tentang bersandar

19 Februari, 2015

Bagaimanakah kita bertumpu pada barang dagangan (pekerjaan), kesehatan, majikan (perusahaan), sedangkan mereka sendiri mengandalkan kemampuan kita?

Bagaimanakah kita bersandar kepada manusia, sedangkan mereka sendiri melupakan Tuhan?

Bagaimanakah kita menggantungkan harapan kepada makhluk padahal lisan kita senantiasa mendawamkan:
الله الصمد ؟

Jika kita beriman dan bertakwa, tentunya kita hanya bersandar kepada Tuhan dan bertumpu pada janji-Nya yang pasti benar.

Karena hanya kepada Allah saja semestinya kita berharap.

View on Path


13-09-1433H

2 Agustus, 2012

gambar diambil di Depok, tanggal 1 Agu 2012 jam 18.40 (13 Rmd 1433) dengan kamera Panasonic Lumix DMC-FZ8, 18x zoom

12 hari sudah Ramadan tahun ini dilalui, insya Allah masih ada 17 hari lagi sebelum merayakan hari berbuka. Mari koreksi kembali amalan puasa kita. Menahan lapar dan haus sudahlah tentu, apakah mata, lisan, dan hati juga berpuasa? Bahkan orang tidak beriman pun kuat berpuasa, apakah kita berpuasa dengan penuh keimanan dan berharap balasan dari Allah semata [1]? Apakah kita tetap menjaga salat-salat fardu? Bagaimana dengan salat-salat sunah? Sudahkah kita lebih dekat dengan Alquran? Apakah kita memperbanyak sedekah?

Banyak yang bilang bahwa Ramadan terbagi tiga fasa: rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengindikasikan bahwa setiap hari di bulan Ramadan adalah rahmat, ampunan [2], dan pembebasan dari api neraka [3]. Maka hendaklah kita tidak berputus asa dari rahmat Allah [4], tetap meminta ampunan dari-Nya atas dosa-dosa kita [5], memohon terbebas dari api neraka yang 70 kali lebih panas dari api dunia, serta mengharap surga sebagai balasan dari Allah karena keikhlasan kita dalam beribadah.

[1],[2] “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Albukhari dan Muslim]

[3] “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam di bulan Ramadan, dan semua orang muslim yang berdoa akan dikabulkan doanya.” [HR Bazzar, Ahmad, Ibnu Majah]

[4] “Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat seratus bagian, dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya. Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga. Dan sekiranya orang-orang beriman mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka.” [HR Albukhari]

[5] “Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku, dia berkata: Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan ‘Amin’, maka akupun mengucapkan Amin…” [HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad, Albaihaqi, Muslim]


MEMBANGUN HARAPAN & OPTIMISME

17 Desember, 2004

andai Anda memiliki permasalahan, atau ketika Anda memiliki keinginan, siapa yang akan Anda temui? tentu orang yang Anda anggap bisa membantu. Dan itu bisa berarti orangtua Anda, pasangan Anda, adik atau kakak Anda, pimpinan Anda, atau teman yang menurut pandangan Anda punya kemampuan lebih tuk membantu.

pada buku ini Anda akan diajak menembus wilayah langit, untuk meminta bantuan Allah dan berharap pada Kuasa-Nya. juga meminta-Nya hadir di tengah permasalahan yang kita hadapi. bila Dia sudah berkenan, bukan saja kita bisa tersenyum sebab keinginan kita yang bisa saja dengan mudah kita dapat, tapi juga kita bisa say good bye – mengucapkan wassalam – pada semua kesulitan kita.

buku ini juga teramat bagus untuk membangun harapan dan optimisme, motivasi dan kepercayaan diri. Insya Allah.

penulis Yusuf Mansur

harga cover Rp22.500,-

dapatkan diskon 10% dengan berbelanja diBearbookstore.com

id sponsor: jendela


Make A Wish

21 September, 2004

Satu harapanku di awal langkahku menuju pernikahan: Semoga Allah berkenan melimpahkan berkah-Nya pada kami, pada pernikahan kami, dan semoga kami berdua dihimpunkan-Nya dalam kebaikan.

Sekarang sudah sebulan lebih sedikit kami bersama. Ada kegilaan, banyak hal mengagetkan, mengharukan, sedih, nge-bete-in… Ada beda pendapat, adu argumen, kelegaan, penundaan… Ada banyak pelajaran untuk ikhlas, untuk terbuka, untuk pede… Ada cinta…

Lalu, sedikit-sedikit kami mulai membangun harapan. Harapan bisa beribadah dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik, harapan agar terus-menerus bisa merasa seperti layaknya pengantin baru, harapan bisa semakin baik menjalani amanah sebagai suami/isteri… sampai harapan punya rumah, punya kendaraan roda empat, atau segera dikaruniai momongan…

Ternyata mengharap berkah itu detail… beresonansi dalam banyak harapan2 manusiawi kami… kami jadi berharap yang detail2 itu pun diberkahi…

Sisi positifnya, kami jadi berusaha agar lebih ikhlas ketika harapan2 yang detail itu belum diwujudkan-Nya… Allah yang paling tahu kapan, dimana, bagaimana, dsb, harapan2 itu dikabulkan sekaligus diberkahi-Nya…


someone’s getting married

9 September, 2004

jumat kemarin, seorang teman yang pernah mengisi hatiku dalam takaran yang tidak biasa2 aja, mengabarkan tentang rencana pernikahannya lewat sms. luka? enggak lah… Allah kan sudah menghadiahkan pengganti yang sangat(uncountable) spesial buatku…

tapi kuakui ada sedikit getir. getir karena dia show-off (aku ga nanya dan gak mancing lho!). getir memikirkan kemungkinan alasannya. getir karena anggapan jangan-jangan dia memutuskan untuk melanjutkan proses ini setelah merasa kutinggalkan. getir karena dia tidak mengetahui kalau aku sedikit terlibat di sana.

agak lama – hampir seminggu setelahnya – aku beritahu suamiku. sepertinya dia seneng sekalee… entah apa alasannya. jangan kira aku nggak menduga-duga 😛 jangan kira juga aku nggak geer :D:D:D

well, sekarang aku betul-betul berharap Allah berkenan memberi berkah. buatnya, buat calon isterinya, buat pernikahan mereka, buat kehidupan rumahtangganya kelak… buat ke-istiqamahan mereka mempertahankan proses ini… or even buat ketegarannya memulai kembali proses yang baru jika yang ini mengalami kegagalan…

seperti dia pernah berkata padaku beberapa hari menjelang hari pernikahanku – waktu itu dia kuminta datang tapi nggak bisa karena banyak kerjaan – dalam bahasanya yang begitu sederhana: “alhamdulillaah, aku ikut seneng. siapa ikhwan yang beruntung itu?”… sekarang aku juga ingin berkata, dalam bahasa yang sengaja dibikin beda 😛 :

“alhamdulillah, aku ikut seneng. siapa akhwat yang pemberani itu?”


%d blogger menyukai ini: