menjadi suami pendamping persalinan

15 Juli, 2014

Dalam tradisi Islam, perkara yang disebutkan dengan rinci di dalam Alquran biasanya merupakan perkara yang besar dan perlu mendapat perhatian serius. Di antara perkara itu adalah kisah kehamilan Maryam sampai ia melahirkan Isa alaihi salam. Alquran menceritakannya dalam serangkaian ayat yang tersusun secara kronologis dan sarat makna, yaitu di dalam surat Maryam, 19: 22-26.

Pemahaman terhadap ayat-ayat ini dapat kita pelajari dari kitab-kitab tafsir semacam Tafsir Ibnu Katsir dan semisalnya. Adapun artikel ini ditulis hanyalah dengan maksud merefleksikan beberapa faidah dan hikmah dari serangkaian ayat kisah persalinan tersebut ke dalam pengalaman sebagai suami yang mendampingi persalinan.

Kehamilan adalah kondisi yang memayahkan bagi seorang ibu. Sembilan bulan seorang ibu mengandung dan bertambah payah menjelang kelahiran bayinya. Kondisi yang juga dialami oleh Maryam ketika mengandung Isa. Oleh rasa sempit di hatinya, Maryam memencilkan diri ke suatu tempat yang jauh dari Yerusalem, yaitu Betlehem.

فَحَمَلَتْهُ فَانتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (19:22)

Seorang suami berperan mendukung suasana hati bagi istrinya yang sedang hamil. Meringankan rasa kepayahan oleh karena membawa beban kandungan yang semakin berat. Ketenangan dan kelapangan hati menjadi hal yang sangat berharga bagi ibu hamil, menjaganya untuk tetap optimis dan berprasangka baik kepada Tuhannya.

Sebagaimana Maryam telah menjauh dari keramaian manusia, menjelang kelahiran adalah saat-saat yang sangat membutuhkan privasi. Secara naluri, perempuan yang akan melahirkan akan mencari tempat dan posisi yang nyaman hingga pada titik tertentu kehilangan rasa malu. Maka sangat penting bagi suami untuk menjaga aurat istrinya dari pandangan manusia yang tidak berkepentingan.

Memilih tempat persalinan mestilah mempertimbangkan kenyamanan si ibu, menjaga privasinya, dan menjamin keamanan serta tindakan yang diperlukan apabila timbul masalah. Rumah sakit bersalin biasanya dipilih karena dianggap paling aman karena menyediakan dokter dan peralatan yang memadai ketika menghadapi masalah persalinan.

Persalinan di rumah dapat dipertimbangkan jika kondisi ibu dan janin sehat tanpa komplikasi. Lagipula sebenarnya lebih aman karena kecil kemungkinan terjadinya infeksi (umumnya kuman di rumah lebih sedikit dibandingkan di rumah sakit). Hanya saja dokter atau penolong enggan membantu karena kemungkinan timbulnya kesulitan saat persalinan.

Alih-alih memberikan ketentraman bagi seorang ibu yang akan melahirkan, membawanya ke rumah sakit umum atau rumah bersalin malah membuatnya kehilangan banyak privasi dan sulit untuk menjaga auratnya dari pandangan manusia. Oleh karenanya tidaklah salah jika Syaikh Al-Albani menasihatkan agar  perempuan yang hamil hendaknya melakukan persalinan di rumah.

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”.” (19:23)

Maryam adalah perempuan pilihan Tuhan, kesalehannya pun tidak dipungkiri, sebaik-baik wanita di masanya. Bagaimanapun ia juga seorang manusia, yang mengalami rasa sakit akan melahirkan seperti perempuan lainnya. Penderitaannya itu pun ditambah pula dengan perasaan berat menanggung fitnah yang akan dihadapinya dengan kelahiran anaknya.

Seorang suami berperan mendampingi istrinya melalui rasa sakit ini. Memilih metode melahirkan juga dapat menjadi pertimbangan sendiri. Persalinan di dalam air dianggap mengurangi rasa sakit saat kontraksi, memberi rasa nyaman dan lebih tenang, serta tidak menimbulkan trauma bagi bayi. Persalinan alami yang tanpa obat penghilang rasa sakit memerlukan ketenangan dan teknik pernapasan, dan yang penting adalah kesiapan hati ibu untuk menghadapi rasa sakit melahirkan.

Pada saat persalinan, suami ibarat pangkal pohon kurma bagi istrinya. Suami berperan dengan menghibur dan memberi semangat. Tetap sabar walaupun istri menjengkelkan pada saat dia sangat menderita. Mengingatkan tentang teknik pernapasan, mengusap kening istrinya yang berkeringat, memeluk bahunya, mengurut punggungnya untuk mengurangi rasa sakit, dan memberi minum bila dia haus.

Suami sangat diharapkan memberikan dukungan agar istrinya tetap menjaga kesalehan selama proses kelahiran. Memperbanyak mengingat Allah untuk menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Tak lupa memohon keampunan-Nya dan berdoa agar dimudahkan dalam melahirkan.

فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا

“Maka ia diseru dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (19:24)

Suami adalah penghibur istrinya di saat kepayahan, memberi semangat dan menyediakan kebutuhan yang diperlukan. Suami harus mendukung secara fisik dan membesarkan hati istri, melalui tahap demi tahap persalinan. Menghapus kesedihan istri dengan kabar gembira akan kelahiran bayi yang dinanti-nantikan.

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (19:25)

Penderitaan dan perasaan frustasi yang dialami Maryam tidak boleh memupuskan harapan dan persangkaan baiknya kepada Allah. Pangkal pohon kurma adalah bagian yang sangat kokoh, sehingga sangat sulit dibayangkan bahwa seorang ibu yang kepayahan dan belum pulih akibat melahirkan dapat menggoyangnya sehingga pohon itu menggugurkan buah kurmanya. Allah mengajarkan Maryam untuk bersikap tawakal, manusia harus tetap berupaya sedangkan hasilnya adalah urusan Tuhan.

Rutab atau kurma segar adalah makanan terbaik bagi ibu melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa kurma mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan. Sebuah makalah ilmiah Shiraz E-Medical Journal menyimpulkan bahwa memakan buah kurma setelah melahirkan lebih cepat mengurangi pendarahan daripada penggunaan suntikan oxytocin pada persalinan normal.

Bahkan sebuah makalah ilmiah pada Journal of Obstetrics and Gynaecology menyimpulkan bahwa mengonsumsi kurma pada 4 minggu menjelang persalinan mengurangi kebutuhan akan induksi dan menjaga pembesaran janin secara signifikan, serta menghasilkan kelahiran yang menyenangkan.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.” (19:26)

Suami yang suportif menyediakan buah kurma sebagai cadangan bagi istrinya yang sedang hamil tua maupun selepas melahirkan. Apabila kesulitan mendapatkan rutab atau kurma segar, maka kurma kering atau tamar pun dapat menggantikannya agar ibu melahirkan memperoleh manfaatnya.

Kemudian memberi makan dan minum kepada istrinya yang tentu saja kelaparan dan kehausan setelah berjuang menghadapi rasa sakit melahirkan. Maka apabila bayi yang dinantikan kehadirannya itu telah lahir, suami masih diharapkan perannya membantu istri mengatasi perasaan murung akibat perubahan kadar hormon dan euforia melahirkan.

Suka cita kelahiran adalah karunia dari Allah yang diharapkan keberkahannya dan didoakan kesejahteraannya. Menjadi suami pendamping persalinan adalah sebuah kesempatan dan sangat dihargai perannya.

Wallahu a’lam.


menafkahi istri dengan layak dan cukup

1 Februari, 2013

Ibnu Umar mengatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dahulu menyerahkan tanah khaibar (untuk digarap), dengan upah setengah dari hasil buah dan pertaniannya. Dari hasil tersebut, beliau bisa menafkahi para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun. 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa sya’ir (jewawut/malt). Pada saat Umar menjadi khalifah, dia membagi (tanah khaibar itu), dan memberikan pilihan kepada para istri Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, antara mengambil tanah dan pengairannya, atau (seperti sebelumnya) menerima hasilnya beberapa wasaq tiap tahunnya. Dan pilihan mereka berbeda-beda, ada yang memilih tanah dan pengairannya, ada juga yang memilih menerima hasilnya beberapa wasaq. Adapun Aisyah dan Hafshah, mereka berdua memilih mengambil tanah dan pengairannya. [HR Muslim]

Hadits tersebut diletakkan oleh Imam Muslim pada bab Musaqah pada Kitab Muzara’ah dalam kumpulan Shahih-nya. Secara bahasa, muzara’ah berarti muamalah atas tanah dengan sebagian yang keluar sebagian darinya. Dan secara istilah muzara’ah berarti memberikan tanah kepada petani agar dia (pemilik tanah) mendapatkan bagian dari hasil tanamannya. Misalnya sepertiga, seperdua atau lebih banyak atau lebiih sedikit dari itu. Musaqah adalah menyerahkan kebun beserta pohonnya, kepada pekerja, agar dirawat, dengan upah dari sebagian hasil buahnya. Hadits tersebut dijadikan dalil praktik muamalah mengambil manfaat dari hasil kebun atau sawah milik sendiri yang digarap oleh orang lain.

Di dalam hadits tersebut disebut bahwa praktik musaqah dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- terhadap tanah khaibar. Tanah khaibar diperoleh sebagai harta rampasan perang Khaibar yang berlangsung di penghujung bulan Muharam pada tahun ke-7 H. Karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke Madinah, maka kebun kurma dan malt yang ada diserahkan kepada petani Yahudi (yang dahulu memilikinya) untuk digarap dengan upah sebesar setengah dari hasil pertaniannya. Hal ini menjadi dalil dibolehkannya bermuamalah dengan orang-orang Yahudi maupun non muslim lainnya.

Dari hasil pertanian yang menjadi hak kaum muslimin, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dapat memberi nafkah kepada para istrinya sebanyak 100 wasaq pertahun dengan perincian 80 wasaq berupa kurma, sedang 20 wasaq berupa malt. Secara matematis, 1 wasaq adalah 60 shaa’, sedangkan takaran 1 shaa’ setara dengan 2,5 kg. Sehingga nafkah sebesar 100 wasaq per tahun setara dengan 15 ton dengan pembagian 12 ton kurma dan 3 ton malt. Dengan demikian setiap bulannya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- menafkahi para istrinya sebesar 1,25 ton hasil pertanian. Apabila menggunakan perbandingan harga saat ini (2012) dimana 1 kg kurma berkualitas baik adalah Rp100 ribu dan 1 kg malt berkualitas baik adalah Rp50 ribu, maka nafkah yang dikeluarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- setiap bulannya kurang lebih senilai Rp112,5 juta.

Pada tahun ke-7 H hingga wafatnya, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih memiliki 9 orang istri dan 1 orang selir. Khalifah Abu Bakar –radhiyallahu anhu- tetap melanjutkan hak nafkah para ummul mukminin tersebut hingga di masa Khalifah Umar bin Khattab –radhiyallahu anhu– mengubah mekanisme pembagiannya.

Hal ini mengandung pelajaran bagi para suami untuk memperhatikan keluarganya dengan memberikan nafkah yang layak dan cukup yang bersumber dari harta yang halal dan berkah. Dimana nafkah tersebut masih dapat dinikmati keluarganya bahkan jauh setelah si suami wafat. Hal ini juga mengandung pelajaran bahwa khalifah sebagai pemerintah dapat campur tangan ke dalam masalah hak-hak pribadi apabila melihat maslahat yang lebih baik sehingga dapat bermanfaat lebih bagi kelangsungan bernegara. Wallahu a’lam.


pohon kurma

27 Maret, 2012

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara pepohonan, ada yang daunnya tidak rontok. Sungguh, itu adalah pemisalan seorang muslim. Beritahukan kepadaku, pohon apakah itu?” Orang-orang menyebut pohon-pohon yang ada di lembah-lembah. Ibnu Umar mengatakan, “Terlintas dalam diriku bahwa itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu (untuk mengatakannya).” Kemudian para sahabat mengatakan, “Beritahukan kepada kami, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Pohon kurma.” (HR. Al-Bukhari)


menelusuri takaran zakat fitrah

23 Agustus, 2010

Menjadi panitia zakat fitrah di kampung membuat saya harus mencari ukuran yang pas untuk menakar beras sebagai bahan makanan pokok yang akan dizakatkan. Namun ukuran zakat yang disebut dalam hadits sahih tidak dalam ukuran yang kita kenal sekarang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu shaa’ kurma atau satu shaa’ gandum. Kewajiban itu dikenakan kepada budak, orang merdeka, lelaki wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat fithri itu ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (‘Id)” [HR Al-Bukhari & Muslim].

Ukuran yang disebut adalah shaa’  dan ukuran sha’ yang berlaku adalah sha’ penduduk Madinah zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah sepenuh dua telapak tangan laki-laki berperawakan sedang.

“Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah, dan sukatan yang teranggap adalah sukatan-nya orang Madinah” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Al-Baihaqi dari Ibnu Umar dengan sanad Shahih]

Dalam bahasa melayu, shaa’ sama dengan gantang. Namun ukuran gantang saat ini tinggallah kenangan. Walaupun segantang kira-kira 2.8 kg, namun untuk menakar padi segantang kira-kira 5 1/3 lb atau 2.42 kg. Barangkali inilah yang menjadikan ukuran 2.5 kg sebagai kadar zakat fitrah di Indonesia.  Dengan menggunakan kaleng literan Betawi (0.8 kg) diperoleh angka 3.5 liter beras. Tetapi dengan menggunakan takaran liter air, saya dapatkan bahwa 1 liter setara dengan 1 kg. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia 1 gantang sama dengan 3.125 kg.

Hasil penelusuran menghampirkan saya pada halaman adink yang pernah menelusuri kadar zakat fitrah ini. Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah mengeluarkan fatwa bahwa 1 shaa’ adalah 3 kg. Baru-baru ini MUI Jatim menghimbau masyarakat untuk menakarnya sebesar 3 kg beras.  Himbauan MUI Jatim boleh merupakan jalan terbaik untuk kehati-hatian dan keluar dari perbedaan hitung. Mudah-mudahan angka 3 kg beras untuk zakat fitrah dapat mulai digunakan untuk menggantikan angka 2.5 kg.


%d blogger menyukai ini: