refleksi lailatul qadar

14 Agustus, 2012

“barangkali tadi malam, bukan dua malam yg lalu.”
“mengapa tidak 2 atau 4 malam berikutnya?”
“tanda-tandanya nyata dan aku hanya mengikuti nash yang menyebutkannya.”
“lalu, kamu berhenti karena menurutmu sudah berlalu?”

Lailatul qadar adalah malam yang amat dinanti-nantikan oleh orang-orang yang mengimaninya karena telah tertulis di dalam Alquran bahwa malam tersebut dijanjikan lebih baik daripada seribu bulan. Tanda-tandanya amat jelas dapat dilihat secara hakiki, namun demikian tidak diketahui kapan waktunya. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memotivasi umatnya untuk giat beribadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Agar para pemburu malam itu tidak merasa cukup dengan mengistimewakan suatu malam dengan beribadah dan meninggalkan ibadah pada malam-malam lainnya. Tetap semangat!!!


mari kita berdoa

10 Agustus, 2012

2:186

Pada senarai ayat-ayat-Nya tentang puasa, tentulah bukan tanpa maksud Allah menyelipkan ayat tentang doa. Firman-Nya: “Dan apabila bertanya kepadamu, hamba-hambaku, mengenai Aku, maka ketahuilah bahwa Aku dekat. Aku menjawab doa para pendoa apabila mereka berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menjawab seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (QS Albaqarah, 2: 186).

Berdoa adalah perbuatan hamba yang sangat disenangi oleh Allah, bahkan Allah marah kepada hamba-Nya yang tidak berdoa kepada-Nya. Mengabulkan doa para hamba-Nya tidak akan membuat Allah kekurangan sedikitpun, karena Allah Mahakaya dan di sisi-Nya lah segala sesuatu.

Puasa merupakan salah satu kondisi dikabulkannya doa seorang hamba, sedangkan waktu berbuka puasa adalah waktu yang paling utama untuk berdoa. Sebagaimana di hari-hari lain Allah telah menyediakan waktu-waktu terkabulnya doa yang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain itu terdapat waktu khusus yang hanya dapat ditemui di bulan Ramadan, yaitu pada malam Lailatul Qadar.

Setiap hamba tentu memiliki hajat masing-masing, namun hendaklah kita mengutamakan untuk meminta kepada Allah apa-apa yang sangat diperlukan oleh seorang hamba. Di antara doa-doa tersebut adalah memohon hidayah, memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan, memohon diterimanya amal ibadah, memohon surga dan dijauhkan dari neraka, dan memohon keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Marilah kita berdoa dengan menjaga adab-adab berdoa, serta secara cerdas memanfaatkan waktu dan kondisi dikabulkannya doa, mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita.


jangan sia-siakan ramadan

28 Juli, 2012

Waktu adalah sesuatu yang amat berharga, ia datang dan berlalu tanpa pernah kembali. Hanyalah yang pandai memanfaatkannya yang tidak akan merugi, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu akankah kita sia-siakan kesempatan ini?

Ramadan adalah bulan puasa. Orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa puasa seorang hamba adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang menentukan balasannya. Penyandaran ibadah kepada diri Allah menunjukkan betapa agung ibadah tersebut. Balasan dari Allah terhadap puasanya seorang hamba tentu tidak ternilai betapa tingginya.

Dalam Ramadan terkumpul dua jihad. Jihad di siang hari dengan menahan lapar dan dahaga. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengatakan bahwa betapa banyak orang yang puasa kecuali hanya memetik lapar dan dahaga. Padahal puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum dan syahwatnya melainkan meninggalkan perkara yang sia-sia dan keji. Sebab setan-setan dari kalangan jin dibelenggu sehingga tidak dapat membisikkan was-was dan pintu neraka ditutup sehingga membuka kesempatan yang luas untuk meraih pintu surga. Maka kesia-siaan dan kejahatan yang hadir di bulan Ramadan adalah murni datangnya dari hawa nafsu manusia.

Jihad di malam hari adalah menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah salat tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa siapa yang menegakkan salat tarawih di malam Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang salat bersama imam hingga selesai maka akan dicatat baginya salat semalam suntuk. Tentu saja dalam melaksanakan kedua jihad itu diperlukan kesabaran.

Ramadan adalah bulan Alquran, karena diturunkan di bulan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bersama malaikat yang mulia Jibril alaihissalam mendaras Alquran setiap bulan Ramadan. Maka berlomba-lombalah manusia tadarus Alquran untuk mendapat keutamaannya. Dan di sepuluh terakhir Ramadan terdapat sebuah malam yang nilainya setara dengan seribu bulan. Para ulama ahlussunnah telah menjelaskan bahwa siapa yang beramal di malam tersebut maka amalannya bernilai seribu bulan. Siapa yang sedekah di dalamnya setara sedekah seribu bulan. Siapa salat di dalamnya setara salat seribu bulan. Siapa tilawah Alquran di dalamnya setara tilawah seribu bulan. Itulah malam yang dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam yang penuh keutamaan.

Di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam memerintahkan keluarganya untuk mengencangkan ikat pinggang dan berkonsentrasi untuk meraih malam Al-Qadr dengan memperbanyak istigfar, zikir, salat, membaca Alquran, dan sedekah. Menggalakkan itikaf di masjid jami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berburu malam Al-Qadr dengan khusyuk beribadah.

Ramadan adalah waktu yang terkumpul di dalamnya berbagai keutamaan. Lalu masihkah ingin kita sia-siakan kesempatan ini?

(disarikan dari tausiyah Ustadz Muhammad Yahya hafizhahullah pada kultum tarawih di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Komplek Taman Ventura Indah, Depok)


%d blogger menyukai ini: