dilema fatwa dan kenyataan

26 Agustus, 2012

Menjelang pilkada Gubernur DKI putaran kedua, media massa melambungkan berita mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh salah satu cabang dari lembaga keulamaan di Indonesia. Dan sebagaimana pada umumnya berlaku fasik, media massa mengemas berita sebegitu rupa sehingga fatwa tersebut seolah-olah berpotensi menguntungkan salah satu kandidat dan mengganjal kandidat yang lain. Padahal yang namanya fatwa tidak sembarangan dikeluarkan tanpa adanya permintaan dari umat dan tentu saja dengan mempertimbangkan pemahaman keagaamaan dan kondisi kekinian.

Di masa krisis moralitas seperti sekarang, kebanyakan umat berada dalam dilema antara mengikuti fatwa dan menilai kenyataan. Bagi mereka mungkin adalah pilihan yang sama-sama buruk, sehingga memerlukan fatwa untuk menguatkan mana yang lebih sedikit mudaratnya. Sayangnya ketika fatwa yang dikeluarkan tidak sesuai dengan “hati nurani” (atau mungkin “hawa nafsu”) maka menjadilah sebagian besar dari mereka keringat dingin dan mencari-cari justifikasi yang dapat disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Lagipula, agama adalah nasehat. Fatwa sebagai salah satu sarana nasehat dari pemuka agama kepada umatnya, seharusnya disikapi dengan adil dan tidak perlu dipolitisasi. Karena ekslusivitasnya pun sebaiknya yang tidak berkompeten dan tidak mumpuni menjaga lisan dan hatinya untuk mengomentari. Oleh karenanya orang-orang dari luar komunitas umat yang dituju oleh fatwa itu sendiri sebaiknya juga menahan diri untuk berkomentar.

Wallahu waliyut taufiq.

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/08/08/memilih-pemimpin-karena-agama-masih-pantaskah/


banjir atau tergenang air

29 Oktober, 2010

barangkali pak gubernur harus menegur asistennya yang memilihkan penggunaan frase “genangan air” pada peristiwa kebanjiran di jakarta pekan ini.

merujuk kepada KBBI, walau kata “kegenangan” serupa dengan kata “kebanjiran”, makna kata dasar keduanya jauh berbeda.

banjir adalah kondisi dimana air banyak dan mengalir deras, karena meluapnya sungai akibat tingginya curah hujan atau arus pasang naik. sedangkan genang adalah kondisi tertutupi atau terendam air karena terhenti mengalir.

bagaimanapun, mestilah jadi prioritas gubernur dki untuk meminimalisasi dampak kebanjiran jakarta berikutnya.


%d blogger menyukai ini: