memintakan perlindungan untuk anak-anak

20 Agustus, 2014

image

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika membacakan perlindungan bagi al-Hasan dan al-Husain beliau berkata:

Dahulu bapak kalian (Nabi Ibrahim) membacakan perlindungan bagi Nabi Ismail dan Nabi Ishak dengan doa:

“Aku berlindung demi kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan dari semua binatang beracun yang mematikan, dan dari setiap pandangan mata yang menimpakan musibah atau gangguan.”

[HR. Al-Bukhari]

Iklan

Allah pun cemburu

19 Juli, 2014

Ketika Nabi Ibrahim alaihi salam mulai terlihat lebih rasa cintanya kepada anaknya yang satu-satunya, Allah cemburu. Dia mewahyukan ke dalam mimpi kekasih-Nya mengenai penyembelihan anak yang dicintai itu.

Nabi Ibrahim alaihi salam telah menjalani keislamannya hanya berdua dengan istrinya, Sarah, dalam waktu yang lama. Tidak ada seorangpun yang ikut beriman bersama mereka sedangkan mereka berdua belum juga dikaruniai keturunan.

Karena kecintaan terhadap suaminya, Sarah pun menyerahkan pembantunya, Hagar, untuk menjadi isteri suaminya. Dari Hagar, Nabi Ibrahim memperanakkan Ismail, seorang anak yang penyabar. Dengan suka cita seorang ayah, dan kesedihan seorang isteri yang mandul, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menempatkan isterinya yang masih menyusui bayinya ke sebuah lembah yang tandus.

Hagar membesarkan Ismail dengan penuh kesabaran, bersama koloni yang membutuhkan air dari sumur zam-zam. Nabi Ibrahim alaihi salam sesekali datang dan bercengkerama dengan keluarganya, untuk kemudian kembali kepada Sarah.

Ismail kecil menjelang dewasa, saleh dan bertakwa. Menyejukkan mata kedua orang tuanya. Ketika Nabi Ibrahim alaihi salam mulai terlihat lebih rasa cintanya kepada anaknya yang satu-satunya, Allah cemburu. Dia mewahyukan ke dalam mimpi kekasih-Nya mengenai penyembelihan anak yang dicintai itu.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (37:102)

Allah hanya ingin dicintai oleh hamba secara sepenuhnya. Tidak dengan cinta yang sama kepada sesama makhluk. Tidak pula dengan cinta yang lebih rendah daripadanya.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (2:165)

Nabi Ibrahim alaihi salam telah berserah diri kepada Allah. Dia juga telah menunjukkan kesempurnaan cintanya kepada Allah, sehingga gelar Al-Khalil disematkan kepadanya.


anak dan doa orang tua

13 November, 2012

Kesal, marah, bahkan sumpah serapah barangkali sempat mewarnai hubungan antara kita sebagai orang tua dengan anak-anak kita, terutama ketika mereka tidak memenuhi harapan ataupun keinginan kita. Barangkali juga kekesalan dan kemarahan itu dilandasi dalih kebaikan untuk mereka. Namun sebaiknya kita berhati-hati dengan ucapan kita, karena ucapan buruk orang tua kepada anak adalah doa yang pengabulannya tidak mengenal tempat dan waktu.

Di dalam kitab Al-Adabul Mufrod, Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu anhu, “Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan  lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (dikatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Di masa kecil kita pernah didongengkan tentang Si Malin Kundang, anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu, tetapi dongeng itu hanyalah kabar tutur yang tidak berasas kokoh. Sedangkan di dalam tradisi Islam didapati hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seorang dari bani Israil yang bernama Juraij, kisah yang lebih baik dan lebih pantas untuk diambil pelajaran daripadanya. Juraij bukanlah anak durhaka, bahkan ia adalah ahli ibadah. Namun ia ketiban fitnah akibat doa jelek ibunya yang pernah kesal ketika Juraij tidak memenuhi panggilannya sedangkan Juraij lebih mengutamakan salatnya.

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah teladan bagi orang tua beriman yang  doa-doa beliau diabadikan di dalam Alquran. Doa-doa yang penuh kebaikan dipanjatkan kepada Allah untuk anak keturunan beliau. Khalifah Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu pernah memberikan nasehat untuk para orang tua agar bersikap baik kepada anak-anak: “Bermainlah dengan anak-anakmu hingga mereka mencapai usia tujuh tahun, didiklah mereka dengan pengajaran dan pengetahuan untuk tujuh tahun berikutnya, dan bersahabatlah dengan mereka untuk tujuh tahun berikutnya.”

Semoga Allah memudahkan kita sebagai orang tua untuk menahan amarah dari berkata buruk kepada anak kita, memudahkan kita untuk senantiasa bersikap baik dan mendoakan kebaikan kepada anak keturunan kita.


Resensi: Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim

17 April, 2010

Tak sedikit buku yang berbicara tentang Mekkah, yang ditulis berdasarkan naskah-naskah keagamaan, sejarah,  maupun observasi sosial. Di antaranya adalah buku “Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim” [1] yang ditulis oleh seorang tokoh muda NU, Zuhairi Misrawi. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas yang diberi kata pengantar oleh Prof. DR. Komaruddin Hidayat  ini berupaya menampilkan Mekkah dalam sejarahnya di masa sebelum Islam, di masa Islam dan di masa modern dengan segala pesona atribut yang dinisbatkan kepada kota suci itu, serta pergumulan kekuasaan yang menghiasi guratan sejarahnya, serta keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai peletak pondasi kehidupan Mekkah.

Baca entri selengkapnya »


Resensi: Maria Al-Qibthiyah

2 April, 2010

Karena tertarik dengan booth Mizan di Pasar Festival yang menawarkan harga diskon hingga 50%, membuat saya terdorong untuk memborong beberapa buku. Di antara buku yang saya beli adalah buku yang mengulas tentang kehidupan Maria Al-Qibthiyah, salah seorang istri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Buku ini merupakan terjemahan dari buku karya Abdullah Hajjaj yaitu Mariyah Al-Qibthiyyah Ummu Ibrahim.[1]

Dari Mukadimah yang ditulis oleh Abdullah Hajjaj, si penulis didapatkan informasi bahwa hal-hal yang dibahas dalam buku tersebut adalah kisah tentang pribadi Maria Al-Qibthiyah dan putranya Ibrahim, kemudian kisah Shafiyyah binti Huyay dan Raihanah. Ketiga istri Nabi tersebut adalah berasal dari kalangan Ahlul Kitab yang masuk Islam setelah menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang muslim memperlakukan mereka dengan baik, sehingga masuk Islamnya mereka itu atas dasar pilihan sendiri. Penulis juga menyertakan pembahasan khusus mengenai kemiripan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan Nabi Ibrahim alaihis salam dari sisi millah (agama) dan suluk (akhlak).

Sedangkan pada versi terjemahan ini, mizania melengkapi pembahasan dengan 2 hal yaitu: (1) Informasi mengenai sejarah Kristen Koptik, sebagai tambahan dalam memahami latar belakang Maria Al-Qibthiyah, dan (2) Lampiran yang merupakan tulisan dari Muhammad Rasyid Ridha mengulas tentang teladan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan istri-istrinya.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: