hukuman yang menyenangkan

11 Januari, 2016

Sebungkus pilus milik Radya yang tergeletak di atas meja, Tsuraya telah menghabiskannya. Radya kesal dan menyembunyikan sandal Tsuraya di dekat tempat sampah. Tsuraya pergi sekolah dengan sandalnya yang lain.

Baba menyuruh Radya mengembalikan sandal Tsuraya. Radya mencari sandal menemukan sebelah saja. Hari itu hari Sabtu, adalah jadwal petugas kebersihan mengambil sampah. Kemungkinan besar sandal terbawa bersama sampah.

Tsuraya bersalah karena memakan pilus tanpa izin pemiliknya. Tsuraya harus minta maaf kepada Radya dan tidak mengulanginya lagi. Radya bersalah karena menghilangkan sandal Tsuraya. Selain minta maaf dan tidak mengulanginya, Radya mendapat hukuman.

Hukuman untuk membeli sandal baru untuk Tsuraya. Radya tidak punya uang. Isi celengannya sudah habis untuk jajan. Hukumannya diganti. Radya harus membersihkan lantai kamar mandi setiap hari Minggu, selama sebulan.

Hari Minggu, Radya menjalani hukuman.  Radya tidak tahu bagaimana membersihkan lantai kamar mandi. Baba menunjukkan caranya. Athiya pun ikut membantu kakaknya. Mereka berdua menyikat lantai kamar mandi dengan gembira.


hancur dan bangun

24 Agustus, 2014

Memperhatikan Radya yang sedang bermain lego hero factory dan terus menerus membongkar pasang mainannya itu, Baba bertanya, “Mas, kok dibongkar lagi lalu dipasang lagi?” Radya menjawab, “Iya, Ba. Ini jadi scorpion. Lalu yang ini berubah jadi  monster raksasa.” Baba mengangguk mencoba memahami kreativitas Radya.

Radya menghampiri Baba dengan orang-orangan legonya, lalu berkata, “Baba, ini kan dilepas. Hancur, lalu dibentuk lagi. Terus dibongkar. Hancur, lalu dibangun lagi.”

Baba menimpali, “Begitulah yang terjadi dengan penghuni neraka.” Radya tercengang. “Mereka dihancurkan, lebur, kemudian dibangun dan dibangkitkan kembali. Dihancurkan, lebur dan dibangun kembali. Begitu seterusnya,” lanjut Baba. “Seterusnya, Ba?” selidik Radya. Baba menjawab, “Seterusnya bagi orang-orang yang berdosa lagi kafir.”

“Kecuali orang beriman, setelah habis dosanya dilebur di neraka. Kemudian mereka diangkat ke surga. Atas berkat rahmat Allah,” Baba meneruskan. “Pintu surganya dibuka, deh,” timpal Radya sambil memeragakan robot hero factory dengan gerakan membuka pintu.

“Iya, tapi bukan dibuka oleh robot melainkan oleh malaikat penjaga yang besar-besar,” jelas Baba. Radya pun tersenyum.


superioritas dan pukulan

1 Juni, 2012

Seorang teman bertanya kepada saya, apakah betul ayat 4:34 mengatakan bahwa laki2 itu superior daripada perempuan dan istri boleh dipukul. Pertanyaan yang menjawabnya butuh pemahaman yang komprehensif terhadap tafsir Quran dan fiqh agama. Dengan hati-hati sekali saya mengorek kembali pemahaman saya dari menghadiri majelis taklim, konsultasi dengan ustadz dan membaca buku-buku agama. Saya pun mencoba menjawabnya dengan tetap mengharapkan koreksi dari para ustadz yang jauh lebih kompeten untuk menjawabnya. wallahu a’lam.

4:34

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

(QS An-Nisaa’, 4:34)

Kalimat pertama dari ayat 4:34 adalah: ar-rijalu qowamuna ‘ala an-nisa, diartikan bahwa kaum laki2 adalah pemimpin kaum perempuan. qowam juga berarti pelindung dan pemelihara. kalimat kedua menyebutkan alasan mengapa laki2 adalah qowam, yaitu: karena Allah telah melebihkan laki2 dan karena laki2 menafkahkan harta kepada keluarganya.

Bentuk kelebihan yang Allah berikan kepada laki2 adalah dari segi penciptaan, fisiologi tubuh laki2 memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik dan berpikir dengan cara yang berbeda dengan perempuan. Sedangkan memberi nafkah adalah kewajiban yang Allah bebankan kepada laki2. Jika ada kebalikannya, istri yang memberi nafkah kepada suaminya, tanpa uzur (misal sakit) maka hal itu telah menyalahi kodrat dan si suami akan mendapat hukuman dari Allah kelak karena melalaikan kewajiban.

Dengan demikian, laki2 sebagai suami dan kepala keluarga, wajib memimpin keluarga kepada jalan yang benar, wajib melindungi keluarga dari bahaya, dan wajib memelihara keluarga agar tetap utuh dan menjaganya supaya terbentuk sakinah (tenteram), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Arti kalimat ketiga: Sebab itu maka perempuan yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Bermaksud agar perempuan memenuhi kewajiban mereka untuk taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya pergi, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memeilharanya (ketiga suaminya pergi, maupun melalui perantaraan suaminya ketika ada).

Arti kalimat keempat: perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

Nusyuz dapat diartikan dengan durhaka atau perilaku yang tidak menyenangkan, alias si istri tidak amanah, tidak taat (dalam hal kebaikan), tidak memelihara diri, bahkan berselingkuh. Maka Allah menyuruh suami untuk melakukan perbaikan secara bertahap. Tahap pertama adalah nasehat (SP1). Kalau nasehat tidak mempan maka tahap kedua dihukum dengan tidak tidur satu ranjang dengan suami (SP2). Kalau tidak mempan juga alias istri tidak memperbaiki perilaku buruknya, barulah tahap ketiga dengan dipukul (SP3) dan pukulan merupakan cara paling akhir untuk mengatasi kedurhakaan istri.

Masalah pukulan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi rambu-rambu boleh memukul asalkan bukan pada wajahnya. Dan pukulan itu pun bentuknya pukulan yang ringan, bukan pukulan yang membuat cacat. pukulan yang sifatnya sekadar membuat jera, bukan penganiayaan. Suami juga harus mempertimbangkan apakah pukulan itu bermanfaat bagi si istri maupun dirinya, jika pukulan itu tidak bermanfaat, maka alangkah lebih baik ia mengambil metode selain pukulan (yang tentu saja metode yang lebih ringan daripada pukulan, karena pukulan merupakan metode terakhir).

Arti kalimat kelima: Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Dimaksudkan bahwa kalau dengan nasehat sudah cukup, maka tidak perlu pisah ranjang atau pukulan. Jika nasehat dan pisah ranjang sudah cukup, maka tidak perlu dipukul. Jika nasehat, pisah ranjang, dan pukulan ringan sudah cukup, maka tidak perlu cari-cari metode lain yang lebih menyusahkan si istri, karena pukulan adalah metode paling terakhir. Di sinilah dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan suami dalam menyikapi masalah. Dan di sini pula diperlukan kecerdasan dan ketaatan istri untuk memelihara keutuhan rumah tangga.

Arti kalimat keenam: Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Maksudnya adalah, supaya suami dan istri mengingat bahwa urusan dengan Allah adalah jauh lebih tinggi dan jauh lebih besar, daripada sekadar urusan duniawi. Allah menginginkan keharmonisan antara suami dan istri agar keduanya dapat menjalankan kewajiban kepada Allah dengan tenang dan khusyuk. Andaikata ada keributan di antara suami istri, insya Allah dengan mengingat Allah, semua urusan jadi kecil dan ringan.

Segala kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan adalah dari diri saya sendiri. Wallahul-muwaffiq.


%d blogger menyukai ini: