Bahagia

26 April, 2016

image

Saya senang, Facebook mengingatkan saya tentang kenangan apa yang saya tulis pada tahun lalu, 2, 4, 6 tahun lalu, dan seterusnya. Entah mengapa yang terkenang adalah sesuatu yang baik atau mengingatkan diri saya untuk menjadi lebih baik.

Walaupun saya belum tahu apakah pada saat ini atau di akhir hayat nanti saya akan menjadi baik, saya berharap untuk terus dapat menuliskan kebaikan yang mudah-mudahan mengantarkan saya kepada akhir yang baik.

Jika Facebook saja mengenangkan kebaikan, saya akan sangat lebih berharap lagi, suatu ketika nanti saya terbangun dan nama saya terpanggil untuk menerima buku catatan amal, isinya adalah kebaikan-kebaikan, yang dengannya saya akan begitu jauh bergembira.

Saya berharap, semua teman-teman saya baik yang saya kenali fisik, polah, maupun hanya namanya, juga memperoleh catatan yang bahagia pula.

@ndi, 18071437

Iklan

do you believe in angel? when happiness come unto you…

23 Juni, 2004

I believe in angel..
something good in everything I see
I believe in angel..
when I know the time is right for me

petikan lagu I Have A Dream yang dinyanyikan oleh abba (refresh by Westlife) menjadi inspirasi tulisanku kali ini.

Aku teringat dengan kisah masa kecil tentang “Pengemis Malaikat”, adalah kisah seorang malaikat yang menjelma sebagai pengemis untuk menguji 2 bersaudara yang berbeda rezeki. Ketika ia datang kepada saudara kaya, yang ia dapati adalah cacian dan hardikan, tidak ada sedikitpun rasa belas kasih dan keinginan menolong. Sedangkan ketika ia datang kepada saudara miskin, yang ia dapati adalah kasih sayang dan kedermawanan. Si pengemis itu yang notabene adalah malaikat berdoa kepada Allah agar menyempitkan rezeki si kaya dan melapangkan karunia kepada si miskin. Doa malaikat sangat mujarab, si kaya dalam waktu tak lama kemudian jatuh miskin dan sakit-sakitan, sedangkan si miskin dengan usahanya terus mendapatkan keberkahan dan kelimpahan harta sehingga ia dapat berderma lebih banyak lagi.

Pernah nggak bertemu dengan malaikat? Atau merasakan kehadirannya? Atau kamu menganggap itu hanyalah kelakar yang bodoh?

Aku justru bertanya-tanya mengapa orang-orang mempercayai tahyul yang dikemas dalam bentuk PNP, Dunia Lain, dsb yang menjauhkan diri dari keimanan yang benar, sedangkan percaya adanya Malaikat justru membawa kita kepada keimanan yang benar?

Selasa sore setelah aku salat Ashr di Masjid Agung Al-Azhar, seorang pemuda menghampiriku, ia memberanikan diri berbicara kepadaku tentang masalah yang ia hadapi, kami pun akhirnya terlibat pembicaraan. Latar belakang hidupnya yang patut dikasihani (menurut cerita dia, lho!), hingga aku bicara tentang kesulitan-kesulitan yang kita hadapi akan dengan mudah diselesaikan bila kita beriman kepada Allah dan banyak bersedekah. Maksudku adalah agar pemberianku kelak bukan sekedar materi saja tetapi juga oleh-oleh moral yang bisa dibawanya dan dibagikan kepada siapa saja agar menjadi ladang amal saleh.

Singkatnya aku memberikannya beberapa rupiah sebagai ongkos perjalanan pulang kampung. (Kamu pasti berpikir bahwa ini adalah modus penipuan yang biasa terjadi! Aku pun sempat berpikir seperti itu, namun sikap waspada dan husnuzhon-ku mencegah pikiran picik itu)

Pemuda itu yang mengenalkan namanya sebagai Bambang, tiba-tiba menitikkan air mata, dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang kuberikan. Tak bosan-bosannya ia mendoakan aku dengan segala kebaikan, sambil mengingatkan aku akan pentingnya:

  • berbaik sangka
  • keikhlashan
  • kedekatan kepada Tuhan

yang itu semua akan membawa kebahagiaan di dalam hidup kita.

Wow!
pemuda itu berhasil mengetuk pintu hatiku dan seakan-akan berkata bahwa Allah telah menakdirkan kita bertemu untuk hal yang luar biasa itu. Setelah salat Magrib, kami saling mengucapkan terima kasih dan saling mendoakan, sementara ia berada di sampingku, aku mengambil sepatu, namun ketika aku berbalik, pemuda itu sudah menghilang. Kucoba cari dan tengok, aku sama sekali tidak menemukannya. Lalu aku pergi dan anehnya, hatiku berbunga-bunga dan diisi kebahagiaan. Perasaan yang aneh sekali.

Paginya aku bercerita kepada SO-ku. Kemudian ia mengirimi sms:

Kemarin aku hampir kasih kamu puisi ini:
“Kucari nila kala senja menjelang bertabur jingga..
Dan rona kemerahan itu,ingatkanku pada..
untaian ilmu yang binarkan hatiku!”

Wow, subhanallah, Allah Maha Keren! ūüėÄ


%d blogger menyukai ini: