akhlak Islam

19 September, 2016

​ketika bunda Aisyah -semoga Allah meridainya- ditanya tentang bagaimanakah akhlak Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam, maka  dijawab, “Akhlak beliau adalah Al-Quran”. diriwayatkan oleh Imam Muslim.

yang hilang dari kita adalah akhlak, agama menjadi formalitas, religiusitas sekadar status, knowledge sebagai justifikasi penghakiman. praktiknya pragmatis. gagal paham.

padahal, islam adalah jalan keselamatan, tentu bagi yang berkomitmen dan berupaya konsisten. 

sebagaimana nasihat Nabi kepada seseorang yang bertanya tentang Islam dalam satu kalimat pendek, “katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah.” diriwayatkan oleh Imam Muslim.

istikamah dapat dimulai dari pribadi muslim sebagai penganut Islam, perbaikan diri dan keluarga, lalu masyarakat. menjadikan muslim sebagai sebenar-benar keberserahan diri.

pemaksaan syariat pada umat yg belum siap dapat melahirkan pembangkangan dan pertikaian, minimal kemunafikan.

cukup bahagia tentunya melihat Islam hadir di tengah umat yg terus memperbaiki diri, dan bukan sebagai kendaraan hawa nafsu. semoga Allah mengaruniakan taufik.

@ndi, 17121437


cacing tanah dan keimanan

31 Maret, 2013

Cacing tanah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan mengurai zat-zat organik, secara tradisional dikenal juga dengan khasiatnya yang seketika meredakan demam. Di dalam literatur Islam, cacing tanah dikelompokkan ke dalam الحشرات  atau binatang melata. Penggunaannya untuk pertanian dan peternakan tidak diragukan kebolehannya. Namun penggunaan cacing tanah untuk dimakan diperselisihkan, karena tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya.

Merujuk kepada pendapat yang dianggap lebih kuat, kebanyakan binatang melata diharamkan untuk dimakan oleh seorang muslim. Alasan keharamannya bukan karena menjijikkan, sedangkan kriteria jijik berbeda-beda pada setiap kaum, melainkan karena tidak dapat disembelih. Binatang yang matinya tidak disembelih berstatus sebagai bangkai. Sebagai binatang yang darahnya tidak mengalir, bangkai cacing tanah tidaklah najis. Tetapi Allah telah mengharamkan untuk memakan seluruh bangkai kecuali dua jenis yaitu bangkai hewan air dan belalang.

Bolehnya memakan yang haram hanya dikhususkan pada kondisi darurat. Mayoritas ulama sepakat bahwa keadaan darurat yang dimaksud adalah pada keadaan yang menyebabkan kematian jika tidak memakannya. Kalau masih ada obat lain walaupun reaksi penyembuhannya lambat, tidak dianggap sebagai darurat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk menghindari pengobatan dengan yang haram kecuali sama sekali tidak menemukan obat pengganti yang halal atau diperkecualikan oleh dalil. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah ia menyerah kepada keadaan dengan memakan obat mujarab walaupun kehalalannya diragukan atau tetap istikamah dalam pendirian imannya, yaitu berobat dengan yang halal dan bersabar menjalani takdir. Semoga Allah memberi pahala.

والله أعلم بالصواب

rujukan tulisan:

1. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3659-hukum-cacing-sebagai-obat.html
2. http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html
3. http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf


nilai shalat jumat

10 April, 2010

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat-shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke Jum’at yang berikutnya, dan puasa Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa kecil di antara keduanya jika ia meninggalkan dosa-dosa besar. (HR. Muslim, Ahmad).

Khatib shalat jumat di masjid Fatahillah, Tanahbaru, Depok, kemarin menyampaikan khutbah mengenai keistimewaan hari jumat, nilai dan hikmah yang terkandung di dalam ibadah tersebut. Pada setiap mukadimah khutbah Jumat, seorang khatib selalu menyitir ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

QS Aal ‘Imran, 3:102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Maksud dari ayat ini adalah sudah merupakan kemestian bagi orang-orang yang beriman yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yaitu secara konsekuen menjauhi segala larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-Nya, maka akan mati dalam keadaan beragama Islam sebagai satu-satunya agama yang diridai oleh Allah.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

QS Aal ‘Imran, 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Setelah sepekan berkutat dalam urusan dunia, barangkali kita melupakan akan agama. Maka shalat jumat adalah saat dikumpulkannya umat muslim di masjid-masjid untuk kembali mengingat Allah, mengenal tauhid-syirik, ibadah-muamalah, halal-haram, sunnah-bid’ah, dan ilmu-ilmu yang menyempurnakan peribadatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

QS Al Jumu’ah, 62:9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Allah berseru kepada orang-orang beriman untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan semua pekerjaan ketika khatib telah naik mimbar dan muazin mengumandangkan azan di hari Jumat. Jual beli yang hukumnya boleh, menjadi haram hukumnya ketika menghalangi kita memenuhi kewajiban.

Sebagaimana  hadits di awal tulisan, orang-orang yang secara konsekuen menjalankan ibadah shalat lima waktu, shalat Jumat, dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka ibadah-ibadah itu akan menghapus dosa-dosa kecil yang diperbuat di antara kedua waktu ibadah yang disebutkan, dengan sebuah syarat: meninggalkan dosa-dosa besar. Hal ini karena dosa-dosa besar membutuhkan tatacara khusus untuk mendapatkan pengampunan Allah. Namun begitu, bukankah kabar pengampunan dosa-dosa kecil ini cukup menjadi kabar gembira bagi orang-orang beriman?

Semoga Allah menjadikan kita istikamah dalam menjalani ketakwaan kepada-Nya, sehingga kelak Dia mematikan kita dalam keadaan beragama Islam.


%d blogger menyukai ini: