di dalam salat ada kesibukan

21 Oktober, 2014

Imam Al-Ghazali -semoga Allah mengasihinya- pernah menceritakan sebuah kisah anekdot di dalam Ihya Ulumiddin. Kisah itu tentang seseorang yang lupa akan suatu barang kemudian orang tersebut melakukan salat. Di dalam salatnya ia berhasil mengingat kembali barang yang hilang atau urusan-urusan yang terlupakan di luar salat.

Barangkali ini kisah yang juga sering kita alami, di mana salat dijadikan sarana untuk memikirkan hal-hal. Entah itu tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang utang-piutang, atau tentang lain-lain. Salat kita menjadi terganggu dan tidak khusyuk. Pikiran yang membuat kita terlupa akan bacaan dan gerakan salat, bahkan lupa rakaat salat.

Padahal Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

إن في الصلاة لشغلا

“Sesungguhnya dalam salat itu sudah banyak kesibukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam salat ada kesibukan untuk merenungi bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan salat. Dimulai dari takbiratul ihram, membaca doa istiftah, berkomunikasi dengan Allah melalui surat Alfatihah, membaca beberapa ayat dari Alquran.

Dilanjutkan dengan rukuk pengakuan, bangkit dari rukuk, kemudian sujud penghambaan. Duduk di antara dua sujud, hingga tahiyat penghormatan dan salawat. Diakhiri dengan doa dan salam. Masing-masing gerakan dan bacaan salat memerlukan konsentrasi makna dan sikap menghadap kepada Ilahi.

Apabila orang yang salat sibuk dengan memaknai salatnya, maka ia tidak akan sempat memikirkan hal-hal di luar salat. Sebelum salat ia akan menghilangkan semua sebab yang akan membuat salatnya terganggu. Ia akan fokus dalam salatnya, khusyuk dan bersemangat.

Dan apabila orang yang salat selesai dengan salatnya, ia pun dapat memfokuskan diri untuk mengerjakan yang lain, bekerja dan meraih karunia dari Allah.


puasa itu ringan, salat itu berat

17 Agustus, 2014

T: “ndi, menurut kamu puasa daud itu asyik ga?”

A: “mas, mau puasa daud?”

T: “iya nih, ndi. daripada gue ga pernah makan siang. mending diniatin sekalian aja puasa daud. bagaimana?”

A: “alhamdulillah. bener tuh mas, banyak keutamaannya tuh.”

T: “oh ya? katanya bagus buat penempaan jiwa juga ya?”

A: “bener banget, mas.”

T: “cocok, kan?”

A: “cocok dong. puasa apapun sebenarnya ringan. apalagi buat orang seperti mas yang ga pernah makan siang. justru yang berat, itu salat.”

T: “ah, lu nyindir gue, ndi?”

A: “eh, maksud saya gak begitu, mas. begini, salat itu memang berat bahkan buat yang rajin salat pun. contohnya ketika sedang kerja atau rapat kemudian waktu salat tiba. alih-alih menghentikan aktivitas untuk salat barang 5-10 menit saja, malah meneruskan pekerjaan bahkan hingga waktu salat habis.”

T: “gue akuin, ndi. gue sih, kepingin salat bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan. mesti datang dari dalam hati agar salat gak asal-asalan.”

A: “iya, mas. Allah bilang bahwa salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhan nya dan dikembalikan kepada-Nya.”

T: “gue udah mulai mencoba salat lagi, paling tidak ketika di rumah. sebelum tidur salat isya dulu, dan sebelum berangkat kantor salat subuh dulu. tapi ya itu untuk salat yang lain belum.”

A: “bagus tuh, mas. lanjutkan dengan salat lainnya. semoga Allah memudahkan.”

T: “ajarin gue, ya, ndi.”

A: “insya Allah, mas. barakallahufikum.”


%d blogger menyukai ini: