zakat uang: nisab emas atau perak?

15 Agustus, 2012

Uang adalah alat pembayaran yang sah yang ditetapkan oleh pemerintah suatu otonomi atau negara. Uang yang kita kenal saat ini berupa uang kertas maupun uang logam hanyalah uang yang memiliki nilai jaminan (ekstrinsik) bukan nilai intrinsik. Di zaman dahulu uang memiliki nilai jaminan sekaligus nilai intrinsik, karena dibuat dari logam mulia seperti emas dan perak. Baru pada masa belakangan saja muncul uang dengan nilai yang lebih rendah misalnya dari logam perunggu atau tembaga. Pembahasan mengenai sejarah uang dan nilainya cukup panjang lagipula tidak relevan dengan judul di atas.

Di dalam Islam, uang merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah terkumpul dalam jumlah tertentu (nisab) dan tersimpan dalam masa satu tahun (haul). Uang yang dikenal pada saat itu adalah dinar yang terbuat dari emas yang beratnya 1 mitsqal (4,25 gram) dan dirham yang terbuat dari perak yang beratnya 7/10 mitsqal (2,975 gram). Nisab dinar adalah 20 dinar sedangkan nisab dirham adalah 200 dirham. Adapun besaran zakatnya adalah 1/40 (2,5%). Kemudian perhiasan emas dan perak mengikuti perhitungan nisab di atas dalam bentuk bobotnya. Emas yang memiliki bobot sebesar 20 mitsqal (85 gram) dan perak yang memiliki bobot sebesar 200 dirham (595 gram) sudah termasuk kriteria wajib untuk dizakati.

Ketika muncul uang dengan nilai jaminan emas atau perak, maka nisabnya mengikuti emas dan perak sebagaimana perhiasan. Permasalahan mulai timbul ketika diterbitkannya fulus atau uang dengan nilai yang lebih rendah daripada emas dan perak. Apalagi di masa sekarang muncul berbagai mata uang dan kurs menambah pelik persoalan zakat. Untunglah emas dan perak masih dipertahankan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, sehingga kita masih bisa menghitung zakat uang berdasarkan harga emas dan perak pada hari ini menurut mata uang yang berlaku.

Melihat angka nisab pada saat syariat zakat ditetapkan, dapat diketahui bahwa nilai 1 keping dinar setara dengan 10 keping dirham. Namun di masa sekarang nilai 1 keping dinar sebanding dengan 25 keping dirham [www.logammulia.com] sehingga sebagian ulama kontemporer dengan mempertimbangkan maslahat yang lebih besar kemudian mengiaskan (qiyas) nilai uang yang wajib dizakati adalah yang sudah memenuhi nisab antara emas dan perak mana yang lebih rendah.

Misalnya harga 1 gram emas saat ini setara Rp500 ribu, maka nisabnya adalah Rp42,5 juta. Apabila harga 1 gram perak adalah Rp10,5 ribu, maka nisabnya adalah Rp6,2 juta. Karena nisab perak lebih rendah daripada nisab emas, maka uang yang melebihi Rp6,2 juta (tidak perlu menunggu terkumpul Rp42,5 juta) dan sudah tersimpan selama 1 tahun wajib untuk dizakati.

Tulisan ini sekaligus memperkaya pengetahuan pada tulisan saya sebelumnya mengenai zakat penghasilan di sini dan di sini.


belum terlambat

29 Desember, 2010

Anda sempat membaca tulisan saya tentang naik gaji? Pada tulisan itu saya hanya ingin mengajak Anda kembali melihat bahwa gaji kita (jika beruntung mendapatkan majikan yang memahami time value of money) akan selalu berkejaran dengan inflasi. Kenaikan gaji setinggi apapun pada kenyataannya tetap tergerus oleh inflasi yang terus membubung. Maka untuk menyelamatkan kebuntungan karena salah menabung, perlu dibenahi lagi pilihan investasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi hari depan kita. It’s never too late to start 🙂


naik gaji

27 Desember, 2010

naik gaji bagi kebanyakan orang adalah suatu yang didamba-dambakan. beberapa orang bahkan tidak naik gaji sejak bertahun-tahun yang lalu. sebagian lagi malah tidak pernah gajian. namun sejauh mana gajian itu mampu memenuhi penghidupan sendiri maupun keluarga yang ditanggung? sementara daya beli uang di tangan terus menurun seiring kenaikan inflasi yang dipertahankan setiap tahunnya.

saya sendiri, naik gaji cukup disambut dengan rasa syukur alhamdulillah. perusahaan tempat saya bekerja memahami tentang time value of money, sehingga untuk mendukung penghidupan para pekerja, perusahaan selalu berupaya menaikkan gaji pekerja di atas tingkat inflasi yang berlaku. terhadap hal ini saya menyadari bahwa tidak selalu naik gaji sama dengan mendapatkan kelebihan uang. gaya hidup yang saya terapkan hampir selalu sama, baik sekarang maupun beberapa tahun yang lalu. akan tetapi persentase uang yang ditabung maupun yang dihabiskan untuk kebutuhan hidup tetaplah sama.

mendapati hal ini saya membuat suatu cantolan atau mengkonversi nilai gaji saya dengan nilai emas. histori harga emas dapat dengan mudah kita dapatkan di kitco. ternyata sejak pertama kali saya bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu sampai sekarang, walaupun secara rupiah mengalami peningkatan secara signifikan (300%)  saya hanya menikmati kenaikan gaji senilai 6 gram emas saja.


menghidupkan kembali ukuran dalam Islam

2 September, 2010

“Untuk apa?”, barangkali itulah pertanyaan yang muncul ketika saya menelurkan judul di atas, “bukankah sudah ada konversi?” Bagi kebanyakan orang memang terlihat sepele, dengan adanya teknologi masa kini memungkinkan kita menggunakan konversi bahkan untuk suatu ukuran yang tinggal kenangan. Namun kenyataannya jika dikaitkan dengan ibadah yang nash-nya tertulis jelas dalam bentuk ukuran “kenangan” itu, tentu akan menyulitkan dan pasti akan timbul pertanyaan, “berapa sih konversinya?” Itulah yang saya alami ketika menelusuri takaran zakat fitrah.

Baca entri selengkapnya »


redenominasi rupiah mungkin tidak sama dengan sanering

4 Agustus, 2010

Pemerintah berencana melakukan redenominasi terhadap mata uang rupiah untuk memudahkan transaksi keuangan dan perbankan mulai tahun 2013. Sementara itu para pakar meredam keresahana masyarakat dengan berupaya meyakinkan bahwa redenominasi tidak sama dengan sanering (pengguntingan nilai uang) dengan alasan perekonomian Indonesia cukup stabil, sosialisasi dilakukan selama 2 tahun (berbeda dengan sanering yang menurut sejarah dilakukan tiba-tiba). Namun nampaknya perlu syarat tambahan yaitu mempertahankan daya beli dan mengembalikan rujukan cadangan devisa kepada komoditas nyata seperti emas, perak, migas, minyak sawit, dll instead of komoditas semu seperti US Dollar atau mata uang berkuasa lainnya.

Baca entri selengkapnya »


kembali ke dinar

12 Oktober, 2008

tak ada yang menyangsikan bahwa emas adalah uang sebenarnya yang berlaku sepanjang zaman kecuali orang-orang yang dibutakan dengan fulus dan ekonomi moderen yang njelimet. Mata uang emas yang disebut Denarium telah digunakan oleh bangsa Romawi ribuan tahun yang lalu, begitupula mata uang perak yang desebut Drachma telah digunakan oleh bangsa Persia. Bahkan mata uang emas juga digunakan oleh bangsa Cina dan Mesir kuno. Peradaban yang jauh lebih tua daripada peradaban moderen itu menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar yang sah dan adil.

Dinar dan Dirham yang digunakan oleh umat Islam mengadopsi mata uang Romawi dan Persia, bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena bimbingan wahyu dari Allah dan terekam dalam Alquran bahwa emas dan perak adalah harta maupun alat tukar yang sebenarnya. Bahkan untuk urusan ibadah seperti membayar zakat menggunakan dinar dan dirham dalam memperhitungkan zakat.

Jadi, dinar dan dirham haruslah dikembalikan kejayaannya setelah seabad dilupakan oleh umat Islam sedunia supaya mengangkat derajat umat ini kembali kepada ekonomi islam yang memakmurkan, bukan menghancurkan.

bacaan lebih lanjut:


ramai-ramai

12 Oktober, 2008

di banyak milis, di banyak situs, di banyak forum ekonomi, hampir semuanya membahas masalah resesi ekonomi yang dihadapi saat ini. sampai-sampai bursa efek Indonesia harus menutup kegiatannya untuk menghindari kejatuhan IHSG yang lebih parah. banyak orang yang mulai melek lagi bahwa ada harta berharga yang seharusnya menjadi instrumen investasi yang lebih aman dimiliki daripada lembaran kertas berisi jaminan investasi semisal saham, obligasi, valas, reksadana, dan deposito. Harta berharga itu adalah logam mulia yang berkilau tidak hanya bentuknya tetapi juga daya jual belinya saat ini dan mampu memproteksi kekayaan riil, yaitu emas.

Hari ini harga emas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga beberapa bulan lalu, hanya saja karena sebelum lebaran harganya sempat jatuh, maka kenaikan harga emas jadi lebih terasa signifikan. Banyak orang beramai-ramai menjual sahamnya guna menghindari kerugian lebih jauh, banyak orang beramai-ramai membeli emas karena melek (entah melek sesaat atau melek terus) bahwa emas memang uang yang sebenarnya. Namun seharusnya pada masa kini, apalagi buat yang gak punya uang buat beli emas, cara yang paling jitu untuk tetap survive adalah tetap bekerja dan berdoa kepada Allah supaya diberikan kemudahan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat 🙂


%d blogger menyukai ini: