Earth Hour dalam pandangan muslim

30 Maret, 2012

Sebagai salah seorang pendukung WWF Indonesia, saya mendapatkan himbauan mengenai Earth Hour yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Maret 2012, untuk mematikan lampu selama 1 jam yaitu pukul 20.30 – 21.30 waktu setempat. Kegiatan Earth Hour ini juga dilakukan secara global di seluruh afiliasi WWF di seluruh dunia. Sebagai kegiatan rutin yang dimulai sejak tahun 2007 dan dilaksanakan setiap hari Sabtu terakhir di bulan Maret pada setiap tahunnya, menghimbau seluruh rumah tangga dan bisnis di dunia untuk mematikan lampu-lampu yang tidak diperlukan selama minimum 1 jam sebagai langkah meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim.

Ketika terjadi krisis pasokan energi, PLN menghimbau masyarakat Indonesia untuk mematikan dua titik lampu pada pukul 17.00 – 22.00 setiap harinya. Himbauan ini adalah upaya untuk membudayakan perilaku hemat energi di tengah masyarakat. Saya tidak mengetahui seberapa efektif himbauan tersebut pada saat ini. Tetapi PLN menyambut baik kegiatan Earth Hour karena jika benar-benar dilakukan akan menghemat daya listrik hingga 200MW. Seruan hemat energi ini tidak terkait dengan politik kenaikan harga bensin yang rencananya dilakukan tanggal 1 April 2012. Namun saya mengira kenaikan harga bensin akan turut pula memengaruhi perilaku hemat energi pada masyarakat 🙂

Jauh sebelum PLN dan WWF mencanangkan matikan lampu untuk penghematan energi, 1400 tahun yang lalu seorang utusan Tuhan telah menyampaikan ajaran yang sangat mulia.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, semoga Allah merahmati keduanya, dari sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, semoga Allah meridainya, bahwa Nabi Muhammad, semoga salawat dari Allah dan salam baginya, bersabda: “Jika malam sudah datang (atau sabda beliau, malam sudah gelap), maka tahanlah bayi-bayi kalian karena pada saat itu setan sedang berkeliaran. Jika telah berlalu beberapa waktu dari waktu Isya, bolehlah kalian biarkan mereka dan tutuplah pintu rumah dan sebutlah nama Allah, dan padamkanlah lampu-lampu kamu dan sebutlah nama Allah, dan tutuplah tempat minum dan tutup pula tempat makanan kamu walau hanya melintangkan sesuatu, dan sebutlah nama Allah.” Pada hadits yang lain, sahabat Jabir, semoga Allah meridainya, menyebutkan sabda Nabi, semoga salawat dari Allah dan salam baginya: “Padamkanlah lampu-lampu ketika kalian hendak tidur, karena binatang-binatang berbahaya bila datang dapat menarik sumbu lampu sehingga dapat berakibat kebakaran yang menyebabkan terbunuhnya penghuni rumah.”

Sebagai seorang muslim, membudayakan mematikan lampu tidak hanya cukup 1 jam sekali dalam setahun atau 2 titik lampu untuk 5 jam setiap hari, tetapi dilakukan setiap malam sebelum tidur. Bukan hanya sekadar menghemat energi atau peduli terhadap perubahan iklim dan pemanasan global, tetapi mengikuti ajaran mulia utusan Tuhan sebagai bentuk rasa cinta kepada Allah dan kepada utusan-Nya. Tentu saja, telah tersedia pahala yang lebih besar dari Allah karena kecintaan kepada Nabi Muhammad dan dengan mengikutinya, semoga salawat dari Allah dan salam baginya.


fys – 05 penyebaran api

18 April, 2010

Setelah mengenal api dan metode memadamkannya, kita perlu memahami bagaimana api menyebar sehingga dapat meminimalisasi dampak kebakaran. Bila dibandingkan dengan pemadaman yang dilakukan pada beberapa kejadian kebakaran justru memperparah kerusakan dan berdampak luas. Apakah petugas pemadamnya yang salah atau pemahaman masyarakat yang terkena musibah kebakaran yang perlu diperbaiki?

Api menyebar dengan 3 cara: radiasi, konveksi, dan konduksi.

Baca entri selengkapnya »


fys – 04 memadamkan api

25 Maret, 2010

Sesuai dengan tulisan sebelumnya, apabila unsur-unsur dalam segitiga api bertemu dan bereaksi secara kimia maka jadilah api. Oleh karena itu, dengan menghilangkan salah satu unsur pada segitiga api dapat memadamkan kebakaran.

Dahulu orangtua kita mempergunakan karung goni basah untuk memadamkan kompor meleduk. Karung goni yang bahannya berat dan kasar apabila dibasahi mampu menyerap air lebih banyak. Menutup kompor meleduk dengan karung goni basah dapat memadamkan api seketika karena menghilangkan unsur oksigen.

Karung goni adalah karung yang biasa digunakan untuk mengemas gandum atau gabah. Pada musim 17-an digunakan sebagai alat lomba balap karung. Saat ini keberadaannya sudah jauh berkurang. Sebagai pengganti dapat digunakan keset basah atau selimut basah, atau kain yang berbahan berat dan dibasahi. Jika bermodal dapat membeli fire blanket yang didesain secara khusus untuk menutup kebakaran.

Menutup kebakaran juga dapat dilakukan dengan pasir. Pada pompa bensin akan kita dapati gundukan pasir, yang dapat digunakan sewaktu-waktu pompa bensin mengalami kebakaran. Selain itu dapat juga digunakan foam maupun zat asam arang. Upaya menutup adalah untuk menghilangkan unsur oksigen dari segitiga api.

Cara kedua adalah mengurangi jumlah bahan bakar. Kebakaran akibat kebocoran gas dapat dipadamkan dengan cara menutup kerangan sumber gas. Kebakaran akibat kayu atau benda-benda mudah terbakar dapat dipadamkan dengan cara mengurangi sumber bahan bakarnya.

Cara ketiga dan yang paling sering dilakukan adalah dengan menyiram api dengan air. Cara yang paling tepat adalah dengan menyiram sekelilingnya. Cara ini disebut mendinginkan, adalah upaya untuk menghilangkan unsur panas dari segitiga api.

Cara keempat adalah dengan memutus reaksi kimia berantai, biasanya dengan menggunakan dry powder. Namun cara ini hanya bersifat sementara, sehingga harus ditindaklanjuti dengan paling tidak salah satu dari ketiga cara sebelumnya.


fys – 03 segitiga api

25 Maret, 2010

Maraknya peristiwa kebakaran di antara kita yang dapat disimak setiap hari di televisi, menuntut perhatian lebih dari kita terhadap api, kebakaran, penyebabnya dan bagaimana mencegahnya. Pada tulisan kali ini saya hendak memperkenalkan tokoh utama dalam peristiwa kebakaran yaitu API.

Dalam menemukan api pertama kali, dikisahkan bahwa manusia mendapatkannya dari alam, yaitu petir yang menyambar pohon kemudian membakarnya, seiring berkembangnya pengetahuan manusia, yang dianugerahkan oleh Allah, manusia mulai membuat api dari percikan batu atau gesekan kayu. Api tersebut digunakan untuk penerangan, menghangatkan tubuh dari hawa dingin, dan memasak makanan. Jadilah api sebagai sahabat manusia.

Tetapi ketika didapati bahwa jumlah api yang besar ternyata membuat kebakaran, mencelakakan manusia, dan menghanguskan harta benda yang mereka miliki, sejak itu pula api menjadi musuh manusia. Sikap manusia terhadap api pun berubah, kaum yang tidak mendapat petunjuk dari Tuhan, menjadikan api sebagai entitas ketuhanan yang disembah.

Bagaimanapun, api adalah makhluk Allah, kecil jadi sahabat, besar jadi musuh, maka dalam menyikapinya manusia harus mengenal dan mengendalikan api. Lalu bagaimana sebenarnya api terjadi?

Ketika berkumpulnya bahan bakar, panas, dan oksigen kemudian terjadi reaksi di antara ketiganya, maka terjadilah api. Bahan bakar adalah bahan yang mudah terbakar, baik dalam bentuk padat, cair maupun gas. Akan tetapi yang paling mudah adalah bentuk gas, sedangkan bentuk padat harus mengalami pirolisis atau perubahan menjadi uap, begitupula bentuk cair harus menguap supaya mudah terbakar.

Panas dapat berasal dari reaksi kimia, listrik, gesekan, tekanan, maupun alam seperti matahari dan petir. Sedangkan oksigen berasal dari udara di sekitar kita. Api terjadi dengan reaksi ketiga unsur tersebut, inilah yang disebut dengan SEGITIGA API. Namun untuk dapat berkesinambungan (long lasting) harus terjadi reaksi kimia berantai.

***


%d blogger menyukai ini: