madah sabar dan syukur

10 Mei, 2015

Nak,
Ketahuilah, sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Ketika ia beroleh karunia, engkau dapati ia bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, engkau dapati ia bersabar. Syukur dan sabar itu kebaikan bagi orang beriman.

Nak,
Ketahuilah, syukur dan sabar itu ibarat dua sayap burung. Tidaklah seseorang itu bersabar jika ia tidak mampu bersyukur. Begitu pula, tidak akan engkau dapati orang yang bersyukur kecuali dia pasti bersabar.

Nak,
Ketahuilah, orang yang tidak mampu bersyukur dengan yang sedikit tidak akan pernah mampu bersyukur pada yang melimpah. Tentu saja, orang yang mampu bersyukur pada yang sedikit pastilah dia orang yang sabar.

Nak,
Ketahuilah, sungguh sulit bagi orang yang tidak sabar untuk mampu berterima kasih kepada orang lain. Padahal, tidak termasuk orang yang bersyukur kepada Tuhan apabila ia tidak bersyukur kepada makhluk.

Nak,
Ketahuilah bahwa Allah telah menjanjikan tambahan karunia bagi orang yang bersyukur. Sebaliknya mengancam orang yang ingkar dengan azab yang pedih. Sungguh tidak tahu diri orang yang tidak sabar, ia telah jatuh pada pengingkaran.

Nak,
Ketahuilah, syukur dan sabar itu adalah hadiah. Jika kita berupaya untuk bersyukur, Allah pasti menghadiahkan rasa syukur. Demikian juga jika kita berusaha untuk bersabar, Allah pasti menjadikan kita sebagai penyabar.

Nak,
Ketahuilah, hadiah apapun tidak bisa diperoleh tanpa upaya. Dan setiap upaya akan selalu menemui kesulitan. Setiap kesulitan akan mengundang keluh kesah dan putus asa. Kecuali jika kita bersabar.

Nak,
Ketahuilah bahwa bersama kesabaran itulah akan datang pertolongan. Jalan keluar itu pasti ada setelah melalui kesulitan. Sungguh, bersama kesulitan pasti tersedia kemudahan.

Nak,
Ketahuilah, tidak akan ada ruginya bagi yang bersabar. Pahalanya tidak terhitung, bahkan Allah menyertai orang yang bersabar. Maka bersyukurlah, apabila beroleh kesabaran itu.

(@nd, 21071436)

View on Path

Iklan

mengelola depresi

12 Agustus, 2014

image

Berita kematian Robin Williams tidak dipungkiri memunculkan kesan sedih pada hati sebagian manusia. Aktor komedian berbakat yang telah menghibur jutaan orang di layar lebar itu ditemukan tewas di rumahnya.  Investigasi koroner menduga penyebab kematian adalah bunuh diri karena ditemukan bukti asfiksia [1]. Juru bicara media keluarganya mengatakan bahwa dia telah lama bertarung untuk mengatasi rasa tertekan [2]. Kematiannya yang tiba-tiba memunculkan begitu banyak tanda tanya. Bahkan ada yang mengatakan kematiannya adalah tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang penghibur hati banyak orang tidak mampu mengatasi depresi [3].

Bunuh diri dianggap sebagai kematian yang terkait dengan keyakinan. Bagaimana jika ternyata keyakinan itu salah? Sampai-sampai sebuah artikel di situs psikologi mengulas pelajaran yang dapat diambil dari kematian Robin Williams [4].

Bunuh diri menurut ajaran Islam adalah salah satu dari dosa-dosa besar. Tidaklah orang yang melakukannya kecuali ia telah berputus asa dari rahmat Allah. Padahal di antara ciri orang yang beriman adalah tidak berputus asa [5][6][7]. Allah juga telah berfirman, “Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan. Dan kalau ia ditimpa kesusahan maka menjadilah ia seorang yang sangat berputus asa, lagi sangat nyata kesan putus harapnya (dari rahmat pertolongan Allah).” [8] Kesan putus harapan ini ditampakkan dengan melarikan diri kepada minuman keras dan obat-obatan, baik melalui resep dokter seperti anti-depresan maupun karena penyalahgunaan, sedangkan bunuh diri menjadi puncak keputusasaan.

Oleh karena itu, Rasulullah s.a.w. telah memberikan panduan bagi seorang muslim yang ditimpa kecemasan dan kesedihan dengan doa. Orang yang berdoa meyakini keberadaan Allah. Ia meyakini bahwa Allah pasti memiliki semua jawaban atas pertanyaan. Orang yang berdoa juga meyakini bahwa Allah pasti menguasai perbendaharaan untuk membebaskan dirinya dari kesusahan. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah s.a.w. adalah, “Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada ditimpa kesusahan dan kedukaan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada kekikkiran dan rasa pengecut, dan daripada desakan berutang dan paksaan orang.” [9]

Semoga Allah menyelamatkan kita dari berputus asa.

***

[1] http://abcnews.go.com/Entertainment/actor-robin-williams-dead-63/story?id=24937522

[2] http://edition.cnn.com/2014/08/11/showbiz/robin-williams-dead/index.html

[3] http://edition.cnn.com/2014/08/11/opinion/seymour-robin-williams/index.html?hpt=op_t1

[4] http://www.psychologytoday.com/blog/science-and-sensibility/201408/what-can-we-learn-comedian-robin-williams-suicide?tr=MostViewed

[5] http://quran.com/12/87

[6] http://quran.com/29/23

[7] http://quran.com/39/53

[8] http://quran.com/41/49

[9] HR. Al-Bukhari 7/158


puasa dan salat

14 Juli, 2013

“baba, orang islam kan harus salat ya?” tanya radya. “kalau tidak salat bagaimana, mas?” baba balik bertanya. tanpa ragu radya menjawab, “kalau tidak salat ya kafir, bukan orang islam.”

“mas radya benar. yang membedakan antara orang islam dengan orang kafir adalah salat. barangkali non muslim punya tata cara sembahyangnya sendiri tetapi tidak seperti salatnya orang islam,” baba menjelaskan, “menunaikan salat lima waktu, selain sebagai kewajiban orang islam memenuhi salah satu rukun islam, juga sebagai tanda kesyukuran kita atas segala karunia yang Allah limpahkan. oleh karenanya tidak boleh kita tinggalkan sama sekali.”

“makanya kalau ada orang islam tidak salat, bagaimana mas?” tanya baba. “seperti non muslim dong, ba!” sahut radya.

***

“baba, puasa itu kan tidak makan tidak minum ya?” tanya radya. “berapa lama tidak makan dan tidak minumnya, mas?” baba balik bertanya. “dari subuh sampai isya,” jawab radya sekenanya. “hanya sampai magrib, sayang,” baba menjawab, “kalau sampai isya namanya menyelisihi aturan Allah.”

“orang kafir puasa gak, ba?” tanya radya. “barangkali mereka puasa, tetapi tidak seperti puasanya orang islam. walaupun orang kafir berpuasa namun sayangnya tidak diterima oleh Allah,” jawab baba. “kenapa tidak diterima, ba?” tanya radya ingin tahu. “karena syarat wajibnya puasa adalah berislam.” jawab baba ringkas.

“kalau puasanya full kan dapat pahala ya, ba?” tanya radya. “insya Allah dapat, dan ketika berpuasa kita tetap harus melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat lima waktu, bersedekah, membaca alquran, dan berbuat kebajikan .” jawab baba.

“bagaimana kalau orang islam berpuasa tapi tidak salat?” baba balik bertanya. radya menyahut, “tidak diterima puasanya, ba!”

“lho kok begitu, mas?” selidik baba yang heran dengan jawaban radya.

dengan gaya analitis radya menjawab, “begini ba. kan, orang islam harus salat, kalau tidak salat seperti orang kafir. orang kafir tidak diterima puasanya. jadi kalau ada orang berpuasa tapi tidak salat, maka puasanya tidak diterima.”

***


antara iman dan cinta

24 Oktober, 2010

Sebait syair yang dinyanyikan oleh Marcel terekam olehku pada perjalanan pulang dari Bandung dalam sebuah kendaraan umum: “… /aku untuk kamu/kamu untuk aku/namun semua apa mungkin/iman kita yang berbeda/tuhan memang satu/kita yang tak sama/haruskah aku lantas pergi/meski cinta takkan bisa pergi/…”

Lirik lagu itu memang menyayat hati, tentang kegelisahan dua insan yang memadu kasih namun terhalang oleh perbedaan iman di antara mereka. Berdalih dengan Tuhan yang satu, mereka mempertanyakan apakah harus berpisah meski saling mencintai. 

Jika kita merujuk kepada para sufi yang hidup dalam agama cinta tentulah “mengizinkan” percintaan itu terjadi. Dan dengan dalih cinta serta pengagungan terhadap hak asasi manusia telah meleburkan semua perbedaan iman di antara mereka, mencampakkan ketentuan agama dan bahkan (secara kasarnya) berani mempertanyakan kebijakan Tuhan. 

Secara kaidah, iman dan islam jika disebut bersama-sama memiliki makna yang berbeda sedangkan jika disebut sendiri sendiri memiliki makna yang sama. Dengan demikian jika seseorang mengaku beriman, secara otomatis dia harus menjalankan keimanan itu di atas dasar-dasar Islam. Dan Islam tidak mengakui adanya perbedaan iman, karena orang yang tidak beriman secara Islam dia disebut kafir (mengingkari), musyrik (menyekutukan) atau munafik (berpura-pura).

Karena kaidah iman dalam Islam menyatakan demikian, maka orang-orang yang beriman dituntut untuk saling mencintai karena Allah saja. Dan orang-orang yang mengaku mencintai Allah akan dengan sadar mengikuti apa yang dibawakan oleh Rasulullah yang mulia dan mencampakkan semua prasangka maupun inovasi yang bertentangan dengan semangat iman.

Lalu bagaimanakah solusi bagi kedua insan yang berada pada kondisi syair di atas? Maka apabila salah satunya adalah orang yang beriman, hendaklah ia merujuk kepada Alquran dan Assunnah yang telah membimbing kita untuk beragama dengan lebih baik dan lebih selamat dunia dan akhirat, daripada sekadar memenuhi rasa cinta (baca: nafsu) yang ada pada diri mereka.


Pancasila: dasar negara muslim terbesar

16 April, 2010

Beberapa syubuhat dihembuskan oleh beberapa kalangan yang terpengaruh oleh pemikiran haruri, yaitu kufurnya muslim yang hidup di negara yang tidak berhukum kepada hukum Allah secara seratus persen. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, namun dasar negara ini adalah Pancasila. Apakah hal ini membuat muslim yang tinggal di dalamnya menjadi kafir? Dengan mengurai satu per satu sila dalam Pancasila, tentulah akan meneguhkan identitas diri sebagai muslim Indonesia.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Siapakah yang paling mengakui bahwa Tuhan itu Maha Esa? Merujuk kepada QS Al-Ikhlaas, 112:1 menunjukkan bahwa Islam adalah landasan sila pertama.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Siapakah yang paling menghargai hak-hak asasi manusia? Merujuk kepada QS An-Nisaa, 4:85 menunjukkan bahwa Islam menjadi landasan sila kedua ini.

Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik (yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan), niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3. Persatuan Indonesia
Siapakah yang paling menganjurkan persatuan dan menjauhi bercerai berai? Merujuk kepada QS Aal Imraan, 3:103 menunjukkan bahwa Islam menjadi inspirasi bagi sila ketiga.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Siapakah yang paling menganjurkan bersikap hikmah, bijak dan bermusyawarah? Merujuk kepada QS Aal Imraan, 3:159 menunjukkan bahwa Islam adalah pondasi sila keempat.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Siapakah yang paling diwajibkan untuk bersikap adil? Merujuk kepada QS An-Nisaa’, 4:135 menunjukkan bahwa Islam adalah landasan sila kelima.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Jika mau membuka sejarah, kita dapati bahwa Pancasila pertama kali terdapat dalam Mukadimah UUD 1945, sedangkan mukadimah itu berasal dari Piagam Jakarta, dimana sebagian dari penyusun Piagam Jakarta adalah ulama-ulama muslim Indonesia pada saat itu. Jadi, bagaimana mungkin Negara Pancasila ini tidak terinspirasi dari agama Islam?

sebagai tambahan ilmu


%d blogger menyukai ini: