what got you here won’t get you there

7 Agustus, 2012

Apa-apa yang telah membawa kita ke sini tidak akan pernah membawa kita ke tempat lain. Atau dengan kata lain, untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan kita memerlukan upaya yang mendukung pencapaian tersebut, bukan dengan mengupayakan hal-hal yang malah menjauhkan kita dari terwujudnya keinginan. Kira-kira demikian maksud judul tulisan ini yang diambil dari judul bukunya Marshall Goldsmith.

Kesuksesan yang kita peroleh benar-benar bergantung kepada perilaku kita dalam mencapainya. Dalam bahasa agama dikenal istilah menjalani sebab. Sebagaimana kisah Dzulqarnain yang diceritakan di dalam Alquran, ia dianugerahi jalan (sebab-sebab kesuksesan) dan ia menempuhnya (untuk mencapai tujuannya). Dengan demikian, jika kita bercita-cita akan sesuatu tanpa menempuhi sebab-sebab terwujudnya keinginan itu, maka itu tak ubahnya dengan mimpi belaka.


jika Allah membayar kontan

18 April, 2007

Teman, pernahkah mengalami ketika menginginkan sesuatu tetapi tidak mendapatkannya? Semakin menginginkan, semakin pula sulit mendapatkannya? Merana? Tak perlu lagi! Karena apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Tetapi ada cara yang lebih jitu mendapatkan apa yang kita butuhkan. (Mohon bedakan antara keinginan dan kebutuhan, ya)

Sebuah kisah nyata tentang seorang lelaki yang terpaksa memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang perempuan muda. Bukan karena perempuan itu hamil atau membawa barang-barang berat. Bukan pula karena tidak ada penumpang lain yang mau menyerahkan tempat duduknya kemudian merasa iba. Tetapi karena ia merasa risih duduk dan melihat (maaf) perut pada celah antara baju potong dan celana ketat yang dikenakan perempuan itu.

Ternyata langkah yang diambil oleh lelaki itu sangat tepat, karena dia telah menyelamatkan matanya dari zina, dan menyelamatkan perempuan itu dari fitnah. Pada hari yang sama, lelaki itu menumpang angkot untuk pulang. Di dalam angkot dia bertemu dengan temannya. Tak dinyana, ongkos angkotnya dibayarkan oleh sang teman.

Cerita belum selesai, ketika turun dari angkot hari gerimis menjelang magrib. Lelaki itu masuk ke masjid untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. Hujan deras turun ketika salat jamaah ditegakkan. Selesai berdoa, hujan mereda sehingga lelaki itu dapat berjalan pulang ke rumahnya. Hujan kembali deras sesampainya dia di rumah. Seperti dongeng, tapi nyata.

Lelaki itu menginginkan untuk tetap duduk, tetapi Allah mengetahui kebutuhannya membayar ongkos angkot. Lelaki itu menginginkan untuk pulang cepat, tetapi Allah memberinya kesempatan untuk shalat di rumah-Nya dan mengantarnya pulang dalam keadaan kering. Allah membalas kebaikan yang dilakukannya secara kontan.

Teman, si lelaki menginginkan sesuatu tetapi yang dia dapatkan bukan apa yang dia inginkan melainkan yang dia butuhkan. Yang mengetahui kebutuhannya dan pasti akan mencukupinya hanyalah Allah.

Jadi, buat apa merana jika keinginan kita tidak terpenuhi?


%d blogger menyukai ini: