pensiun almarhum bapak

6 Februari, 2015

Melalui PT. Taspen (Persero), Pemerintah memberikan uang duka wafat dan asuransi kematian kepada keluarga almarhum pensiunan PNS. Selain itu, masih menggaji almarhum bapak selama 4 bulan setelah wafat. Pada bulan ke-5 dan seterusnya ibu pun berhak atas gaji janda.

Fasilitas ini tentulah terinspirasi dari syariat Islam: masa duka janda ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari, serta anjuran berbuat baik kepada para janda. Masya Allah.

Semoga Allah ta’ala terus memberkati Pemerintah Republik Indonesia. Amin. – at PT. Taspen (Persero)

See on Path

Iklan

kurban dan gaji

29 September, 2014

seorang teman pernah bercerita:

ketika ia berkurban 1 ekor kambing seharga 700 ribu maka gak lama gajinya jadi 7 juta sebulan.

ketika berkurban 1 ekor kambing seharga 1 juta, gak lama gajinya naik jadi 10 juta.

ketika berkurban sepertujuh sapi seharga 2 juta, gak lama gajinya naik jadi 20 juta.

dia lalu menanyakan berapa harga kurban seekor sapi.

saya buru2 mengingatkan: jangan beribadah demi keuntungan dunia. luruskan niat dan sempurnakan ibadah. urusan hasilnya terserah Allah.

baru-baru ini saya goda dia dengan seekor sapi limosin seharga 35 juta.

dia menjawab: “waduh saat ini, mental dan kompetensi untuk menerima gaji sebesar itu, belum siap.”

😅


belum terlambat

29 Desember, 2010

Anda sempat membaca tulisan saya tentang naik gaji? Pada tulisan itu saya hanya ingin mengajak Anda kembali melihat bahwa gaji kita (jika beruntung mendapatkan majikan yang memahami time value of money) akan selalu berkejaran dengan inflasi. Kenaikan gaji setinggi apapun pada kenyataannya tetap tergerus oleh inflasi yang terus membubung. Maka untuk menyelamatkan kebuntungan karena salah menabung, perlu dibenahi lagi pilihan investasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi hari depan kita. It’s never too late to start 🙂


naik gaji

27 Desember, 2010

naik gaji bagi kebanyakan orang adalah suatu yang didamba-dambakan. beberapa orang bahkan tidak naik gaji sejak bertahun-tahun yang lalu. sebagian lagi malah tidak pernah gajian. namun sejauh mana gajian itu mampu memenuhi penghidupan sendiri maupun keluarga yang ditanggung? sementara daya beli uang di tangan terus menurun seiring kenaikan inflasi yang dipertahankan setiap tahunnya.

saya sendiri, naik gaji cukup disambut dengan rasa syukur alhamdulillah. perusahaan tempat saya bekerja memahami tentang time value of money, sehingga untuk mendukung penghidupan para pekerja, perusahaan selalu berupaya menaikkan gaji pekerja di atas tingkat inflasi yang berlaku. terhadap hal ini saya menyadari bahwa tidak selalu naik gaji sama dengan mendapatkan kelebihan uang. gaya hidup yang saya terapkan hampir selalu sama, baik sekarang maupun beberapa tahun yang lalu. akan tetapi persentase uang yang ditabung maupun yang dihabiskan untuk kebutuhan hidup tetaplah sama.

mendapati hal ini saya membuat suatu cantolan atau mengkonversi nilai gaji saya dengan nilai emas. histori harga emas dapat dengan mudah kita dapatkan di kitco. ternyata sejak pertama kali saya bekerja di perusahaan ini enam tahun yang lalu sampai sekarang, walaupun secara rupiah mengalami peningkatan secara signifikan (300%)  saya hanya menikmati kenaikan gaji senilai 6 gram emas saja.


zakat atau sedekah

22 Desember, 2008

mas, mau tanya, minta referensi badan or lembaga zakat penghasilan yg bisa dipercaya dong. mksh

mo bayar zakat nih? untuk pribadi atau kantor?

untuk pribadi

gaji kamu mencapai Rp25 juta pertahun? ada sisa yang ditabung atau habis semua?

ya sampe, tapi kepake semua, sisa jarang ada. begini, niatnya aku mau tiap gajian disisihin 2,5% buat zakat. biar berkah. tapi bingung kasih ke mana.

kalo begitu kamu gak wajib zakat, zakat hanya untuk yang berkelebihan. kamu sedekah aja, bisa lewat lembaga zakat, kotak sumbangan, kencleng masjid atau kepada pengemis. semoga Allah membersihkan harta kamu.


PENGHASILAN TIDAK PERNAH CUKUP (BAG 1/3)

3 Mei, 2005

Dikutip dari Danareksa.com

“Aduh..gaji cuma numpang lewat aja nih !” kalimat ini sepertinya tidak asing bukan ? Anda mungkin secara tidak sadar pernah mengucapkannya atau paling tidak pernah terlintas dipikiran atau mendengar teman-teman Anda mengucapkan kalimat ini. Anehnya kalimat ini seringkali terucap pada saat belum lama orang gajian. Orang sering mengeluh karena penghasilannya dirasa terlalu kecil sehingga tidak memiliki cukup uang untuk beli ini itu. Biasanya kalau sudah begitu orang menuding kenaikan harga-harga sebagai biang keladi gaji yang tak pernah cukup. Mulai dari sembako sampai barang kebutuhan sehari-hari lainnya seperti susu, pasta gigi, sabun, mi instant, bahkan baju, sepatu, dan kosmetik, semuanya merambat naik. Belum lagi kenaikan tarif telpon, listrik, air, atau biaya transportasi, yang semakin membuat pengeluaran Anda membengkak. Jangan lupa lho, biaya pendidikan anak-anak berikut buku-buku pelajaran sekolahnya juga rajin sekali naik tiap tahunnya. Masalahnya, belum tentu kenaikan harga-harga ini selalu diimbangi dengan kenaikan penghasilan kita, bahkan tidak jarang yang terjadi adalah sebaliknya

Namun kenaikan harga-harga bukanlah satu-satunya penyebab gaji yang tidak pernah cukup. Sebab ada juga orang yang merasa penghasilannya tidak pernah cukup, tidak perduli sudah berapa kali kenaikan gaji yang diterimanya. Mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya, dimana pernah menarik ratusan atau puluhan tibu rupiah dari ATM kemudian menyimpannya di dompet dan tiba-tiba menyadari tidak berapa lama setelahnya uang Anda di dompet sudah hampir habis ? Anda mungkin sudah tidak ingat lagi untuk apa saja uang itu dibelanjakan.

Jika Anda berusaha mengingatnya, yah….kemungkinan besar paling-paling habis untuk beli majalah,koran, secangkir capucino, beli makanan kecil, atau rokok. Belanjaan kecil-kecil seperti tanpa disadari kalau kita kumpulkan jumlahnya besarnya juga. Padahal jika kita mengeluarkan uang setiap hari untuk belanjaan kecil, maka kalikan saja dengan jumlah hari dalam setahun.

Saya yakin Anda akan terpukau melihat berapa besarnya jumlah yang Anda belanjakan untuk belanjaan kecil. Itu baru belanjaan kecil, belum lagi biaya berlangganan TV kabel, baju-baju yang Anda beli saat diskon tapi belum sempat dipakai, iuran keanggotaan fitness, dan lain-lain. Rasanya semakin hari semakin sulit membedakan keinginan dan kebutuhan disebabkan tuntutan gaya hidup yang sulit dipuaskan.

Mengapa antara penghasilan dan pengeluaran kita seringkali seperti berlomba – lomba mengalahkan siapa yang paling besar ? Padahal rasanya kita tidak pernah belanja berlebihan atau sengaja menghambur-hamburkan uang. Biasanya yang terjadi adalah saat penghasilan kita bertambah maka kita terdorong untuk berbelanja lebih banyak lagi.

Akibatya sama saja, berapapun kenaikan penghasilan kita selalu saja tidak pernah cukup. Nah.. apa yang harus kita lakukan agar seberapapun penghasilan yang kita miliki bisa mencukupi kebutuhan kita dan bisa membantu kita mencapai tujuan keuangan lainnya.

Bersambung ke bagian 2 : Kenali Penyebabnya…

“The Financial Tips”

Kompleks Koperasi No.35 , Jl.Gatot Subroto (Sebelum PMI), Jakarta, DKI Jakarta 12780, INDONESIA

http://spreilutju.com/financialtips.html


%d blogger menyukai ini: