between head and tail

25 Desember, 2012

Ada yang bilang karakter seseorang dapat dilihat dari caranya makan ikan. Biasanya hidangan ikan terbagi ke dalam 3 bagian: kepala, badan, dan ekor. Untuk ikan yang lebih kecil cukup 2 bagian saja: kepala dan ekor. Pemilihan bagian ikan yang akan dimakan ditentukan oleh alam bawah sadar. Sikap tersebut biasanya dapat menjelaskan sikap lahiriah lainnya.

Seseorang yang memilih bagian ekor biasanya mendapatkan bagian yang sedikit yaitu sirip ekor dan sebagian daging di sekitar ekor. Sedangkan yang memilih bagian badan biasanya mendapatkan bagian yang banyak berupa daging ikan. Jika seseorang memilih bagian kepala ia mendapatkan bagian yang sedikit dan tersulit karena harus menghadapi tulang-tulang kepala ikan, apalagi jika berjuang untuk mendapatkan otak ikan tentu lebih sulit lagi.

Berdasarkan pembacaan karakter, kebanyakan orang memilih badan ikan: tidak sulit dan mendapat bagian yang banyak. Orang-orang ini menjadi orang kebanyakan dan menjadi kelas rata-rata. Mereka menikmati hidupnya dan memperoleh sebatas yang ia usahakan. Sedangkan orang-orang yang memilih ekor ikan jauh lebih banyak lagi: sangat mudah namun mendapat bagian yang sedikit. Orang-orang ini memperoleh sisa-sisa dari apa yang sudah dihabiskan oleh orang-orang pertama. Sekeras apapun usahanya, mereka telah dicukupkan dengan apa yang sudah ditentukan: bagian yang sedikit.

Mari kita tanyakan kepada penggemar ikan kakap, gulai terenak untuk ikan kakap bukanlah bagian badan maupun ekornya, melainkan kepalanya. Tanyakan pula mengapa mereka rela merepotkan diri menyantap gulai kepala kakap. Kebanyakan mereka menyukai tantangan, eksotisme pengalaman, dan menikmati proses pencapaian kepuasan. Mereka tidak peduli berapa besar mereka peroleh sebagai hasil kerja. Mereka sangat menikmati perolehan-perolehan yang luar biasa, tidak banyak memang, namun berkualitas.

Sepertinya pilihan kita di dalam hidup akan menentukan tingkat kenyamanan hidup kita sendiri. Di antara dua sisi ketidaknyamanan, perbedaan sikaplah yang membuat kita mampu menikmatinya: dengan biasa-biasa saja, rata-rata, atau berkualitas. Sebaiknya hindari memilih hidup yang tidak berkualitas: sudah rugi di dunia, rugi pula di akhirat. Semoga Allah memperbaiki sikap dan kualitas hidup kita.


belajar dari pak kartono

21 Desember, 2006

“Saya Kartono, Pak”, begitulah dia memperkenalkan dirinya kepada saya dalam perjalanan menuju Gresik. Pak Kartono adalah supir yang menjemput saya di bandara Juanda, Surabaya. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu menggunakan waktu tempuh itu dengan berbagai obrolan dengan supir untuk memecah kebekuan perjalanan. Biasanya saya memulainya dengan kejadian terbaru, pendapatnya tentang sesuatu hal, sampai kemudian membicarakan kehidupan pribadinya.

Mungkin banyak yang tidak sependapat dengan saya dengan hal membicarakan kehidupan pribadi seseorang, namun percayalah, satu hal yang sangat disenangi orang untuk dibicarakan adalah kehidupan pribadinya. Tak banyak orang yang suka mendengar kisah hidup orang lain, tetapi kenyataannya mereka akan sangat antusias mengisahkan cerita tentang diri sendiri.

Kembali kepada pak Kartono, dari ceritanya saya peroleh informasi bahwa ia memiliki keluarga yang tinggal di Bojonegoro. “Lebih enak tinggal di desa, Pak, tidak terlalu banyak keinginan dan lebih hemat,” begitulah alasan mengapa dia memilih tinggal di desa. Bekerja dengan sistem 10-10 (10 hari bekerja dan 10 hari libur) di rental mobil yang disewa oleh perusahaan yang akan saya kunjungi itu menurutnya lebih nyaman, “karena operasi migas selalu dibutuhkan 24 jam, akan sulit bagi saya harus mondar-mandir rumah – lapangan setiap hari.”

Pak Kartono sudah 10 tahun menjadi supir rental di perusahaan itu. “Lulus SMP, bapak saya bilang ngga bisa melanjutkan membiayai pendidikan saya. Akhirnya saya pergi ke pasar dan cari pekerjaan,” ujarnya memulai kisah hidupnya. “Bagi saya, bekerja apa saja asal halal jauh lebih terhormat daripada menganggur, Pak,” begitu menurut pandangannya. Saya melihat semangat menyala di rona wajahnya.

Dia sempat menjadi kenek untuk minibus antar kota, kadang-kadang dia menggantikan supir untuk membawa minibus. Dia juga sempat berjualan kerupuk, mengambil dari agen dan mengantarkannya ke warung-warung. Hasil keuntungannya juga lumayan sehingga ia dapat menyekolahkan adiknya ke jenjang yang lebih baik. Namun karena kedengkian seorang rekannya usaha kerupuknya tidak berkembang lagi, sehingga dia keluar dan mencari pekerjaan baru sebagai kenek di toko bangunan. Ternyata toko bangunan tempatnya bekerja membutuhkan supir, jadilah ia supir yang mengantar bahan bangunan ke pelanggan.

Pak Kartono tidak pernah menolak perintah atasannya untuk mengantarkan bahan bangunan. Tetapi sikapnya yang selalu menerima perintah ini tidak disenangi supir yang lain, dan bahkan ia difitnah untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Walaupun atasannya tidak mempercayai fitnah tersebut, ia meminta agar atasannya rela melepaskan dia. Pak Kartono tidak dapat bekerja dengan baik di lingkungan yang tidak dapat menerimanya.

Akhirnya masuklah ia ke perusahaan rental mobil, ternyata ia disewa perusahaan migas yang beroperasi di daerah Jawa Timur dan bertahan hingga saat ini. Orang yang pengalamannya telah mengajarkannya untuk menerima, tidak menggugat, dan tetap bersyukur, secara tidak disadarinya telah mengajarkan kepada saya ilmu kehidupan. Malam harinya, setelah saya menyelesaikan urusan saya, ia kembali mengantarkan saya ke Surabaya. Terima kasih, Pak Kartono.

[Lesson on December 10, 2006]


%d blogger menyukai ini: