Reuni senyap

30 Maret, 2016

image

Kamu tahu,
Seiring berlalunya waktu, banyak kenangan yang tumpah berkisah, banyak cerita teman-teman. Tentang masa lalu, tentang hari kemarin, tentang esok.

Kamu tahu,
Tidak mudah mengumpulkan teman untuk reuni. Banyak saja alasan yang menyusahkan untuk berkumpul. Entah karena jarak, kondisi, kesehatan, maupun ekonomi.

Kamu tahu,
Ada reuni yang tidak perlu panitia, tidak perlu repot, tidak perlu biaya, tidak perlu alasan, dilakukan sepenuh hati. Ketika itu, tidak ada hiruk pikuk, kecuali hening yang sesenyap doa.

@ndi, 30032016


pensiun almarhum bapak

6 Februari, 2015

Melalui PT. Taspen (Persero), Pemerintah memberikan uang duka wafat dan asuransi kematian kepada keluarga almarhum pensiunan PNS. Selain itu, masih menggaji almarhum bapak selama 4 bulan setelah wafat. Pada bulan ke-5 dan seterusnya ibu pun berhak atas gaji janda.

Fasilitas ini tentulah terinspirasi dari syariat Islam: masa duka janda ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari, serta anjuran berbuat baik kepada para janda. Masya Allah.

Semoga Allah ta’ala terus memberkati Pemerintah Republik Indonesia. Amin. – at PT. Taspen (Persero)

See on Path


cacing tanah dan keimanan

31 Maret, 2013

Cacing tanah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan mengurai zat-zat organik, secara tradisional dikenal juga dengan khasiatnya yang seketika meredakan demam. Di dalam literatur Islam, cacing tanah dikelompokkan ke dalam الحشرات  atau binatang melata. Penggunaannya untuk pertanian dan peternakan tidak diragukan kebolehannya. Namun penggunaan cacing tanah untuk dimakan diperselisihkan, karena tidak ada dalil yang tegas mengharamkannya.

Merujuk kepada pendapat yang dianggap lebih kuat, kebanyakan binatang melata diharamkan untuk dimakan oleh seorang muslim. Alasan keharamannya bukan karena menjijikkan, sedangkan kriteria jijik berbeda-beda pada setiap kaum, melainkan karena tidak dapat disembelih. Binatang yang matinya tidak disembelih berstatus sebagai bangkai. Sebagai binatang yang darahnya tidak mengalir, bangkai cacing tanah tidaklah najis. Tetapi Allah telah mengharamkan untuk memakan seluruh bangkai kecuali dua jenis yaitu bangkai hewan air dan belalang.

Bolehnya memakan yang haram hanya dikhususkan pada kondisi darurat. Mayoritas ulama sepakat bahwa keadaan darurat yang dimaksud adalah pada keadaan yang menyebabkan kematian jika tidak memakannya. Kalau masih ada obat lain walaupun reaksi penyembuhannya lambat, tidak dianggap sebagai darurat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk menghindari pengobatan dengan yang haram kecuali sama sekali tidak menemukan obat pengganti yang halal atau diperkecualikan oleh dalil. Di sinilah keimanan seorang hamba diuji. Apakah ia menyerah kepada keadaan dengan memakan obat mujarab walaupun kehalalannya diragukan atau tetap istikamah dalam pendirian imannya, yaitu berobat dengan yang halal dan bersabar menjalani takdir. Semoga Allah memberi pahala.

والله أعلم بالصواب

rujukan tulisan:

1. http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3659-hukum-cacing-sebagai-obat.html
2. http://al-atsariyyah.com/hukum-budidaya-cacing.html
3. http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/cacing%20dan%20jangkrik.pdf


pemberhentian terakhir

22 Oktober, 2010

33:16

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS Al-Ahzab 33:16)

Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: