Sedekah

8 Mei, 2016

image

Ada orang yang bersedekah karena ingin mendapat nama, dipuji, dan disebut dermawan. Ada orang yang bersedekah karena ia risau melihat pengemis, ingin menjaga diri dan hartanya, dan mencari keridaan Tuhannya.

Orang yang pertama memiliki niat yang tidak bernilai untuk akhiratnya. Jika ia memperoleh apa yang ia ingini, maka itu cukup baginya. Jika ia tidak memperolehnya, maka ia pun kecewa. Adapun orang yang kedua memiliki niat yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

@ndi, 30071437


Tentang amal

18 Maret, 2016

Kita sering kali mengatakan, “ah, apa sih kebaikan yang sudah dia lakukan?” namun tidak mempertanyakan diri sendiri apakah kita sudah melakukannya?

Kita sering berbangga mengatakan, “saya sudah pernah melakukan ini atau itu”, namun apakah kita masih konsisten melakukannya atau yg lebih baik daripada itu?

@ndi, 09061437


ikhlas beramal

27 Januari, 2016

Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullahu berkata, “Orang yang jujur (ikhlas) adalah orang yang tidak peduli, walaupun terhadap setiap penilaian yang keluar dari hati orang lain, (ketidakpeduliannya itu) demi perbaikan hatinya sendiri. Dia tidak senang apabila manusia mengetahui perbuatan baiknya sekecil apapun. Apabila dia benci jika keburukannya diketahui, maka hal itu menjadi bukti bahwa ia mencintai martabat di sisi manusia. Maka bukanlah hal ini termasuk akhlak orang-orang yang jujur dalam amalnya.”

عن الحارث المحاسبي رحمه الله قال الصادق هو الذي لا يبالي، ولو خرج عن كل قدر له في قلوب الخلائق، من أجل صلاح قلبه، و لا يحب الطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله، فإن كرامته لذلك  دليل على أنه يحب الزيادت عندهم، وليس هذا من أخلاق الصديقين.

(Imam An-Nawawi, Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran)


amalan hangus

8 Mei, 2015

Sebelum share status amal baik yang telah kita lakukan, timbang lagi: pilih ikhlas atau hangus.

View on Path


berbuat baik

23 November, 2014

Perbuatan baik kita sebaiknya bukan sekadar membangun kredibilitas dan demi harga diri, melainkan ikhlas karena Allah.

View on Path


pahlawan

10 November, 2014

Pahlawan, bukan melulu mereka yg berjuang dengan gagah berani lalu gugur di medan perang, atau yg gigih memperjuangkan hak-hak orang lain, atau yg sepenuh hati memperjuangkan idealisme yg dianutnya, yg dengan itu semua ia mendapat tanda jasa dan dikenang manusia.

Tetapi pahlawan, adalah yg konsisten beramal untuk mencari pahala dari Tuhannya saja.

#HariPahlawan

(10-11-2014) – at Wisma Mulia

View on Path


kerja, kerja, kerja

29 Oktober, 2014

ketika orang lain menganggapmu lamban bergerak, mereka tidak melihat gejolak yang bergemuruh di dalam benak dan hatimu.

ketika orang lain kemudian menganggapmu tergesa-gesa melangkah, mereka tidak melihat bagaimana engkau telah mengurai gejolak dan menyusunnya rapi.

ketika orang lain menganggapmu rendah, mereka tidak melihat kepedulianmu kepada dunia yang terabaikan.

ketika orang lain menganggapmu bergaya tinggi, mereka tidak melihat perjuanganmu meniti kesukaran dan membangun kenyamanan.

ketika orang lain menganggapmu tak bermutu, mereka tidak melihat apa yang tersembunyi di balik cangkang sederhanamu.

ketika orang lain beranggapan buruk kepadamu, mereka tidak melihat bagaimana engkau susah payah menjalin kebaikan.

ketika orang lain kehabisan peluru untuk menghujatmu, mereka tidak memberi kesempatan pada diri mereka untuk mengakui bahwa engkau tidak membalasnya.

itu semua karena kamu sepenuhnya bekerja untuk Dia, dan engkau tak hirau dengan berbagai sebutan manusia.

(06-01-1436)

View on Path


setiap kejadian adalah ujian

27 Oktober, 2014

setiap kejadian adalah ujian

engkau mendapat karunia, ujian akan rasa syukurmu.

engkau mendapat musibah, ujian bagi rasa sabarmu.

engkau berbagi berkat, ujian atas rasa ikhlasmu.

engkau menumpuk upaya, ujian untuk bentuk tawakalmu.

engkau menanggung amanah, ujian dari hasrat khianatmu.

engkau melihat kebaikan, ujian buat rasa dengkimu.

engkau mendengar tentang bahagia, ujian pada rasa prihatinmu.

engkau menerima kesuksesan, ujian kepada rasa malasmu.

engkau menempuh jalan, ujian agar engkau mampu menikmati setiap butiran debu yang menyempurnakan amalmu.

(02-01-1436)

View on Path


motivation theory

3 November, 2012

Setiap orang memiliki motif atas segala hal yang dilakukannya, baik untuk keperluan pribadi maupun kepentingan pekerjaannya.  Menurut teori motivasi setidaknya ada 3 macam motif yang mendasari perilaku manusia: Motif Pencapaian, Motif Afiliasi, dan Motif Kekuasaan. Motif Pencapaian dapat berarti bahwa seseorang dalam mengerjakan sesuatu bermaksud untuk mencapai apa yang diinginkannya: ingin lebih baik, ingin menjadi yang paling baik, ingin menguji batas kemampuannya. Orang-orang dengan motif ini sepertinya tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ada dan yang sudah dicapainya selama ini. Mereka progresif dan cenderung ambisius.

Motif Afiliasi dimiliki oleh orang-orang yang senang membangun dan merawat hubungan pertemanan dengan siapapun, baik kepada bawahan dan rekan kerja, bahkan kepada atasan. Orang-orang ini sangat tidak ingin mengecewakan teman-temannya, baik dalam urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Baginya seorang teman terlalu sedikit dan seorang musuh terlalu banyak. Orang-orang ini jarang peduli dengan pencapaian selama ia bisa bersama-sama dengan teman-temannya. kebanyakan orang dengan motif ini pandai merawat hubungan baik. Walaupun seringkali ia memerlukan kata “tidak” yang hampir hilang dari kamusnya.

Motif Kekuasaan lebih kepada pengakuan orang lain terhadap dirinya. Dengan motif ini seseorang mampu mencapai keinginan dan membangun afiliasi yang dibutuhkan untuk mengukuhkan pengakuan tersebut. Tidak melulu motif kekuasaan dimiliki oleh para pemimpin atau penguasa. Orang-orang biasa yang terpuaskan oleh pengakuan pun dapat memupuk motif ini untuk mempertahankan eksistensi mereka. Dengan motif ini misalnya, seorang penulis dapat menyebarkan pemikirannya dan memengaruhi orang lain, atau seorang ayah atau suami mengelola keluarga dan rumah tangganya, sehingga mereka dihargai, diakui, dan dihormati.

Di dalam ajaran islam, motif merupakan penggerak awal dari perbuatan. Nabi menyampaikan bahwa setiap perbuatan tergantung dari niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Dikenal sebagai niat, motif terbagi 2: Motivasi Duniawi dan Motivasi Ukhrawi (akhirat).

Nabi pun memperingatkan bahwa orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi duniawi akan Allah cerai beraikan urusannya, dijadikan kefakiran di pelupuk matanya (sehingga ia selalu dahaga akan dunia), dan dipenuhi dunianya sesuai dengan apa yang telah dituliskan takdir untuknya. Sedangkan orang yang dalam perbuatannya dilandasi oleh motivasi akhirat akan Allah mudahkan urusannya, dijadikan kekayaan di lubuk hatinya (sehingga ia selalu merasa cukup dengan apa yang ada), dan dunia akan datang kepadanya dengan menghinakan diri.

Sangat manusiawi apabila setiap orang melandasi perbuatannya dengan motivasi duniawi. Sehingga Allah sang pencipta pun membuat iming-iming akhirat sebagai balasan setiap amal perbuatan ke dalam bahasa duniawi yang mudah dipahami manusia. Apapun motif Anda dalam beramal, supaya selamat dunia akhirat, mudah-mudahan selalu diniatkan ikhlas karena Allah saja.


memurnikan niat dalam ibadah

21 Juli, 2012

Dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda yang artinya bahwa yang pertama kali diadili di pengadilan Allah Yang Mahaadil adalah tiga orang. Orang pertama adalah yang berjihad dengan penuh keberanian dan mati di jalan Allah. Kemudian dihadapkan kepadanya segala nikmat yang Allah berikan kepadanya dan ditanyakan kepada orang tersebut mengapa ia beramal sedemikian itu. Orang itu menjawab bahwa amalan jihadnya adalah karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menguakkan bahwa ia berjuang sepenuh tenaga dan keberanian hanya untuk dikatakan oleh orang sebagai pemberani dan pahlawan yang mati syahid. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Adapun orang yang kedua adalah orang yang belajar agama dengan sungguh-sungguh, mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Ketika ditanyakan mengapa ia beramal demikian, dijawabnya karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menampakkan bahwa ia ingin dikatakan oleh manusia sebagai orang yang berilmu. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Orang yang ketiga adalah orang yang diberi nikmat kelebihan harta yang ia belanjakan hartanya di jalan Allah. Ketika ditanyakan mengapa ia beramal demikian, dijawabnya karena Allah semata. Namun Allah mendustakannya dan menunjukkan bahwa orang itu ingin disebut-sebut manusia sebagai orang yang dermawan. Kemudian orang tersebut di seret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke dalam neraka.

Kita mengetahui bahwa amalan yang dilakukan oleh ketiga orang tersebut adalah amal yang utama, paling tinggi dan mulia: berjihad di jalan Allah, mempelajari dan mengajarkan Alquran, dan mendermakan harta di jalan Allah. Namun justru karena amalan tersebut menyebabkan ketiganya masuk neraka. Inilah yang dinamakan dengan riya’, sebuah bentuk kesyirikan dalam beramal hanya untuk mendapat pujian dan penghargaan manusia. Padahal kita disuruh untuk memurnikan ketaatan dalam ibadah kita kepada Allah semata.

Allah menyegerakan harapan-harapan duniawi seorang hamba jika ia menginginkannya dan Allah tidak mengurangi sedikitpun apa yang diharapkannya. Tetapi hendaklah ia waspada karena bisa jadi sama sekali  tidak ada baginya bagian di akhirat. Oleh karenanya, mumpung masih di awal Ramadan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan Allah, bulan yang dilipatgandakan balasan setiap amal kebajikan, alangkah baiknya jika kita melepaskannya dari segala bentuk riya’ dan memurnikan niat dalam ibadah kita hanya untuk Allah semata. Semoga Allah memberkahi dan menerima amal ibadah Ramadan kita.

[disarikan dari taujihat Ustadz Ayub Abu Ayub hafizhahullah pada kultum tarawih Masjid Al’Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok]


%d blogger menyukai ini: