Days in our life

11 Desember, 2015

image

Days in our life are categorized into three. First is our past, which had passed. Our bad or good at those times were something that already happened. We could not turned back to that day. Our past remained history and memory.

The second is our future, which we do not know what will happen. By tomorrow either by the next second, will we be happy or sad, be success or fail, be still alive or dead? Those are something we surely don’t know. Our future depends on God will.

The third is our today, which we live our life. Do not stuck on yesterday mistakes that had made us bad today. Do not wait until tomorrow any good deeds that we can do today. Now, be thankful, today is a gift from God. That is why it is called present.

(Digested from the Friday sermon)


hakikat penyakit

25 Maret, 2015

Sejatinya setiap penyakit itu berasal dari 2 pokok masalah: pola pikir dan pola hidup. Sedangkan, kedua pokok masalah itu berpangkal pada qalbu.

View on Path


takwa

12 November, 2014

Sederhana saja, cuma satu kata, tapi konsekuensinya. Eh, jangan lihat susahnya, lihat yang dijanjikan oleh-Nya: SOLVED!

View on Path


between head and tail

25 Desember, 2012

Ada yang bilang karakter seseorang dapat dilihat dari caranya makan ikan. Biasanya hidangan ikan terbagi ke dalam 3 bagian: kepala, badan, dan ekor. Untuk ikan yang lebih kecil cukup 2 bagian saja: kepala dan ekor. Pemilihan bagian ikan yang akan dimakan ditentukan oleh alam bawah sadar. Sikap tersebut biasanya dapat menjelaskan sikap lahiriah lainnya.

Seseorang yang memilih bagian ekor biasanya mendapatkan bagian yang sedikit yaitu sirip ekor dan sebagian daging di sekitar ekor. Sedangkan yang memilih bagian badan biasanya mendapatkan bagian yang banyak berupa daging ikan. Jika seseorang memilih bagian kepala ia mendapatkan bagian yang sedikit dan tersulit karena harus menghadapi tulang-tulang kepala ikan, apalagi jika berjuang untuk mendapatkan otak ikan tentu lebih sulit lagi.

Berdasarkan pembacaan karakter, kebanyakan orang memilih badan ikan: tidak sulit dan mendapat bagian yang banyak. Orang-orang ini menjadi orang kebanyakan dan menjadi kelas rata-rata. Mereka menikmati hidupnya dan memperoleh sebatas yang ia usahakan. Sedangkan orang-orang yang memilih ekor ikan jauh lebih banyak lagi: sangat mudah namun mendapat bagian yang sedikit. Orang-orang ini memperoleh sisa-sisa dari apa yang sudah dihabiskan oleh orang-orang pertama. Sekeras apapun usahanya, mereka telah dicukupkan dengan apa yang sudah ditentukan: bagian yang sedikit.

Mari kita tanyakan kepada penggemar ikan kakap, gulai terenak untuk ikan kakap bukanlah bagian badan maupun ekornya, melainkan kepalanya. Tanyakan pula mengapa mereka rela merepotkan diri menyantap gulai kepala kakap. Kebanyakan mereka menyukai tantangan, eksotisme pengalaman, dan menikmati proses pencapaian kepuasan. Mereka tidak peduli berapa besar mereka peroleh sebagai hasil kerja. Mereka sangat menikmati perolehan-perolehan yang luar biasa, tidak banyak memang, namun berkualitas.

Sepertinya pilihan kita di dalam hidup akan menentukan tingkat kenyamanan hidup kita sendiri. Di antara dua sisi ketidaknyamanan, perbedaan sikaplah yang membuat kita mampu menikmatinya: dengan biasa-biasa saja, rata-rata, atau berkualitas. Sebaiknya hindari memilih hidup yang tidak berkualitas: sudah rugi di dunia, rugi pula di akhirat. Semoga Allah memperbaiki sikap dan kualitas hidup kita.


hidup adalah proses

15 Agustus, 2012

“Hidup adalah proses.”
“Apa yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi. Untunglah dia tidak bisa kembali.”
“Masa depan penuh harapan.”
“Bersyukurlah jika engkau menyadarinya.”
“Walaupun engkau masih punya waktu 1 hari lagi, jalanilah kehidupanmu.”

Setidaknya itulah beberapa quote pamungkas yang ditawarkan oleh film 童夢奇緣 (baca: Tóng Mèng Qí Yuán, Romantika Mimpi Kanak-kanak) kepada penontonnya. Anak-anak tidak dapat memahami kehidupan orang dewasa, sebaliknya orang dewasa sering tidak dapat memahami dan berkomunikasi dengan anak-anak, bahkan juga dengan sesamanya. Bagaimanapun kanak-kanak membutuhkan peran orang dewasa untuk mengantar mereka menuju kedewasaan, yaitu dengan mendengarkan anak-anak. Dan karena hidup adalah sebuah proses, maka baik itu anak-anak maupun orang dewasa perlu bersabar dalam menjalani hidup, saling memberi nasehat untuk dapat tegar, dan memberi maaf apabila sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.

Sayangnya judul dalam bahasa Inggris: Wait ’til You’re Older terlalu naif dan dengan mudah menebak isi film. Barangkali judul tersebut dipilih agar penonton yang tidak berbahasa mandarin dapat langsung menangkap pesan tanpa bingung dengan filosofi ketimuran yang dibalut dengan fiksi sains modern pada kisah ini.


%d blogger menyukai ini: