Momentum liburan

25 Desember, 2015

image

Tidak merayakan natal tapi ikut berlibur?
Tidak merayakan maulid tapi mengadakan pengajian?

Natal dan maulid, adalah di antara hari-hari libur nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Hari libur nasional lainnya seperti tahun baru, hari kemerdekaan dan hari-hari raya keagamaan, tidak ketinggalan hari Minggu sebagai hari libur bagi pegawai dan pelajar.

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Seseorang dikatakan merugi jika tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Seorang muslim, apabila telah selesai mengerjakan suatu kebaikan, sangat dianjurkan untuk segera mengerjakan kebaikan yang lain.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Akan tetapi hidup seorang muslim tidak melulu diisi dengan kerja. Karena setiap sendi kehidupan memiliki haknya untuk diperhatikan. Tubuh memiliki hak, keluarga memiliki hak, jiwa juga memiliki hak. Ada saatnya untuk beristirahat, untuk bercengkerama, untuk meningkatkan iman.

Hari libur adalah salah satu sarana yang disediakan untuk memenuhi hak-hak tersebut. Dengan demikian memanfaatkan momentum tidaklah sama dengan ikut-ikutan merayakan hari libur, apalagi dikatakan sebagai bidah.

Wallahu waliyut taufiq.


boleh gak?

14 Mei, 2014

Baba dapat telpon dari rumah, suara Bubu di seberang sana bertanya, “Ba, ini dapat kiriman makanan dari tetangga kita, katanya syukuran kelahiran anaknya. Boleh dimakan gak?”

Baba menjawab, “Boleh, insya Allah.” Tiba-tiba terdengar sahutan di latar, “Boleh katanya tuh!”

“Eh, siapa itu?” tanya Baba. “Si kecil ngocol tuh, Ba, hehehe” jawab Bubu sambil terkekeh, “dari tadi merengek: ‘Bubu, mau makan ayamnya’. Bubu bilang tanya Baba dulu.” Baba pun turut tertawa mendengar kelakuan Athiya.

Bertetangga dengan non muslim memang perlu adab dan toleransi. Memberi atau menerima hadiah dan tolong menolong dalam urusan duniawi adalah hal yang dibolehkan. Adapun urusan akidah dan ibadah merupakan hal yang sudah jelas batasannya.

Maka itu, menerima atau mengirim makanan, jika bukan untuk sesaji atau dalam rangka hari raya non muslim, bukan termasuk hal yang dilarang oleh ajaran Islam. Wallahu a’lam.


refleksi [maulid] wafat nabi

24 Januari, 2013

Betapa banyak yg berhari raya di hari kamis ini padahal Rasulullah membiasakan berpuasa di hari kamis.

Betapa banyak yg membaca yasin di malam jumat padahal Rasulullah menganjurkan membaca alkahfi.

Betapa banyak yg lupa bersalawat setelah azan dan yg bersenandung di antara azan dan ikamah padahal Rasulullah memberitahu itu salah satu saat diijabahnya doa.

Betapa banyak yg meninggalkan sunnah dan menghidupkan bidah namun mengaku mencintai Rasulullah?

Shallallahu alaihi wa alaa alihi wasallam.

(refleksi [maulid] wafat nabi)
Betapa banyak yg mengenal 12 rabiul awal sbg hari lahir nabi walaupun banyak ulama sejarah tidak sepakat, namun sedikit yg mengetahui tgl tsb disepakati sbg hari wafatnya.*

*Imam Ibnu Hajar al-Asqalany di dalam kitab Al-Fath (Fathul Bari) mengatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa Rasulullah wafat di waktu dhuha hari Senin di bulan Rabiul Awal yaitu hari kedua belas. Demikian pula Imam Ibnu Katsir menyatakannya di dalam Sirah Nabawiyah.

 

 


pimpinan dan pejabat

23 September, 2010

Masih suasana hari raya, flyer mengenai gratifikasi meramaikan screen saver komputer para pekerja, tersebut bahwa pimpinan dan pejabat (level manajer ke atas) di tempat saya bekerja tidak diperkenankan menerima segala bentuk gratifikasi dari bawahan, rekanan maupun institusi lain. Apabila berbentuk makanan maka boleh disalurkan kepada kaum duafa melalui panti atau yayasan terdaftar dengan tetap mencatat bentuk dan nilainya untuk dilaporkan melalui formulir gratifikasi.

Bahkan kantor saya menjalin kerja sama dengan KPK untuk pengendalian gratifikasi tersebut. Hal ini merupakan langkah nyata memerangi korupsi. Tetapi sayup-sayup terdengar bisikan di belakang saya, “apabila yg dilarang hanya pimpinan dan pejabat maka karyawan biasa boleh dong menerima gratifikasi?”


%d blogger menyukai ini: