Hujan

11 Maret, 2016

image

Hujan selalu punya cerita, ia juga adalah rahmat dari Allah.

JOG
@ndi, 02061437


malas salat

26 Maret, 2015

71407281

Pernah dengar ucapan “Shollu fii buyutikum” atau “Alaa shollu fii rihaal” di dalam rangkaian azan?

Ucapan itu dilafalkan di dalam azan ketika kondisi hujan deras yang menyulitkan orang untuk salat berjamaah di masjid.

Arti dari ucapan itu adalah “salat lah kalian di rumah kalian”.

Lihatlah betapa pemurah, Allah kepada hamba-Nya. Dia memberikan keringanan ketika hujan menyulitkan untuk tidak menghadiri salat berjamaah.

Padahal kita juga melihat betapa banyak manusia berjuang menembus pekatnya hujan. Demi hadir di tempat kerja, memenuhi janji sesama makhluk, mengejar target pendapatan, mencari nafkah duniawi.

Bahkan walaupun tanpa keringanan, tetap dilakukan tanpa berat hati.

Sudah begitu jelas demikian, apakah kemudian kita masih malas untuk salat? – at Wisma Mulia

View on Path


jangan mencela hujan

10 Februari, 2015

الحمد لله على كل حال – at Wisma Mulia

View on Path


tentang hujan

14 Januari, 2015

Ada yang ikut hadir bersama derasnya hujan: kenangan tentang kita.
Tak henti lisan ku merenda kata menyulam doa. Mengharap kebaikan dari setiap butir hujan yang jatuh.

Ada yang ikut pergi bersama tersibaknya surya: kenangan tentang kita.
Tak henti lisanku menjalin kata merangkai doa. Mengharap masih ada kesempatan pada butiran embun yang tersisa.

(ndi @140115)

View on Path


cerita hujan

12 November, 2014

^^ Abang:

“Dek,

Biarlah hujan turun, membasahi bumi yang kering, sebagaimana hati kita yang kering dibasahi oleh zikir.

Biarlah hujan tumpah, menghidupkan tanah yang tandus, sebagaimana hati kita yang tandus dihidupkan oleh zikir.

Biarlah hujan menyirami, menumbuhkan tanam-tanaman, sebagaimana hati kita menumbuhkan cinta oleh karena zikir.”

^^ Adek:

“In other words..
Biarlah abang pulang jika hujan telah reda,
Supaya ngga basah..
😁”

(19-01-1436)

View on Path


memaknai doa agar hujan berhenti

22 Januari, 2014

Ketika musim banjir dan hujan sekarang, beredarlah doa populer yang berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke dataran tinggi, beberapa anak bukit, lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Kemudian beredar pula tanggapan apakah doa itu masih relevan dengan kondisi baik waktu dan tempatnya? Lalu mengorelasikan dengan asbabul wurud Rasulullah membacakan doa tersebut? Dan mendiskusikan antara tekstual dan kontekstual doa tersebut?

Sebenarnya jika kita mau merenungi dan memahami, bahwa baik tekstual dan kontekstual serta kondisional dari doa tersebut, kita akan menemukan betapa banyak faidah dan relevansi doa itu bagi kita. Teks lengkap doa itu bisa kita baca di sini. Secara ringkasnya, seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengeluhkan kemarau yang membinasakan dan untuk berdoa minta hujan. Setelah Rasulullah berdoa, hujan turun selama sepekan dan tidak berhenti. Orang itu datang kembali karena hujan telah membinasakan, maka Rasulullah membaca doa di atas sehingga hujan berhenti dan matahari kembali bersinar cerah.

Dalam kondisi hujan dan bencana banjir yang kita hadapi, tentu tidak ada ruginya kita membaca doa tersebut. Di antara faidah yang bisa kita petik:
1. Mengikuti amal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu dan sepakat bahwa sikap ittiba’ adalah kecintaan yang sempurna kepada beliau, dan tentu saja mendapat pahala.
2. Doa itu berisi agar hujan dialihkan ke tempat selain pemukiman, karena lebih membutuhkan dan lebih memberi manfaat. Allah maha mengetahui di mana tempat-tempat yang tepat untuk diturunkannya hujan yang bermanfaat. Maka doa ini mengajarkan kita untuk percaya dan mengembalikan keimanan kita seutuhnya dan murni kepada Allah saja.
3. Doa itu menyebutkan tempat-tempat agar hujan dialihkan yaitu dataran tinggi, perbukitan, lembah dan tanah subur. Apabila kita lihat kondisinya sekarang, tempat-tempat itu sudah rusak dan tidak berfungsi sesuai peruntukkannya. Ketika melihat iklan pengembang pemukiman: BEBAS BANJIR, kita akan dapati pemukiman tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Resapan Air (DRA). Maka karena kerusakan yang kita buat sendiri, wajar saja jika banjir melanda.

Bagaimanapun, secara harafiah dan maknawi, doa ini telah mengajak kita merenungi kembali apakah kita telah benar-benar mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semoga dengan mengamalkannya, Allah segera menghentikan hujan dan menerbitkan kembali cerahnya sinar matahari. Wallahu a’lam.


Menabung Air di Musim Hujan

19 Februari, 2010

Problem utama setiap musim panas adalah kurangnya pasokan air tanah untuk keperluan air rumah tangga. Sedangkan di musim hujan, isu banjir menjadi momok mengerikan, terutama bagi yang tinggal di dataran rendah atau daerah aliran sungai. Padahal banyak upaya yang bisa disiasati, tentu saja ada yang butuh dukungan dari para tetangga karena dampaknya akan kurang maksimal jika dilakukan sendirian. Berikut di antara upaya yang dapat dilakukan sebagai solusi atas problem tersebut.

1. Stop penggunaan jet pump

Alasan utama adalah, karena jet pump menguras cadangan air lebih cepat dan lebih banyak, sehingga potensi kekeringan menjadi lebih besar. Apalagi melihat kesalahan kaprah jika seorang tetangga menggunakan jet pump, maka 4 hingga 8 tetangga lainnya memasang jet pump.

Sebagai alternatif, gunakan pompa listrik biasa, atau jika perlu kembali menggunakan pompa tangan yang tetap dapat digunakan walau aliran listrik mati, sekalian berolahraga 🙂
Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: