istigfar, Ba!

25 Januari, 2016

Baba dan Bubu sedang bercakap-cakap mengenai segala hal yang dilakukan atau terjadi pada hari itu. Tsuraya duduk memperhatikan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya. Lagi serunya membincangkan sesuatu yang berkaitan dengan perilaku orang lain, tiba-tiba Tsuraya berkata, “Istigfar, Ba!”

Baba dan Bubu pun terdiam sejenak lalu beristigfar. Baba memeluk gadis cilik kelas 1 ibtidaiyah itu dan tersenyum, “Barakallahufik, Tsuraya. Sudah memperingatkan kami tentang gibah.”


tentang istigfar

27 Januari, 2015

Pada setiap nyeri yg kau rasa, pada setiap tarikan napasmu yg tersengal, pada setiap kesal yg kau keluhkan, pada tubuhmu yg terus melemah: selalu kudengar lirih istigfar terucap dari bibirmu, Bapak.

Aku terus mengharap, engkau mendapati Thuba (kebahagiaan, keberuntungan) yg telah dijanjikan.

View on Path


istigfar

21 Agustus, 2014

image

Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan

“Aku memohon ampun kepada Allah, yang tiada tuhan yang patut disembah selain Dia, yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurusi (makhluk-Nya), dan aku bertaubat kepada-Nya”

Pasti ia akan diampuni, walaupun ia pernah melarikan diri dari (pasukan perang yang berbaris) merayap.

[HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Al-Albani]


jangan sia-siakan ramadan

28 Juli, 2012

Waktu adalah sesuatu yang amat berharga, ia datang dan berlalu tanpa pernah kembali. Hanyalah yang pandai memanfaatkannya yang tidak akan merugi, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu akankah kita sia-siakan kesempatan ini?

Ramadan adalah bulan puasa. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa seorang hamba adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menentukan balasannya. Penyandaran ibadah kepada diri Allah menunjukkan betapa agung ibadah tersebut. Balasan dari Allah terhadap puasanya seorang hamba tentu tidak ternilai betapa tingginya.

Dalam Ramadan terkumpul dua jihad. Jihad di siang hari dengan menahan lapar dan dahaga. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengatakan bahwa betapa banyak orang yang puasa kecuali hanya memetik lapar dan dahaga. Padahal puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum dan syahwatnya melainkan meninggalkan perkara yang sia-sia dan keji. Sebab setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak dapat membisikkan was-was dan pintu neraka ditutup sehingga membuka kesempatan yang luas untuk meraih pintu surga. Maka kesia-siaan dan kejahatan yang hadir di bulan Ramadan adalah murni datangnya dari hawa nafsu manusia.

Jihad di malam hari adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah salat tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa siapa yang menegakkan salat tarawih di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai maka akan dicatat baginya salat semalam suntuk. Tentu saja dalam melaksanakan kedua jihad itu diperlukan kesabaran.

Ramadan adalah bulan Alquran, karena diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersama malaikat yang mulia Jibril alaihissalam mendaras Alquran setiap bulan Ramadan. Maka berlomba-lombalah manusia tadarus Alquran untuk mendapat keutamaannya. Dan di sepuluh terakhir Ramadan terdapat sebuah malam yang nilainya setara dengan seribu bulan. Para ulama ahlussunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang beramal di malam tersebut maka amalannya bernilai seribu bulan. Siapa yang sedekah di dalamnya setara sedekah seribu bulan. Siapa salat di dalamnya setara salat seribu bulan. Siapa tilawah Alquran di dalamnya setara tilawah seribu bulan. Itulah malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam yang penuh keutamaan.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam memerintahkan keluarganya untuk mengencangkan ikat pinggang dan berkonsentrasi untuk meraih malam Al-Qadr dengan memperbanyak istigfar, zikir, salat, membaca Alquran, dan sedekah. Menggalakkan itikaf di masjid jami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berburu malam Al-Qadr dengan khusyuk beribadah.

Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu masihkah ingin kita sia-siakan kesempatan ini?

(disarikan dari tausiyah Ustadz Muhammad Yahya hafizhahullah pada kultum tarawih di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)


ndilalah…

11 Februari, 2010

“ndilalah” adalah kosa kata basa Jawa yang memiliki pengertian adanya keterkaitan antara suatu kejadian dengan kejadian lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Seringkali digunakan untuk menyatakan kejadian yang berhubungan sebab akibat sebagaimana kebiasaan orang Jawa dalam mengait-kaitkan (uthak-atik-gathuk), biasanya, terhadap sikap atau perilaku seseorang. Sebagian orang menganggapnya serupa dengan “karma”. Dalam Islam yang tidak mengenal karma, terdapat pengajaran sebagai berikut:

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: