rukun syukur nikmat

2 Januari, 2015

Di antara ciri orang yang beriman adalah mensyukuri karunia Allah. Tidaklah terpenuhi syukur nikmat kecuali dengan 5 hal:

1. Mengakui bahwa nikmat adalah nikmat. Tidak banyak mengeluh. Melihat kondisi orang lain yg kekurangan sehingga mampu melihat karunia yg ada padanya.

2. Mengakui bahwa semua karunia sejatinya berasal dari Allah, bukan dari upaya atau kepandaiannya sendiri. Meyakini bahwa Allah akan menambah karunia-Nya kepada orang yg bersyukur.

3. Mengakui jasa orang-orang yg berjasa kepada dirinya. Bahwa apa yg ada padanya ia peroleh melalui perantaraan manusia. Berterima kasih kepada manusia yg telah berjasa tak lain adalah bentuk syukur kepada Allah.

4. Mempergunakan karunia yg ada padanya untuk hal-hal yg bermanfaat. Bukan untuk bermaksiat kepada Allah atau berbuat dosa.

5. Menceritakan nikmat yg ia peroleh kepada orang lain sebagai bentuk syukur. Bukan untuk sombong atau riya.

Intisari khutbah jumat di MPR Yogyakarta, khatib Ust. Aris Munandar hafizhahullah. – at Masjid Pogung Raya

View on Path


tentang rezeki

19 Desember, 2014

Kita sering bilang rezeki itu dari Allah. Benar. Tapi kita juga sering meragukan, khawatir, dan takut ga kebagian rezeki.

Buktinya, kita masih suka meninggalkan perintah Allah. Lebih mementingkan dunia, dan takut miskin.

Padahal Allah pasti menjamin rezeki kita. Jika rezeki kadal saja dijamin, tentu rezeki kita pasti ada.

Tinggal kitanya sendiri, mau dan tidak malu meminta kepada-Nya. Yakin dan penuh harap.

(Intisari khutbah jumat oleh Habib Muhammad Baqir, Kedoya) – at Masjid An-Nabawi

See on Path


memilih menjadi terang

22 Mei, 2013

PELITAkita sering terharu dengan pengorbanan lilin, yang sedia menerangi sekitarnya namun ia sendiri habis terbakar hingga tak bersisa terang bagi sekitar, bahkan bagi dirinya sendiri.

dalam hadits yang sahih dikisahkan bahwa dalam perjalanan isra miraj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan di antara penghuni neraka ada orang yang lidahnya panjang dan dipotong dengan gunting yang terbuat dari api neraka. dikabarkan bahwa orang itu adalah para pengkhutbah. semasa di dunia berkhutbah agar orang lain berbuat kebaikan namun ia tidak menjadikan khutbah itu bermanfaat bagi dirinya sendiri.[1]

ia menjadi terang bagi sekitar dan melupakan dirinya sendiri hingga ia habis terbakar. demikianlah keadaan lilin.

sungguh ada perumpamaan dian atau pelita yang juga menjadi terang bagi sekitar bahkan juga bagi dirinya tanpa harus habis terbakar. bahkan dian boleh tak kunjung padam karena minyaknya terus diisi dan diperbarui.

demikianlah hendaknya orang-orang yang memberi nasihat, agar ia tidak melupakan untuk mengamalkan nasihatnya sebelum ia menyampaikan kepada orang lain. dan ia terus membekali dirinya dengan ilmu yang terus diisi dan diperbarui kemudian mengamalkan ilmunya sehingga kehadirannya memberi terang bukan hanya bagi sekitarnya tetapi juga bagi dirinya sendiri.

jika anda memilih menjadi terang, jangan memilih menjadi terangnya lilin, pilihlah menjadi terangnya pelita.

[1] Dari sahabat Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda, “Ketika malam Isra’, aku melewati suatu kaum yang lidahnya dipotong dengan gunting dari api. Aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam) bertanya, ‘Kenapa mereka dihukum seperti itu?’ (Malaikat) berkata, ‘Mereka adalah umatmu di dunia, mereka memerintahkan kebaikan kepada orang-orang namun melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Al-Qur’an. Mengapakah mereka tidak menggunakan akal sehatnya?!’.” (HR. Ahmad no. 12391)


banyak bersyukur: refleksi kemerdekaan hamba

17 Agustus, 2012

Hendaklah seorang muslim ahlussunnah banyak bersyukur kepada Allah, atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada seluruh alam.  Bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya dari rizki yang diberikan Allah kepadanya. Bersyukur atas berdirinya masjid ahlussunnah, sehingga dapat menggali ilmu-ilmu agama sesuai pemahaman para salaf serta berkumpul di dalamnya orang-orang yang gemar menghidupkan sunnah serta menjalankannya tanpa rasa was-was.

Bersyukur atas nikmat kemerdekaan bagi negeri ini, sehingga dimudahkan segala urusan untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk menikmati hasil jerih payah perjuangan para pendahulu dan untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan umat, sebagaimana firman Allah: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (QS Ali Imran, 3: 103)

Bagaimanapun kondisi kita saat ini dalam memperjuangkan sunnah, sangatlah tidaklah sebanding dengan perjuangan berat yang dijalani oleh Nabi Nuh alaihissalam. Walau begitu, beliau disebut-sebut di dalam Alquran surat Al Israa, 17: 3 sebagai hamba yang banyak bersyukur kepada Allah.

Bersyukur atas dimudahkan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan, bulan yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan dan kelebihan. Bersyukur karena dihampirkan di penghujung Ramadan, sebagaimana firman Allah: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Albaqarah, 2: 185)

Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam, pada hari-hari terakhir di bulan Ramadan mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya. Mengencangkan ikat pinggang maksudnya menahan diri dari menggauli istri-istrinya. Menghidupkan malam untuk banyak beribadah dengan shalat, membaca Alquran dan berdzikir mendekatkan diri kepada Allah. Membangunkan keluarga untuk bersama-sama menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan dan menjadikan kita hamba yang banyak bersyukur.

(disarikan dari khutbah Ustadz Ja’far Shalih hafizhahullah pada Khutbah Jumat di Masjid Al-Muhajirin Wal Anshar, Jl. Pramuka, Grogol, Depok)


meneladani nabi Ibrahim

6 November, 2011

Selalu setiap hari raya Idul Adha kita diperingatkan tentang nabi Ibrahim alaihisalam dalam hal ketaatan kepada Allah atas perintah berkurban dan kesabaran putra satu-satunya yaitu nabi Ismail alaihisalam. Namun perlu juga kita ketahui bahwa pengurbanan keduanya tidaklah sempurna tanpa dilandasi tauhid, pengesaan terhadap Allah semata dalam peribadatan kepadanya dan berserah diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta alam semesta dan satu-satunya yang berhak diibadahi. Kita juga diingatkan tentang bagaimana meneladani nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail alaihimasalam, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasalam.

http://www.ziddu.com/download/17413838/PV_KhutbahIdulAdha_UstSofyanRuray.mp3.html


ramadhan datang

30 Juli, 2011

Setelah membaca khutbatul hajat, khatib di Masjid Muhammadi membaca surat Albaqarah ayat 183-185 dan menerangkan artinya, bahwa kewajiban puasa atas orang-orang yang beriman adalah sebagaimana telah ditetapkan pada umat terdahulu untuk menjadi orang yang bertakwa. Yaitu pada hari-hari yang telah ditentukan, dan diberi keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Bagi yang mampu berpuasa tetapi berat menjalaninya maka cukup dengan memberi makan orang-orang miskin, sedangkan tetap berpuasa maka hal itu adalah lebih baik baginya. Tetapi hari-hari yang ditentukan pada ayat 184 dihapus dengan ayat 185, yaitu dengan puasa pada bulan Ramadhan, apabila telah menyaksikan bulan. Bagi yang sakit atau dalam perjalanan diberi keringanan untuk tidak puasa dan menggantinya di waktu yang lain. Sedangkan Allah menghendaki kemudahan dalam beragama, bukan kesusahan. Dan diwajibkan pula untuk menggenapkan bilangan bulan Ramadhan lalu bertakbir dan mensyukuri Idul Fitri.

Khatib menyampaikan bahwa dalam menjalani Ramadhan harus dengan kesiapan dan kesabaran. Menurut Ibnul Qayyim ada 3 tingkatan sabar: sabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam meninggalkan keharaman pada ketaatan, dan sabar dalam meningkatkan kualitas ketaatan. Maka dalam berpuasa pun dituntut 3 kesabaran: sabar atas perintah puasa, sabar dalam meninggalkan hal-hal dapat membatalkan puasa, dan bersabar dalam meningkatkan kualitas berpuasa.

Ada pula 3 macam manusia yang menjalani puasa:

  1. mereka yang berpuasa namun tidak meninggalkan maksiat: berpuasa di siang hari, namun di malam hari tetap mabuk dan berzina. Bahkan diantaranya tetap meninggalkan shalat, padahal siapa yang sengaja meninggalkan shalat akan dihukumi kafir.
  2. mereka yang berpuasa dan berupaya meninggalkan maksiat: inilah kebanyakan manusia, bergelimang dosa di hari-hari sebelumnya, sedangkan di bulan Ramadhan berupaya keras menghapus dosa dan meraup pahala.
  3. mereka yang telah mengisi hari-harinya sebelumnya dengan ketaatan dan amal salih lalu memasuki Ramadhan dengan kesiapan jiwa dan raga serta amal salihnya pun semakin banyak lalu banyak berharap agar amalannya diterima oleh Allah.

Khatib juga menyampaikan beberapa hadits terkait dengan Ramadhan bahwa kegembiraan menyambutnya dengan penuh keimanan akan mendapat pahala dan menghapus dosa-dosa. Dibukanya seluruh pintu surga untuk menyambut orang-orang yang berpuasa. Ditutupnya seluruh pintu neraka sebagai kasih sayang Allah kepada manusia. Serta dibelenggunya setan-setan agar tidak menggoda manusia yang berpuasa. sehingga tidak ada alasan mengambinghitamkan setan apabila didapati masih ada kejahatan di bulan Ramadhan, karena itu murni datang dari hawa nafsu manusia.

Khutbah Jumat 27 Sya’ban 1432H yang disampaikan dalam bahasa Inggris itu diakhiri dengan nasihat agar sebagai orang beriman, kita mengupayakan untuk mengiringi amal salih kita dengan niat, meninggalkan maksiat dengan niat, dan membersihkan niat kita untuk memperoleh keridaan Allah. Semoga Allah memudahkan.

[29-Jul-2011, Houston, TX]


nilai shalat jumat

10 April, 2010

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat-shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke Jum’at yang berikutnya, dan puasa Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa kecil di antara keduanya jika ia meninggalkan dosa-dosa besar. (HR. Muslim, Ahmad).

Khatib shalat jumat di masjid Fatahillah, Tanahbaru, Depok, kemarin menyampaikan khutbah mengenai keistimewaan hari jumat, nilai dan hikmah yang terkandung di dalam ibadah tersebut. Pada setiap mukadimah khutbah Jumat, seorang khatib selalu menyitir ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

QS Aal ‘Imran, 3:102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Maksud dari ayat ini adalah sudah merupakan kemestian bagi orang-orang yang beriman yang bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yaitu secara konsekuen menjauhi segala larangan-Nya dan melaksanakan segala perintah-Nya, maka akan mati dalam keadaan beragama Islam sebagai satu-satunya agama yang diridai oleh Allah.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

QS Aal ‘Imran, 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Setelah sepekan berkutat dalam urusan dunia, barangkali kita melupakan akan agama. Maka shalat jumat adalah saat dikumpulkannya umat muslim di masjid-masjid untuk kembali mengingat Allah, mengenal tauhid-syirik, ibadah-muamalah, halal-haram, sunnah-bid’ah, dan ilmu-ilmu yang menyempurnakan peribadatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

QS Al Jumu’ah, 62:9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Allah berseru kepada orang-orang beriman untuk bersegera mengingat Allah dan meninggalkan semua pekerjaan ketika khatib telah naik mimbar dan muazin mengumandangkan azan di hari Jumat. Jual beli yang hukumnya boleh, menjadi haram hukumnya ketika menghalangi kita memenuhi kewajiban.

Sebagaimana  hadits di awal tulisan, orang-orang yang secara konsekuen menjalankan ibadah shalat lima waktu, shalat Jumat, dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka ibadah-ibadah itu akan menghapus dosa-dosa kecil yang diperbuat di antara kedua waktu ibadah yang disebutkan, dengan sebuah syarat: meninggalkan dosa-dosa besar. Hal ini karena dosa-dosa besar membutuhkan tatacara khusus untuk mendapatkan pengampunan Allah. Namun begitu, bukankah kabar pengampunan dosa-dosa kecil ini cukup menjadi kabar gembira bagi orang-orang beriman?

Semoga Allah menjadikan kita istikamah dalam menjalani ketakwaan kepada-Nya, sehingga kelak Dia mematikan kita dalam keadaan beragama Islam.


%d blogger menyukai ini: