bibit kebaikan maupun keburukan ke dalam hati sanubari manusia, yang biasanya tetap terkenang sepanjang hidupnya.

https://pondokecil.com/2010/04/22/untuk-inilah-kami-minta/

View on Path

Iklan

Untuk inilah kami minta

22 April, 2010

Banyak perempuan Bumiputera yang terpelajar, bahkan lebih terpelajar dan jauh lebih cakap daripada kami, yang baginya tersedia segala sesuatu. Yang baginya tidak mungkin tidak ada kesempatan untuk mengisi ruhaninya dengan santapan berbagai ilmu, yang baginya sama sekali tak ada hambatan dalam mencerdaskan ruhaninya. Yang baginya apa saja yang dikehendakinya dapat terjadi. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Tidak dapat mencapai apapun, untuk meningkatkan derajat sesama perempuan dan bangsanya.

Mereka jatuh lagi ke dalam adat kebiasaan lama atau sama sekali hanyut dalam dunia kehidupan Eropa. Berarti bangsanya kehilangan mereka, padahal mereka sebenarnya mampu memberi rahmat kepadanya. Asalkan mereka mau, mereka seyogyanya memimpin bangsanya ke dunia yang terang benderang, ke tempat itu mereka diantarkan oleh pendidikan.

Bukankah merupakan kewajiban tiap orang, yang lebih berbudi dan lebih pandai, untuk membantu dan memimpin bangsanya yang terbelakang daripadanya itu dengan kepandaian dan pengetahuannya yang lebih tinggi itu? Memang tidak ada undang-undang yang nyata mewajibkannya berbuat demikian, tetapi atas budi baik ia berkewajiban yang demikian itu.


(10 Juni 1901, surat Kartini kepada Tuan Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya di Jena)

Baca entri selengkapnya »


antara kartini, bumi dan aku

23 April, 2008

Hampir tak satupun orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa 21 April adalah hari kelahiran Kartini, anak putri Bupati Jepara yang dikokohkan sebagai pahlawan nasional Indonesia karena pemikirannya untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Kartini memang baru menjajaki tararan pemikiran karena Sekolah Kartini baru berdiri 8 tahun setelah meninggalnya beliau. Perjuangan pemikirannya justru terlaksana oleh Dewi Sartika dengan berdirinya Sakola Istri di tahun 1904 (tahun ketika Kartini wafat). Namun malangnya gagasan yang mulia tentang pendidikan bagi perempuan[1][2] diartikan secara sempit sebagai emansipasi.

[baca selanjutnya dong]


%d blogger menyukai ini: