ketabrak bus, salah siapa?

17 April, 2007

tempo
sindo
kompas
detikcom

Assalamualaikum,

Dua hari ini saya naik bus transjakarta koridor 6 untuk berangkat ke kantor. Untuk seorang buruh yang jam kerjanya 7-16 seperti saya, berangkat lebih pagi menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi kondisi Jakarta yang sulit bebas dari kemacetan. Selama masih mengendarai sepeda motor, saya masih boleh bertoleransi untuk berangkat jam 06.00, namun sejak menumpang kendaraan umum, paling lambat saya harus berangkat jam 05.40 supaya tidak terkena macet dan dapat tiba di kantor tepat waktu. Ternyata sebelum jam 07.00 tiket bus transjakarta yang harus dibayar hanya Rp2000 saja (di atas jam 07.00 harga tiketnya Rp3500).

Saya sadari bus transjakarta sangat bermanfaat bagi saya dan penumpang lainnya, karena tidak perlu menghadapi kemacetan sehingga waktu tempuh lebih cepat daripada menggunakan jalur biasa. Ketertiban menjadi syarat untuk menumpang bus transjakarta, seperti naik dan turun di halte yang ditentukan, menggunakan jembatan penyeberangan atau zebra cross, antri ketika membeli tiket dan masuk bus. Dari dalam bus, saya dapat melihat wajah-wajah pengendara mobil pribadi dan pengendara sepeda motor yang kelelahan dan putus asa menghadapi kemacetan. Terlebih lagi pada penumpang angkot dan bus reguler.

Saya mencoba menelusuri penyebab kemacetan sambil menikmati pemandangan dari dalam bus. Ada beberapa hal yang menyebabkan kemacetan, dan dari dalam bus transjakarta, semuanya jadi kentara sekali.

  1. mobil pribadi: selain ukurannya lebih besar daripada sepeda motor, dapat ditemukan di ruas jalan non 3 in 1 bahwa kebanyakan mobil hanya ditumpangi seorang saja yaitu si pengendara mobil. Sebuah lajur yang lebarnya cukup untuk 2 mobil hanya menampung 2 orang saja, padahal sebuah kendaraan umum dapat menampung lebih dari 5 orang. Sebuah mobil berukuran 2 buah sepeda motor, sehingga sebuah mobil mengambil jatah untuk 2-4 penumpang.
  2. sepeda motor: banyak yang mempersalahkan sepeda motor sebagai biang kemacetan, padahal ukurannya tidak seberapa dibanding mobil pribadi. Namun volume sepeda motor saat ini memang banyak sekali. Slogan anti macet membuat pengendara sepeda motor dapat melakukan manuver untuk membebaskan diri dari kemacetan. tapi manuver tersebut malah bikin kondisi macet tambah parah. (ketika saya berkendaraan sepeda motor, saya juga sering dibuat kesal oleh pengendara motor lainnya)
  3. angkot dan bus reguler: sebagai angkutan umum, mereka patut diacungi jempol karena dapat mengangkut lebih banyak orang sehingga bodi besar pun tidak jadi masalah. Hanya saja perilaku pengemudi dan penumpangnya yang seenaknya menghentikan angkot/bus dimana saja dapat menimbulkan kemacetan. Padahal untuk angkutan umum reguler sudah disediakan halte bus, namun kurang terpakai.
  4. pejalan kaki: mau tidak mau pejalan kaki bisa jadi sumber kemacetan, apalagi jika jumlahnya banyak, hehehe…. Para pejalan kaki adalah pengguna jalan yang biasanya menggunakan trotoar untuk berjalan, tetapi jika trotoar difungsikan sebagai tempat berjualan, maka pejalan kaki terpaksa menggunakan bahu jalan dan membuat macet. Untuk menyeberang jalan sudah disediakan zebra cross atau jembatan penyeberangan, tetapi jarang sekali pejalan kaki yang memanfaatkannya. mereka lebih senang melintas di arus lalu lintas yang memaksa pengendara mobil atau motor menghentikan kendaraan mereka untuk menyilakan mereka menyeberang, dan terjadilah macet. Padahal itu bukan kewajiban pengendara dan bukan hak penyeberang jalan. Menyeberang tidak pada tempat yang disediakan berpotensi menyebabkan kecelakaan.
  5. lampu merah, kecelakaan, pengalihan jalur dan penyempitan jalan karena pekerjaan proyek menjadi sumber lain kemacetan.

Perilaku pengguna jalan menjadi sumber utama kemacetan dan masalah lalu lintas lainnya… itulah kesimpulan kasar yang saya buat selama menumpang bus transjakarta pagi ini.

Jadi, kalau ketabrak bus, salah siapa?


menikmati segarnya udara jakarta

11 Januari, 2007

Ketika saya ditanya, “mengapa musim hujan terhenti?”, saya tertegun sejenak menyadari bahwa sudah lebih dari dua minggu Jakarta tidak diguyur hujan, tepatnya sejak Natal 2006 yang lalu. Cuaca selama itupun sangat cerah, siang hari dapat terlihat jelas langit biru, awan putih dan pemandangan yang sangat jelas dari jendela ruanganku yang terletak di lantai empat belas gedung kantor. Udara sangat bersih, bebas debu dan polusi. Sedangkan di malam harinya dapat menikmati bintang-bintang yang sinarnya menembus ruang dan waktu, dan bulan yang cahayanya tak terhalang mendung. Benar-benar kondisi yang sangat mahal untuk suasana di Jakarta.

Sayapun membuat analisis kecil-kecilan, bahwa pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007 ini begitu banyak hari libur, Natal, Idul Adha, Tahun Baru ditambah dengan liburan semester anak sekolahan. Kondisi ini juga membuat orangtua dari anak-anak yang bersekolah mengambil cuti untuk menemani keluarga berlibur. Dengan begitu volume penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya di Jakarta pun berkurang, hal ini mengurangi jumlah pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor dan membuat langit cerah, udara bersih, dan segar tak tercemar.

Sebaliknya, pada hari-hari biasa para pekerja yang memiliki kendaraan bermotor memenuhi ruas-ruas jalan raya dan menimbulkan kemacetan di mana-mana, belum lagi ditambah dengan tekanan batin (baca: stress) akibat kemacetan justru sering menambah keruwetan, dan juga anak-anak bersekolah sehingga jumlah penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya bertambah. Hal ini masuk akal, karena anak-anak sekolah itu pergi ke sekolah dengan mengendarai sendiri atau diantar oleh ortu maupun sopirnya. Semua kendaraan bermotor itu memroduksi pencemaran udara.

Mengapa anak-anak di masa sekarang pergi ke sekolah dengan kendaraan pribadi? Begitu banyak alasan yang dapat dibuat, di antaranya kekhawatiran ortu terhadap keamanan anaknya di jalan, jauhnya jarak sekolah dari rumah, kenyamanan berkendaraan pribadi karena kalau naik kendaraan umum berpeluh dan berpolusi, dan sebagainya. Padahal jika mau kilas balik ke masa di mana kendaraan pribadi masih sedikit, atau jika mau berkaca kepada negara yang penduduknya memilih berjalan kaki, berkendaraan umum atau naik sepeda, semua alasan tadi perlu dipertanyakan lagi. Ini sebab akibat, seperti mempermasalahkan mana duluan ayam dengan telur.

Jika kita sendiri memiliki niat memperbaiki udara kota Jakarta tidak hanya bersih di saat liburan tetapi sepanjang waktu, tentu saja kita harus mendukung program langit biru dengan mengurangi keseringan kita menggunakan kendaraan pribadi dan memilih kendaraan umum, karena terus terang jika kita telusuri yang menjadi sumber kemacetan adalah kendaraan pribadi, kendaraan umum hanya menjalankan tugasnya mengantar penumpang dan mereka mendapatkan upah dari pekerjaannya itu, sedangkan kendaraan pribadi hanya memuaskan pemiliknya saja.

Upaya penjernihan udara Jakarta sudah dimulai beberapa elemen masyarakat baik secara pribadi, kelompok maupun pemerintahan, misalnya dengan menanam pohon di rumah masing-masing, bersepeda ketika berangkat ke kantor, dan busway. Saya berpikir, ketika semua orang mau menggunakan fasilitas umum, ketika pemerintah mau menyediakan fasilitas umum yang memadai dan nyaman untuk digunakan masyarakat, dan semua bekerja sama untuk membersihkan langit Jakarta dari polusi, insya Allah kesegaran udara Jakarta bukan lagi impian di saat liburan 

Pagi ini, dari balik jendela ruangan kantor saya sudah mulai terlihat lagi asap hitam yang menghalangi pemandangan indah pegunungan di timur dan selatan Jakarta serta pemandangan gedung-gedung perkantoran dan hotel di sebelah utara dan barat. Ah, ternyata para pekerja yang cuti sudah mulai kembali masuk kerja, dan senin besok anak-anak sekolah di Jakarta mulai meramaikan lalu lintas. Itu semua berarti saya harus kembali berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan, saya menjawab, “yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya, mungkin Allah menghendaki kita dapat menikmati suasana indah kota Jakarta sebelum kita kena tekanan batin oleh keruwetannya lagi.”

[lesson on 11012007]
happy birthday to dober, keep in faith bro!


%d blogger menyukai ini: