dua karunia

21 April, 2015

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏ “‏نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس‏:‏ الصحة، والفراغ‏”‏
‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏

Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada dua karunia yang di dalamnya kebanyakan manusia merugi. (Yaitu) kesehatan dan waktu luang (untuk berbuat kebajikan).”

(HR. Al-Bukhari)

http://sunnah.com/riyadussaliheen/1/97‏

View on Path


sarapan apel

10 Desember, 2014

Slices of an apple for breakfast is beneficial to your health.

View on Path


bola kaca dan bola karet

25 Februari, 2013

image

Pada acara wisuda di suatu universitas, Brian Dyson, CEO Coca-Cola Enterprises, pernah berbicara mengenai hubungan antara pekerjaan dengan komitmen-komitmen lainnya yang kita miliki:

“Bayangkan bahwa hidup seperti bermain sulap dengan lima bola di udara. Anda dapat menamai bola-bola itu – pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat dan jiwa – dan Anda menjaga kelimanya supaya tidak jatuh. Anda akan segera mengerti bahwa pekerjaan seperti bola karet. Jika Anda menjatuhkannya, ia akan memantul.

Tetapi keempat bola lainnya – keluarga, kesehatan, sahabat dan jiwa – terbuat dari kaca. Jika Anda menjatuhkan salah satunya, bola-bola itu lecet, retak, gompal, rusak, atau bahkan hancur. Walaupun dengan susah payah diperbaiki, tidak akan seperti semula keadaannya.”

Bola kaca yang mudah pecah tidak sama dengan bola karet yang elastis, bahkan bola kaca lebih berharga. Namun mengapa banyak di antara kita yang terus menerus menjaga bola karet dan mengabaikan bola-bola lainnya yang terbuat dari kaca?

Demi pekerjaan kita rela mengorbankan dan menghancurkan keempat hal tersebut? Keluarga terbengkalai, sakit-sakitan, sahabat dan rekan kerja disikut, bahkan jiwa ikut terganggu gara-gara mementingkan karir dan pekerjaan.

Mari kita perbaiki prioritas kita. Tentu saja mementingkan keluarga, kesehatan, persahabatan, dan kejiwaan bukanlah sikap egois. Melainkan sikap untuk mempertahankan agar kita dapat menjaga kesemuanya.

(refleksi)


menghinakan diri

11 Februari, 2013

Sebagian umat merasa ada yang salah dalam keberagamaan mereka sehingga terus menerus berada dalam kehinaan: keterpurukan ekonomi dan kemiskinan, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, ketidakberdayaan dalam hal kekuasaan, hilangnya kebanggaan sebagai umat yang besar. Mereka mencoba bangkit dan mengentaskan diri mereka dari semua kehinaan melalui pemberdayaan ekonomi umat dan pembiayaan berbasis syariah; membangkitkan semangat kewirausahaan melalui perdagangan, peternakan dan pertanian; mengetuk hati para dermawan untuk rumah sakit-rumah sakit dan sekolah-sekolah gratis yang dapat dinikmati kalangan ekonomi lemah; berjuang untuk penegakan syariah melalui sistem politik dan hukum; hingga tuntutan kembali kepada kekhalifahan sebagai pengejawantahan kekuasaan.

Tetapi perubahan secara signifikan tidak kunjung datang walaupun sepertinya tidak ada yang salah dengan cara-cara perubahan yang mereka tawarkan, karena Allah –jalla jallaluhu– sendiri telah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” [QS Ar-Ra’d: 11]

Bisa jadi, upaya pengentasan diri dari lembah kehinaan tidak berhasil karena cara pandang yang salah terhadap perubahan itu sendiri. Bisa jadi karena kita terlalu asyik dengan embel-embel dan slogan tanpa menyadari bahwasanya tidak ada bedanya secara praktik antara label syariah dengan praktik ribawi. Bisa jadi karena perniagaan, peternakan, dan pertanian telah melenakan kita sehingga lalai dari kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan seperti salat lima waktu dan berzakat. Bisa jadi pula orientasi kemakmuran duniawi membuat kita lupa dari perkara jihad.

Barangkali, kita perlu renungkan kembali solusi ilahiah sebagaimana yang ditawarkan oleh hadits berikut:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda: “Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (riba), mengikuti ekor sapi, ridla dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Wallahu waliyyut taufiq.


Due Date – Semua Ada Waktunya

1 November, 2010

Bismillahirrahmanirrahim..

Dulu saya sempat senewen ketika pada minggu ke-40, kedua bayi saya -pada dua periode- belum juga menunjukkan tanda2 akan lahir.. dokter sudah mewanti-wanti untuk segera induksi tapi saya mangkir karena (jujur) saya takut mengalami sakit berlebihan yang akhirnya membuat saya tidak sabar dan memilih jalan operasi..

Pada akhirnya, dua anak saya lahir pada minggu ke 41 dan 42 secara spontan (bahasa bekennya: normal) tanpa induksi.. walaupun saya mendapat banyak ceramahan dari dokter dan bidan soal mangkirnya saya dari proses induksi..

Menurut beberapa -tapi jumlahnya banyak sekali lho..- dari mereka, kelahiran bayi yang terbaik adalah pada minggu ke-39.. lewat dari itu bisa terjadi beragam komplikasi. Tapi baru saja saya menemukan artikel yang menjelaskan bahwa justru minggu ke-39 adalah waktu tercepat kelahiran bayi jika kita menghendaki bayi yang sempurna (dalam arti tidak ada kesalahan prosedur pembelahan sel pada tahap awal kehamilan).. ternyata proses kelahiran memang lebih baik menunggu kontraksi alami..

Banyak sekali teman dan kerabat saya yang memilih jalan operasi akibat tidak memiliki pemahaman soal ini.. tapi saya juga awam, pengalaman saya tersebut di atas saya lakukan hanya berdasarkan intuisi semata.. ada slogan sederhana yang telah menguatkan saya, yang dihadiahkan seorang sahabat yang sangat plegmatis ketika menghadapi saya yang seringkali begitu melankolis, katanya: “semua ada waktunya”..

Tanpa berpanjang-panjang, berikut saya hadirkan artikel yang saya anggap sudah mendukung intuisi saya tadi

Minggu Akhir yang Menentukan

Mengapa minggu-minggu terakhir di trimester 3 menentukan kondisi terbaik bayi setelah lahir

by Adhiatma Gunawan

Belakangan ini seringkali kita mendengar wanita hamil yang menjalani proses persalinannya dengan cara operasi caesar. Ada yang melakukannya karena alasan medis tertentu (atas anjuran dokter), ada juga yang melakukannya dengan alasan praktis (bahkan karena alasan tidak ingin menimbulkan trauma pada organ kewanitaan).

Hari ini bukan isu operasi caesar yang akan kita bahas, melainkan lebih kepada penentuan tanggal lahir si bayi. Ketika proses persalinannya tersebut merupakan elected date (suatu tanggal yang ditentukan, atau persalinan yang direncanakan), maka hasil penelitian dan para pakar menganjurkan untuk sebisa mungkin proses persalinan paling cepat dilakukan di minggu ke-39.

Pertanyaan yang berikutnya akan muncul adalah: Memangnya adakah perbedaan bermakna jika bayi dilahirkan sebelum minggu ke-39 dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan setelah minggu ke-39? Bukankah setelah menginjak usia kehamilan 37 minggu, bayi dinyatakan telah cukup matur untuk dilahirkan?

Jika bayi dilahirkan sebelum usia 37 minggu, maka kita sepakat bayi tersebut digolongkan pada bayi lahir prematur (persalinan prematur). Nah, tapi apa bedanya jika bayi dilahirkan usia 37 minggu dibandingkan bayi yang lahir sekitar usia kehamilan 40 minggu?

Walaupun hanya selisih sekitar 3 minggu, tapi penelitian membuktikan bahwa di minggu-minggu terakhir itulah perkembangan semua organ tubuh bayi mengalami kesempurnaan. Paru-paru lebih matang dan lebih siap. Demikian juga organ lain seperti otak, liver dan lainnya, akan mengalami kesempurnaan -walau hanya- pada interval waktu 2 minggu tersebut.

Selain itu, berat badan bayi juga mengalami kenaikan signifikan di trimester 3, oleh sebab itu selisih waktu kelahiran 1 minggu saja bisa berdampak pada berat badan bayi lahir. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadinya gangguan pada organ maupun sistem pertahanan tubuhnya.

Kecuali dikarenakan faktor medis, jika ibu hamil ingin melahirkan dengan cara induksi maupun operasi caesar, (elected date) ada baiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter, sehingga tanggal persalinan bisa sedekat mungkin dengan minggu ke-39 atau 40.

Berikut link untuk menuju tulisan aslinya:
http://www.mommeworld.com/post/view/…ng-menentukan/

Semoga tulisan ini menentramkan hati para bumil yang cemas menanti due-date


sunatan raka

5 Januari, 2009

angan-angannya nyunatin raka pas 2 tahun… tapi diskusi sama teman lebih baik nyunatin anak ketika baru lahir atau sudah besar sekalian (sebelum baligh), jadilah sunatan raka tertunda sekian lama. belakangan dapat pemberitahuan beberapa anak tetangga disunat karena sulit pipis. dalam kedokteran dikenal istilah fimosis. terhadap bayi baru lahir antara fimosis dengan normal sulit dikenal karena sama-sama tertutup kulup. sekitar 50% anak usia 1-2 tahun dan sekitar 90% anak usia 3 tahun sudah dapat menarik kulupnya sehingga mudah dibersihkan. kalau lewat dari 3 taahun gak bisa, ditambah sulit pipis, kotoran sudah menumpuk dan fimosis harus segera dilakukan tindakan: sunat.

raka masih 2 tahun 7 bulan, masih masuk kategori 10-50% yang kulupnya gak bisa dibuka. dilakukan dilatasi manual selama satu bulan belum berpengaruh. sehingga disarankan dokter untuk disunat. mengingat aktivitas bermainnya tidak mau kami kurangi, kami daftarkan raka di rumahsunatan.com via telepon untuk disunat dengan metode smart klamp, alhamdulillah acara bersunat lancar, walau dengan peluh menahan raka yang berontak ketika disunat. selepas bersunat raka langsung dapat bermain kembali.

hanya saja … jangan sampai lupa meminumkan ibuprofen dan antibiotik sehari 3 kali, atau raka berteriak gigitan semut.
hanya saja … ketika mau pipis atau mandi melihat ada smart klamp diiujungnya, ia menangis dan minta dilepas. terpaksa kami harus buat ia tidak melihat ke bawah dan memakaikan diaper supaya tidak tergesek… 🙂


Re: Jangan Berbuka shaum Dengan Yang ‘Manis’ ???

11 September, 2008

siapa bilang kurma asli tidak manis?

kurma itu dalam bahasa arab disebut ruthab dan tamar ruthab adalah buah segar, sedangkan tamar adalah buah kering

kalaupun kita beli ruthab, jika disimpan akan menjadi kering mengapa kebanyakan yang diekspor adalah tamar, karena masalah ekonomis: packaging tamar lebih mudah dan lebih muat banyak daripada ruthab. tidak benar juga kalau tamar itu dibuat manisan dulu baru dijual. yang sebenarnya terjadi adalah ketika dikeringkan, kadar air ruthab berkurang dan meningkatkan kadar gula sehingga tamar itu lebih manis daripada ruthab yang sepet.

selain kurma, yang dijual keringan adalah kismis (raisin) dan buah tiin.

Rasulullah memilih berbuka dengan ruthab, tamar atau air putih. bukan berarti harus selalu begitu, seandainya gak dapat salah satu dari ketiganya tetapi ada makanan halal lainnya, mosok gak buka puasa?


%d blogger menyukai ini: