zikir di jakarta

24 Maret, 2015

Allah begitu sayang kepada warga jakarta, baik pemerintahnya, penghuninya, pekerjanya, pelancong nya, maupun yg hanya untuk numpang lewat. Betapa tidak. Menakjubkan. Setiap saatnya, sudutnya, tingkah polah nya. Selalu menyajikan kesempatan untuk berzikir. Semoga Allah memperbaiki.

View on Path


akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)


banjir atau tergenang air

29 Oktober, 2010

barangkali pak gubernur harus menegur asistennya yang memilihkan penggunaan frase “genangan air” pada peristiwa kebanjiran di jakarta pekan ini.

merujuk kepada KBBI, walau kata “kegenangan” serupa dengan kata “kebanjiran”, makna kata dasar keduanya jauh berbeda.

banjir adalah kondisi dimana air banyak dan mengalir deras, karena meluapnya sungai akibat tingginya curah hujan atau arus pasang naik. sedangkan genang adalah kondisi tertutupi atau terendam air karena terhenti mengalir.

bagaimanapun, mestilah jadi prioritas gubernur dki untuk meminimalisasi dampak kebanjiran jakarta berikutnya.


para pengemis

26 Mei, 2010

Ketika sedang melihat-lihat lapak-lapak di Old Spitalfelds Market, London yang menjajakan berbagai macam barang, mulai dari pernak-pernik hingga pakaian, bahu saya dicolek oleh seseorang. Saya menoleh mencari tahu siapa yang mencolek saya. Saya melihat keramaian dan tampaknya tak satupun di antara mereka yang saya kenal.

Sayapun bergerak menjauhi tempat itu. Kemudian nampaklah di mata saya sesosok patung dalam posisi berdiri di dekat tiang penyangga. Wajahnya tertunduk dan kedua tangannya saling berkait. Di dekat kakinya terdapat pot berisi recehan. Aha! Patung yang ternyata orang bersalut cat warna perunggu itu mencolek setiap orang yang lewat di dekatnya.

Pada saat lampu lalu lintas di perempatan jalan Buah Batu – BKR, Bandung berwarna merah, beberapa pemuda yang mengecat tubuhnya dengan warna perak bergerak melakukan pantomime ke arah pengendara mobil dan motor yang sedang berhenti, sambil menengadahkan topi atau pot mengharap recehan dimasukkan ke dalamnya.

Hampir saja saya menabrak seorang wanita tua yang berdiri di tengah keramaian di Middlesex Street, London ketika sedang melihat-lihat pasar kaget yang digelar setiap hari minggu itu. Ia memberikan setangkai bunga plastik berwarna merah, sambil berkata: “Bunga ini saya berikan kepadamu, jangan menolak pemberian seorang gipsi, saya doakan kamu selalu beruntung. Kamu dapat memberikan saya recehan sekadarnya untuk makan, berapapun. Kamu orang yang sangat baik. Kalau bisa tambahkan lagi recehannya. Terima kasih banyak.”

Ketika bertemu lagi dengan wanita itu pada arah sebaliknya, ia menawarkan pembacaan garis tangan saya. Namun saya menolaknya dengan halus dan pergi menjauhinya dengan senyuman.

Selesai membayar tagihan di warung tempat makan siang saya di kaki lima wilayah Bendungan Hilir, Jakarta, seorang wanita tua menghampiri dan berharap belas kasihan dari saya. Dan hanya kata “Amin” yang saya ucapkan membalas doanya setelah mendapatkan beberapa lembar seribuan dari saya: “Terima kasih banyak anak muda yang baik, semoga Allah membalas kebaikan anak dengan rizki yang berlipat ganda.”

Di stasiun Notting Hill Gate, ketika menunggu kereta jalur District yang akan mengantar saya kembali ke Hammersmith, London, seorang wanita muda berkata kepada setiap orang yang sedang berdiri menunggu kereta: “Dompet saya terjatuh dan hilang, siapakah yang mau memberikan saya uang, barang satu dua pound untuk ongkos pulang?”

Di perempatan Kuningan Timur, Jakarta, seseorang pemuda berwajah dusun menghentikan langkah saya yang sedang menuju halte busway. Menurut pengakuannya berasal dari Cibinong, dan ia kehabisan ongkos pulang setelah upayanya tidak berhasil dalam mencari kerja sebagai koeli. Kemudian pada waktu yang berbeda di tempat yang berdekatan, saya bertemu dengannya lagi dengan pengakuan yang sama.


upgrade kelas penerbangan

16 Mei, 2010

Terdapat 18 ribu miles KrisFlyer yang akan hangus tahun ini, rencananya akan saya redeem untuk meningkatkan kelas perjalanan saya dari Economy ke Business pada trip Jakarta-Singapore-London-Singapore-Jakarta kali ini. Sayangnya tidak seluruh penerbangan saya kali ini kelasnya dapat ditingkatkan. Karena saya bukan orang yang mudah bepergian untuk urusan pribadi namun lebih sering untuk urusan bisnis, maka saya putuskan saja penerbangan bisnis Jakarta-Singapore-Jakarta, sedangkan untuk Singapore-London-Singapore tetap Economy. Untungnya penerbangan long haul trip menggunakan Airbus A380-800 yang jauh lebih nyaman daripada pesawat lainnya.

Dengan berbekal kelas business saya dapat menggunakan fasilitas ruang tunggu eksekutif Esplanade di Bandara Sukarno Hatta sambil menunggu keberangkatan pesawat. Kemudian menikmati pelayanan istimewa di atas pesawat yang menerbangkan saya ke Singapore.


Cycling, the 2nd

7 Mei, 2010

As a person who tries to respect the rights of others, I try to be consistent with that attitude though sometimes had a little break as long as permitted by the right owner 🙂 As well as when cycling this morning, I felt safe with me pedaling my bike in the lane.

Until now, in Jakarta was not yet provided a special lane for bicycles, so it is still biased to the so-called cycling track. Therefore, using the general rule that motorcycles, bicycles, even cars with low speed should drive in the left lane, so I ride my bike in the left lane. With a little maneuvering to take the pedestrian path, especially when the jam while there was no passing pedestrians.

Several times I’ve seen cyclists who rode in the busway lane, but I did not have enough courage to follow them because I cringe first heard the Transjakarta sound the horn. Besides, by taking the busway lane, I had violated the rights of Transjakarta bus users and put myself at high risk of accidents. Better and safer to ride on the left lane, anyway.

This morning, cycling 20 km to work only takes 60 minutes, 15 minutes faster than before. Could be due to leave early and take a different route: Matoa Golf – Kahfi 1 – Cilandak – Ampera – Kemang Timur – Pasar Warung Buncit – Mampang Prapatan – Kuningan Barat – Jamsostek Bridge – Patra Jasa. Try it, because cycling is refreshing.


efisiensi berkereta

10 Maret, 2009

kereta api masih jadi alternatif kendaraan saya dari bandung ke jakarta, terutama pada long weekend kemarin, dimana hampir semua shuttle already fully booked sedangkan mencapai terminal leuwi panjang memakan waktu lebih lama dan harus melewati beberapa titik kemacetan. dengan biaya yang sama dengan karcis bus bandung-lebak bulus, saya peroleh tiket argo gede plus mendapatkan snack kotak berupa roti dan air minum. waktu tempuh bandung jakarta juga tidak jauh berbeda pada kisaran 3 jam. ketika kereta berhenti di jatinegara, pada pukul 21:30 saya memikirkan alternatif kendaraan: taxi dari jatinegara, busway, KRD atau KRL.

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: