hari kemerdekaan

18 Agustus, 2015

image

Tanggal 17 Agustus di kalender di tandai dengan warna merah. Secara umum menandakan hari libur. Tetapi bagi pelajar dan pegawai negeri begitu juga pegawai swasta rekanan pemerintah, hari tersebut adalah hari upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Pagi-pagi sekali, mereka berangkat menuju ke tempat upacara. Ada yang berjalan kaki, mengendarai motor atau mobil, ada pula yang naik angkutan umum. Mereka mengenakan baju seragam dengan kode pakaian yang ditetapkan oleh masing-masing institusi.

Di jalanan yang lengang, karena hari libur, banyak kendaraan melaju kencang, melampaui batas kecepatan yang diizinkan. Di saat lampu lalu lintas berwarna merah, banyak pengendara sepeda motor yang berhenti di atas zebra cross, menyusahkan penyeberang jalan.

Di dalam upacara pengibaran bendera, kebanyakan perkhidmatan adalah seremonial. Penghormatannya semu. Mengheningkan cipta menjadi begitu bising. Peringatannya tidak lain adalah perayaan. Selepas itu makan-makan, diiringi musik dan lagu-lagu kebangsaan.

Di kampung-kampung, terpasang umbul-umbul dan pernak-pernik tujuhbelasan. Arak-arakan pawai di sepanjang jalan desa. Tanah lapang menjelma arena perlombaan dan panggung gembira. Nyaris, nilai-nilai perjuangan para pahlawan hanya sebaris kenangan di buku sejarah.

Anak-anak Rumah Belajar Ibnu Abbas, pada hari itu juga berangkat pagi-pagi. Bukan untuk upacara bendera, pawai maupun perlombaan. Melainkan untuk belajar, berjuang menghapal Alquran, mengamalkan perkhidmatan yang selayaknya. Bahkan turut menyalati jenazah yang wafat pada hari itu.

Anak-anak itu bersemangat menghidupkan nilai-nilai perjuangan. Bagi mereka, “Ayo Kerja” bukan sekadar slogan, tetapi bagian keseharian. Mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang mencerdaskan kehidupan: menuntut ilmu.

Apabila ada yang memaknai kemerdekaan dengan menuntut pemenuhan hak-hak nya. Malah demi hak pribadi atau golongannya sampai-sampai mengabaikan hak-hak orang lain atau kepentingan umum. Maka anak-anak Rumah Belajar, belajar memaknai kemerdekaan dengan menuntut diri mereka sendiri memenuhi kewajiban-kewajibannya.


patriot dan loyalis

10 September, 2012

di masa revolusi, menjadi loyalis sama dengan setia kepada penguasa kolonial, sama dengan memperbudak diri kepada raja demi kelangsungan hidup yang sejahtera, sama dengan menjadi musuh bagi bangsa sendiri.

sedangkan menjadi patriot, sama dengan menjadi pembangkang kepada pemerintah, sama dengan membebaskan diri dari penjajahan untuk hidup berdikari, sama dengan menjadi pahlawan bangsa.

menjadi loyalis maupun patriot adalah keputusan yang sama-sama sulit. di antara keduanya ada kaum moderat yang bersikap pertengahan, mencoba untuk loyal dengan tetap berjiwa patriot. sebagian orang mengatakan bahwa para moderat ini tidak memiliki sikap yang tegas dan hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

di masa kemerdekaan, para moderat mengambil peran yang besar untuk mengatasi perbedaan yang ada dan melelehkannya dalam kesatuan (konsep the melting pot). sebagian loyalis berpindah kewarganegaraan demi mempertahankan kualitas dan gaya hidupnya. sebagian lagi menerima kemerdekaan, bergabung dengan para moderat dan mewarnainya dengan loyalitas baru.

sedangkan para patriot, ada yang bergabung dengan para moderat untuk kemudian menjadi loyalis kepada pemerintahan merdeka. ada pula yang tetap berjuang untuk mempertahankan idealisme dan kemerdekaan sejati, tanpa khawatir akan ketidakpastian maupun kesejahteraan hidupnya.


%d blogger menyukai ini: