piknik keluarga

29 Desember, 2014

– at Halim Perdana Kusuma International Airport (HLP)

View on Path


zakat uang: nisab emas atau perak?

15 Agustus, 2012

Uang adalah alat pembayaran yang sah yang ditetapkan oleh pemerintah suatu otonomi atau negara. Uang yang kita kenal saat ini berupa uang kertas maupun uang logam hanyalah uang yang memiliki nilai jaminan (ekstrinsik) bukan nilai intrinsik. Di zaman dahulu uang memiliki nilai jaminan sekaligus nilai intrinsik, karena dibuat dari logam mulia seperti emas dan perak. Baru pada masa belakangan saja muncul uang dengan nilai yang lebih rendah misalnya dari logam perunggu atau tembaga. Pembahasan mengenai sejarah uang dan nilainya cukup panjang lagipula tidak relevan dengan judul di atas.

Di dalam Islam, uang merupakan harta yang wajib dizakati apabila telah terkumpul dalam jumlah tertentu (nisab) dan tersimpan dalam masa satu tahun (haul). Uang yang dikenal pada saat itu adalah dinar yang terbuat dari emas yang beratnya 1 mitsqal (4,25 gram) dan dirham yang terbuat dari perak yang beratnya 7/10 mitsqal (2,975 gram). Nisab dinar adalah 20 dinar sedangkan nisab dirham adalah 200 dirham. Adapun besaran zakatnya adalah 1/40 (2,5%). Kemudian perhiasan emas dan perak mengikuti perhitungan nisab di atas dalam bentuk bobotnya. Emas yang memiliki bobot sebesar 20 mitsqal (85 gram) dan perak yang memiliki bobot sebesar 200 dirham (595 gram) sudah termasuk kriteria wajib untuk dizakati.

Ketika muncul uang dengan nilai jaminan emas atau perak, maka nisabnya mengikuti emas dan perak sebagaimana perhiasan. Permasalahan mulai timbul ketika diterbitkannya fulus atau uang dengan nilai yang lebih rendah daripada emas dan perak. Apalagi di masa sekarang muncul berbagai mata uang dan kurs menambah pelik persoalan zakat. Untunglah emas dan perak masih dipertahankan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, sehingga kita masih bisa menghitung zakat uang berdasarkan harga emas dan perak pada hari ini menurut mata uang yang berlaku.

Melihat angka nisab pada saat syariat zakat ditetapkan, dapat diketahui bahwa nilai 1 keping dinar setara dengan 10 keping dirham. Namun di masa sekarang nilai 1 keping dinar sebanding dengan 25 keping dirham [www.logammulia.com] sehingga sebagian ulama kontemporer dengan mempertimbangkan maslahat yang lebih besar kemudian mengiaskan (qiyas) nilai uang yang wajib dizakati adalah yang sudah memenuhi nisab antara emas dan perak mana yang lebih rendah.

Misalnya harga 1 gram emas saat ini setara Rp500 ribu, maka nisabnya adalah Rp42,5 juta. Apabila harga 1 gram perak adalah Rp10,5 ribu, maka nisabnya adalah Rp6,2 juta. Karena nisab perak lebih rendah daripada nisab emas, maka uang yang melebihi Rp6,2 juta (tidak perlu menunggu terkumpul Rp42,5 juta) dan sudah tersimpan selama 1 tahun wajib untuk dizakati.

Tulisan ini sekaligus memperkaya pengetahuan pada tulisan saya sebelumnya mengenai zakat penghasilan di sini dan di sini.


menjaga Allah

4 Agustus, 2012

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullah, “Wahai Anak! Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”

Sesungguhnya Allah telah menjadikan manusia cinta kepada 3 hal: cinta kepada wanita, anak-anak, dan harta duniawi [1]. Namun Allah juga telah menjadikan orang yang mati karena berjuang membela kehormatan diri, keluarga dan hartanya, dianggap sebagai syahid di sisi Allah [2].

Allah mengisahkan di dalam surat Al-Kahfi (QS 18: 60 – 82) tentang Nabi Khidir alaihissalam yang menjadi rujukan bagi Nabi Musa alaihissalam dengan berguru kepadanya. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang dinaiki sehingga dapat menenggelamkan penumpangnya, adalah sebagai penjagaan Allah kepada orang-orang miskin yang bertakwa, supaya perahu mereka tidak dirampas oleh raja yang lalim.

Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang dikhawatirkan dewasanya kelak akan mengajak kedua orang tuanya yang beriman kepada kesesatan kekufuran adalah sebagai bentuk penjagaan Allah kepada orang tua yang beriman itu, supaya Allah memberi ganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik dan lebih menyayangi orang tuanya.

Ketika Nabi Khidir menegakkan kembali dinding sebuah rumah di kota yang tidak mau menjamu mereka, sebagai penjagaan Allah bagi dua anak yatim yang ayahnya soleh. Karena di bawah rumah tersebut terdapat harta simpanan yang dapat mereka pergunakan apabila dewasa nanti.

Itulah di antara bentuk penjagaan Allah bagi orang-orang yang menjaga hak-hak Allah. Hak untuk diimani dan diibadahi tanpa menyekutukan Dia dengan sesuatupun. Semoga Allah memperbaiki dan menerima amal ibadah kita di bulan Ramadan.

(disarikan dari tausiyah Ustadz Syamsul Albuthoniy hafizhahullah pada kultum ifthar di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)

[1] “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imran, 3: 14]

[2] “Siapa yang terbunuh karena membela agamanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia dianggap mati syahid, dan siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia dianggap mati syahid.” [HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah]


kewajiban menuntut ilmu

21 November, 2011

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. 🙂

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: