antara dua tukang ojek

1 Maret, 2008

mengejar waktu rapat di hotel novotel bogor yang terletak di kawasan bogor raya, tak mudah jika menggunakan kendaraan umum sehingga kugunakan ojek dari seberang terminal baranangsiang.

aku sudah lupa berapa biaya ojek ke hotel novotel, karena sudah lama tidak berojek ke sana.
kugunakan saja patokan Rp3 ribu per kilometer mengingat aku sering menggunakan ojek dari
rumahku ke jalur angkot yang berjarak kurang lebih satu kilometer dengan ongkos tiga ribu
rupiah saja. jarak dari pos ojek ke hotel novotel berkisar lima kilometer.

di hari pertama, aku sengaja tidak menanyakan dahulu ojek yang kutumpangi mengenai
ongkosnya. setibanya di tujuan barulah kutanyakan ongkos ojeknya. dijawab olehnya Rp20 ribu. kucoba menawar sepuluh hingga lima belas ribu rupiah, akhirnya tukang ojek itu menerima tiga lembar uang lima ribuanku. ia berlalu hanya dengan senyum canggung.

di hari kedua, perjalanan ojekku diiringi gerimis. aku tak perlu lagi bertanya dan langsung
saja kuberikan Rp15 ribu sesampai di hotel. baru saja kulangkahkan kaki tuk pergi, tukang
ojek itu memanggilku, “Pak”.

“ada apa pak? ongkosnya kurang?”

“tidak pak, justru saya mau bilang terima kasih”

tukang ojek itu pun berlalu meninggalkan aku yang merasa takjub. entah untuk alasan apa
tukang ojek itu berterima kasih, mungkinkah apa yang kuberikan melebihi standar ongkos? atau

aku adalah penumpang pertama sejak pagi ia berjaga di pos ojek? atau hal-hal lain? satu hal
yang kukagumi adalah ia telah melakukan hal yang luar biasa, berbeda dengan tukang ojek yang pertama: berterima kasih.
terima kasih sudah membaca 🙂

[nd, 22022008]

Iklan

jangan pernah mengada-ada

6 Juli, 2007

kawan, di dalam hidup kita ada banyak hal. namun ada satu hal yang tidak dapat diterima oleh semua orang: mengada-ada. mengapa hal tersebut tidak dapat diterima? karena sesuatu yang mengada-ada tidak pernah masuk akal. boleh saja ia jadi sebuah dongeng, namun tidak akan pernah jadi kenyataan. boleh saja ia jadi sebuah fiksi, dan tak akan pernah jadi fakta.

mungkin juga pernah kita temukan orang-orang yang bermuka manis, sangat manis hingga terlalu manis untuk dilihat, didengar, dan dikatakan. kita dapat saja mengatakan bahwa itu mengada-ada. atau kejadian yang terlalu buruk, sangat buruk sehingga membuat kita tidak percaya, itupun mengada-ada.

lalu kita katakan apa adanya, gamblang, mudah, bersahaja. hingga orang lain setuju bahwa kita tidak mengada-ada.

begitupun dalam beragama, sudah patutnya kita tidak mengada-ada dengan menambah atau mengurangi perkara yang sudah diatur dalam agama. Supaya kita tidak disebut mengada-ada, supaya kita tidak ditolak, supaya kita mendapat kasih sayang Allah.

QS 3:31


mengapa melupakan?

29 Mei, 2007

Teman, tersebutlah kisah para penumpang kapal yang mengarungi lautan. Ketika kapal yang mereka tumpangi dihantam badai berbagai rasa muncul bertabur putus asa dan harapan. Lalu salah seorang dari mereka berseru agar memohon keselamatan kepada Allah. Kemudian Allah menyelamatkan kapal dan seluruh penumpangnya ke daratan. Tetapi setelah semuanya selamat, tidak ada seorang pun yang mengucapkan syukur dan mereka lupa kepada Allah.

Di saat kita mendapati kondisi putus asa, ketika tak ada lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita, ketika semua jalan sudah buntu, maka Allah adalah satu-satunya harapan yang mampu mengeluarkan kita dari segala masalah. Namun kita masih sering meragukan kekayaan Allah untuk membebaskan kita dari masalah.

Teman, melupakan Allah itu mudah, namun melupakan kebaikan-Nya setelah kita bebas dari masalah adalah sebuah sikap durhaka. Marilah kita senantiasa menjadi hamba yang bersyukur dan jauh dari sifat durhaka atas semua kebaikan Allah.

QS 6:63-64, 17:67, 29:65, 31:32


jika Allah membayar kontan

18 April, 2007

Teman, pernahkah mengalami ketika menginginkan sesuatu tetapi tidak mendapatkannya? Semakin menginginkan, semakin pula sulit mendapatkannya? Merana? Tak perlu lagi! Karena apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Tetapi ada cara yang lebih jitu mendapatkan apa yang kita butuhkan. (Mohon bedakan antara keinginan dan kebutuhan, ya)

Sebuah kisah nyata tentang seorang lelaki yang terpaksa memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang perempuan muda. Bukan karena perempuan itu hamil atau membawa barang-barang berat. Bukan pula karena tidak ada penumpang lain yang mau menyerahkan tempat duduknya kemudian merasa iba. Tetapi karena ia merasa risih duduk dan melihat (maaf) perut pada celah antara baju potong dan celana ketat yang dikenakan perempuan itu.

Ternyata langkah yang diambil oleh lelaki itu sangat tepat, karena dia telah menyelamatkan matanya dari zina, dan menyelamatkan perempuan itu dari fitnah. Pada hari yang sama, lelaki itu menumpang angkot untuk pulang. Di dalam angkot dia bertemu dengan temannya. Tak dinyana, ongkos angkotnya dibayarkan oleh sang teman.

Cerita belum selesai, ketika turun dari angkot hari gerimis menjelang magrib. Lelaki itu masuk ke masjid untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. Hujan deras turun ketika salat jamaah ditegakkan. Selesai berdoa, hujan mereda sehingga lelaki itu dapat berjalan pulang ke rumahnya. Hujan kembali deras sesampainya dia di rumah. Seperti dongeng, tapi nyata.

Lelaki itu menginginkan untuk tetap duduk, tetapi Allah mengetahui kebutuhannya membayar ongkos angkot. Lelaki itu menginginkan untuk pulang cepat, tetapi Allah memberinya kesempatan untuk shalat di rumah-Nya dan mengantarnya pulang dalam keadaan kering. Allah membalas kebaikan yang dilakukannya secara kontan.

Teman, si lelaki menginginkan sesuatu tetapi yang dia dapatkan bukan apa yang dia inginkan melainkan yang dia butuhkan. Yang mengetahui kebutuhannya dan pasti akan mencukupinya hanyalah Allah.

Jadi, buat apa merana jika keinginan kita tidak terpenuhi?


di mana senyuman itu?

4 April, 2007

teman, ada kisah tentang senyuman, yaitu kenyataan bahwa senyuman sempat menjadi barang mahal yang sulit didapatkan.

“jangan suka senyum sendiri, nanti dikira gokil,” begitu saran yang dulu pernah terdengar. tidak salah memang saran tersebut, mengingat ada beberapa orang karena tak sanggup menanggung beban hidup harus menjadi pesakitan jiwa. terkadang mereka senyum-senyum sendiri, entah apa yang mereka senyumkan, yang jelas gelar “gokil” tersemat di tubuh mereka yang tak lagi terurus secara wajar.

fantastisnya, sejak saran itu menjadi pemeo yang tak ditolak publik, kita jadi sulit tersenyum. hidup adalah keseriusan dan kecurigaan. tak sempat lagi tersungging senyuman di sudut bibir, apalagi tawa yang mencairkan suasana. jadi kaku. awalnya karena tuntutan profesi, selanjutnya terbawa ke kehidupan pribadi.

masa pun berubah, senyuman diakui sebagai keramahan dan senyum membawa pemiliknya kepada strata yang lebih prestise. senyuman sempat pula menjadi basa-basi politik dari tingkatan teratas sampai tingkatan terbawah.

entah di mana senyuman menempati posisinya saat ini? walau masih sering dijumpai senyuman tulus kita tak berbalas setimpal, lebih sering dibalas dengan rasa curiga.

namun teman, selama kita masih tulus menebarkan senyuman, benar-benar tulus, selama itu pula sebenarnya kita telah menuai kekayaan hati, dan juga pahala. boleh saja di antara senyuman kita itu, turut menghidupi jiwa yang sempat mati, turut menyirami hati yang sempat kering, turut menyuburkan senyuman di tempat lain.

keep smile! 🙂


ketika diingatkan untuk kembali

20 Februari, 2007

seorang kawan bertanya kepada saya tentang sejauh mana sudah saya melangkah, apakah masih berada dalam barisan ataukah tak lagi bersama barisan. pembicaraan pun berlanjut dengan kisah-kisah sedih para pencari jalan. ada yang terseok-seok tak mampu menanggung beban. ada yang tercecer dan tak sempat lagi mengikuti kafilah kemudian tersesat. ada pula yang mengambil jalan sendiri mengendus-endus jejak pendahulu dengan berpegang kepada pedoman yang sahih.

apakah makna jamaah bagi anda, ketika ia tak lagi sekedar barisan shalat? tak lagi sekedar ikatan persaudaraan? tak lagi sekedar naungan ketika butuh saat teduh?

ketika diingatkan untuk kembali ke dalam barisan, saya merasa melihat begitu banyak barisan yang sedang menuju arah yang sama. tak perlu mengejar yang sudah jauh dan tak mungkin kita raih sendiri jika ada begitu banyak semangat yang sama. barangkali dengan mengikuti kafilah yang baru, kita dapat melangkah lebih jauh melampaui semua yang pernah kita tinggalkan?

sungguh indah akhlak orang beriman, ketika senang ia bersyukur, ketika susah ia bersabar.

ketika diingatkan untuk kembali, ketika itulah saya sadari masih ada yang mengasihi kita tanpa pamrih.

[jazakallah untuk mas puji]


menilai kembali qurban kita

21 Desember, 2006

kawan, ada yang biasa berqurban setiap tahun untuk setiap anggota keluarga, ada juga yang berqurban satu ekor kambing saja untuk sekeluarga karena ibadah ini sunnah kifayah, ada lagi yang berqurban bila tabungannya sudah cukup atau jika mendapat bonus dari tempatnya bekerja, dan banyak yang sementara hanya berkeinginan saja karena secara kemampuan memang belum termasuk yang wajib berqurban.

kita terharu mendengar kisah-kisah luar biasa dari masyarakat ekonomi rendah yang berusaha berqurban dengan segala kemampuannya, sehingga kita secara tak sadar melupakan kisah orang-orang kaya yang diberikan banyak nikmat oleh Allah dengan qurban mereka yang melimpah setiap tahun. padahal keduanya adalah kebaikan yang tak pantas bagi kita memandang baik di satu sisi dan memandang sebelah mata di sisi lainnya, hanya karena kita menganggap sudah sepatutnya para orang kaya berqurban yang banyak.

justru saat inilah kita memanfaatkan waktu untuk menyelami sejauh mana kita sudah berqurban sebagai ketaatan dan rasa syukur kita atas karunia yang Allah limpahkan.

apakah kita menjadikan qurban sekedar realitas ritual dan rutinitas ibadah? atau karena kesadaran bahwa banyak hal dari diri kita yang perlu kita qurbankan? sudahkah kita menyempurnakan qurban kita dengan keikhlasan? mempersembahkan yang terbaik dari yang kita cintai untuk Tuhan, untuk kemaslahatan umat manusia? sebagaimana Habil putra Adam mempersembahkan qurban yang terbaik walaupun harus dibenci saudaranya?

ref QS 108:1-3
IJS-20


%d blogger menyukai ini: