akhlak Islam

19 September, 2016

​ketika bunda Aisyah -semoga Allah meridainya- ditanya tentang bagaimanakah akhlak Rasulullah -sallallahu alaihi wasallam, maka  dijawab, “Akhlak beliau adalah Al-Quran”. diriwayatkan oleh Imam Muslim.

yang hilang dari kita adalah akhlak, agama menjadi formalitas, religiusitas sekadar status, knowledge sebagai justifikasi penghakiman. praktiknya pragmatis. gagal paham.

padahal, islam adalah jalan keselamatan, tentu bagi yang berkomitmen dan berupaya konsisten. 

sebagaimana nasihat Nabi kepada seseorang yang bertanya tentang Islam dalam satu kalimat pendek, “katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah.” diriwayatkan oleh Imam Muslim.

istikamah dapat dimulai dari pribadi muslim sebagai penganut Islam, perbaikan diri dan keluarga, lalu masyarakat. menjadikan muslim sebagai sebenar-benar keberserahan diri.

pemaksaan syariat pada umat yg belum siap dapat melahirkan pembangkangan dan pertikaian, minimal kemunafikan.

cukup bahagia tentunya melihat Islam hadir di tengah umat yg terus memperbaiki diri, dan bukan sebagai kendaraan hawa nafsu. semoga Allah mengaruniakan taufik.

@ndi, 17121437


Tentang amal

18 Maret, 2016

Kita sering kali mengatakan, “ah, apa sih kebaikan yang sudah dia lakukan?” namun tidak mempertanyakan diri sendiri apakah kita sudah melakukannya?

Kita sering berbangga mengatakan, “saya sudah pernah melakukan ini atau itu”, namun apakah kita masih konsisten melakukannya atau yg lebih baik daripada itu?

@ndi, 09061437


konsisten dalam kebaikan

31 Oktober, 2014

konsisten dalam kebaikan

walaupun kecil dan sedikit namun terus menerus diamalkan tanpa rasa bosan, tanpa pamrih, dan ikhlas.

apalagi jika dalam bentuk yang besar dan banyak, apabila mampu, konsisten, dan ikhlas, tentu lebih baik lagi.

(07-01-1436) – at City Plaza

View on Path


memulai itu menyenangkan

30 April, 2010

Sudah lebih dari 3 tahun diajak bersepeda ke kantor, dan sudah 1 tahun pula usia komunitas bersepeda di kantor saya, namun baru kali ini saya berani mencobanya. Mencoba mengabaikan semua alasan: kesiangan, kerepotan dan kelelahan, jam 06.15 kayuhan pertamaku dimulai dari halaman rumah. Jam 06.30 sudah menempuh 8 km tiba di pasar pondok labu. Jam 06.45 melalui pasar inpres cipete menelusuri jalan antasari. Jam 07.10 melewati kantor walikota jaksel. Jam 07.20 menyeberangi jembatan di depan menara jamsostek. Jam 07.30 memarkirkan sepeda di tempat parkir motor gedung patra jasa. Maklumlah karena sepedaku bukan sepeda lipat, dan belum ada parkiran sepeda di kantor.

Ternyata tidak ada bedanya waktu tempuh antara mengendarai sepeda motor dengan bersepeda, yang beda hanyalah kesegaran tubuh dan keringatnya. Next time I have to start earlier, karena jam masuk kantor saya adalah jam 07.00 😀 Setelah menyeka keringat, mandi dan bersalin pakaian, naiklah saya menuju ruangan kerja. Sekarang, tinggal kuatkan hati untuk menjalaninya dengan konsisten. 🙂


membiasakan diri

24 Februari, 2010

Dilatarbelakangi cerita tentang anak saudara saya yang mewajibkan dirinya berlatih alat musik dengan target 10 menit setiap hari. Suatu hari trumpet miliknya yang berada di dalam bagasi mobil ayahnya terbawa hingga malam hari. Si ayah baru pulang setelah beberapa kali ditelpon. Maklumlah saat itu si ayah sedang mengantar tamu (: saya sendiri :). Sesampainya di rumah diraihnya trumpet itu dan dibawanya berlatih selama 10 menit.

Ketika saya menanyakan hal ini, dijawab oleh si ayah bahwa sekolah mengajarkan para siswa untuk disiplin dan konsisten dengan pilihannya. Si anak telah memilih trumpet sebagai alat musiknya, sehingga ia harus berlatih sesuai target harian. Jika tidak, ia akan merasa malu karena tidak memenuhi target.

Wow! Sekolahnya telah mengajarkan disiplin begitu rupa, sampai-sampai siswa merasa malu jika tidak konsisten menjalankan pilihannya sendiri.

Saya teringat dengan kisah seorang sahabat Rasulullah yang telah memilih untuk berpuasa sunnah daud sepanjang hidupnya. Ketika beliau sudah tua sebenarnya mendapat keringanan atas ibadah sunnah tersebut, walau terasa berat namun tetap dilakukan dengan alasan malu karena beliau telah berjanji kepada Rasulullah ketika masih hidup untuk berpuasa sunnah daud sepanjang hidupnya. Sedangkan di masa tua si sahabat, Rasulullah telah lama wafat.

Selari dengan tulisan sebelumnya, tulisan ini mengajak untuk membiasakan diri konsisten dengan pilihan kita selama pilihan itu adalah hal yang baik dan benar.


kon.sis.ten

15 Februari, 2010

kon·sis·ten /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya — dng ucapan [KBBI]

Kata tersebut gampang diucapkan, namun berat dilaksanakan. Apalagi sebagai manusia kita memiliki terlalu banyak apologi terhadap sikap inkonsisten. Bahkan seseorang yang diketahui sangat konsisten pun dapat dimaklumi apabila pada suatu saat ia berbuat inkonsisten.

Memaksakan diri untuk konsisten pada semua hal itu bagus, tetapi sayangnya terlalu banyak faktor yang mampu memengaruhi kondisi kita. Oleh karenanya cukuplah apabila kita membatasi sikap konsisten pada hal-hal tertentu yang mampu kita lakukan. Sebagaimana Allah tidak membebani kita dengan kewajiban-kewajiban ibadah di luar kesanggupan, supaya kita mampu melaksanakan ibadah tersebut dengan konsisten, maka begitu pulalah sebaiknya sikap kita terhadap dunia.

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya” (QS Al Mu’minuun, 23:62)

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Huud, 11:112)


%d blogger menyukai ini: