Allah (jauh) lebih besar

5 Agustus, 2012

Ada yang mempertanyakan tulisan “Allah lebih besar“, apakah maksudnya Allah itu besar secara fisik atau zat-Nya? Daya nalar anak-anak adalah fitrah, belum dicampuri hal-hal kompleks sebagaimana orang dewasa. Barangkali anak-anak menalar bagaimana mungkin Allah bisa menciptakan hal-hal yg besar jika Dia tidak lebih besar daripada semua makhluk-Nya. Bagaimanapun kemahabesaran Allah tidak hanya secara zat melainkan juga sifat-sifat-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika memberikan penjelasan tentang Kursi[1] pada Ayat Kursi yang disebut di dalam kitab Aqidah Wasithiyah sebagai dalil keagungan sifat Allah, menyampaikan bahwa Kursi lebih besar daripada langit dan bumi. Karena jika tidak lebih besar tidak mungkin akan meliputi keduanya. Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radiyallahu anhuma mendefinisikan bahwa Kursi adalah tempat berpijaknya kaki Allah[2].

Demikian pula Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan perihal Kursi dan Arsy pada kitab Aqidah Thahawiyah Syarh wa Ta’liq.

Kursi bukanlah Arsy, bahkan Arsy lebih besar dari Kursi. Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam bahwa Kursi bila dibandingkan dengan Arasy adalah seperti cincin yang dilemparkan ke padang pasir[3]. Maka, apabila Kursi lebih besar daripada alam semesta dan Arsy lebih besar lagi, tentu saja Allah jauh lebih besar! Allahu Akbar!

—-

[1] secara harfiah berarti tempat pijakan kaki atau kursi

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dia mengatakan bahwa hadits ini sahih menurut syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkan. Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Arsy. Disahihkan oleh Al-Albani dalam kitab As-Silsilah Ash-Shahihah, dia berkata bahwa tidak ada hadits yang marfu’ dari Nabi mengenai Arsy kecuali hadits ini.


Allah lebih besar

31 Juli, 2012

Pada mulanya konsep betapa besarnya Allah barangkali merupakan hal yang rumit dipahami anak-anak. Hanya dengan kata-kata bahwa Allah Mahabesar, jauh lebih besar daripada manusia, daripada ultraman (tokoh fiktif jagoan buatan Jepang) dan konsep yang benar mengenai keberadaan-Nya yang di atas langit saja masih membingungkan mereka. Apalagi jika orang tua menyampaikan konsep yang salah tentang Tuhan ada di mana-mana atau ada di dalam diri manusia, tentulah akan menjadi sangat tidak masuk akal bagi mereka.

Namun sekembalinya pulang dari Planetarium, Radya dan Tsuraya membahas kembali dengan babanya mengenai konsep kemahabesaran Allah. “Allah kan lebih besar ya, Baba?” ujar mereka. Baba menjawab, “Bagaimana menurut kalian Allah lebih besar?”. “Iya, kan planet dan matahari itu besar,” kata Tsuraya yang disambut oleh Radya, “Bumi lebih kecil daripada matahari.” Baba penasaran, “Lalu?” Radya melanjutkan, “Manusia kan tinggal di bumi, keciiil sekali!” Tsuraya pun menimpali, “Allah kan ada di atas langit, jadi lebih besar!”

Masya Allah, semoga Allah memberkahi mereka.


akuarium planet – 3

11 Juli, 2012

Kenangan masa kecil dahulu di ruang pertunjukan Planetarium tidak mampu diwujudkan kembali ketika memasukinya bersama anak-anak pada liburan yang lalu. Naratornya yang dahulu kocak dan mampu menghidupkan suasana sudah berganti dengan narator yang textbook dan sekadarnya saja. Laser pointer menjadi alat bantu yang mengganggu kenyamanan menikmati suasana malam buatan. Kehadiran mantan planet kesembilan dan kemunculan pesawat antariksa USS Enterprise dari episode awal film seri StarTrek menunjukkan bahwa program pertunjukan tidak diperbarui selama lebih dari 20 tahun.

Pembelaan paham heliosentris dan upaya penguburan paham geosentris masih dipertahankan. Padahal hingga saat ini belum terbukti secara empiris bahwa paham heliosentris adalah kebenaran dibandingkan paham geosentris. Kebenaran tersebut masih berupa bukti secara teoretis. Banyak pertanyaan yang belum dapat dipenuhi oleh paham heliosentris dipaksakan untuk diterima secara logika. Di antaranya masalah rotasi (perputaran pada porosnya) bumi yang menyebabkan pergantian malam dan siang, revolusi bumi terhadap matahari yang menyebabkan perjalanan satu tahun, penampakan 13 rasi bintang dalam satu tahun untuk menunjukkan 12 bulan pada kalender matahari.

Bagaimanapun pengetahuan mengenai benda-benda luar angkasa tetap diperlukan sebagai tambahan ilmu yang seharusnya digunakan dalam mendukung kehidupan manusia seperti penunjuk arah, musim bercocok tanam dan terutama penunjang peribadatan kepada Allah (penentuan waktu untuk shalat, puasa dan haji).

Sebagaimana merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Albukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Abu Qatadah radiyallahu anhu menyebut ayat Allah yang artinya, “Dan kami hiasi langit yang terdekat dengan pelita-pelita,” lalu menjelaskan, “Bahwa penciptaan bintang-bintang  adalah untuk tiga tujuan, yaitu sebagai penghias langit, sebagai misil untuk melempari setan-setan, dan sebagai petunjuk arah bagi musafir. Maka, barangsiapa yang mencoba mencari-cari penafsiran lain, dia akan tersesat, upayanya sia-sia, dan memberatkan dirinya dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuannya yang terbatas.”

[selesai]


akuarium planet – 2

10 Juli, 2012

(sambungan)

“Pilih mana, kidzania atau planetarium?” Bubu menawarkan kepada anak-anak rencana mengisi hari Rabu itu. “Planetarium aja, Bubu. Kan asyik melihat planet-planet,” jawab Radya. “Asyiiik! Kita ke planet-arium!” Tsuraya menimpali. “Tapi, kita tidak naik kereta lagi,” ujar Baba, “Kita akan naik angkot, busway, ambil mobil di bengkel, lalu menuju Planetarium. Setuju?” tanya Baba. “Setuju!” seru anak-anak.

Berterima kasih kepada supir angkot M20 yang memberi diskon tarif karena tidak punya kembalian pembayaran. Mencoba pintu otomatis halte busway Departemen Pertanian dengan kartu JakCard. Menikmati perjalanan busway sampai halte Mampang Prapatan. Insiden keseleo Radya saat berjalan kaki menuju Plaza Toyota Tendean yang segera ditangani dengan tusukan jari jempol Baba di betis atas kaki yang cedera. Terheran-heran dengan penuhnya Ayam Bakar Fatmawati padahal rasanya kurang menggugah selera. Menikmati waktu bermain saat shalat zuhur dan belepotan cat di Masjid Cut Meutia, Menteng.

Mendapati sisa 20 kursi tersedia untuk ruang pertunjukan Planetarium, karcis seharga Rp7 ribu untuk dewasa dan Rp3,5 ribu untuk anak-anak adalah tarif yang cukup murah untuk merawat fasilitas berharga ini. Admission fee untuk dewasa di Peter Harrison Planetarium di Greenwich saja seharga £6.50 sedangkan di Planetarium Negara di Kuala Lumpur dihargai RM12.00. Tidak perlu turut mengantri panjang karena pengunjung lainnya sudah masuk dan sepertinya berebut kursi di dalam ruang pertunjukan karena karcis tidak ditandai dengan nomor bangku. Kami berlima kerepotan mendapatkan tempat duduk yang berkumpul. Secara spot tersedia satu atau dua bangku kosong. Di barisan depan kami dapati tiga bangku kosong di samping seorang laki-laki dewasa yang nampaknya sendirian.

“Permisi, Pak. Boleh kami bertukar tempat duduk di sini? Kami sekeluarga,” Baba  meminta kesediaan laki-laki itu yang kemudian mempersilakan kami menduduki tiga bangku kosong yang ada. Bubu, Tsuraya dan Radya pun duduk di situ. Baba yang menggendong Athiya, 9 bln, masih berdiri di hadapan laki-laki yang sibuk dengan Blackberry-nya itu dan meminta perkenan dia, “Maaf, Pak. Boleh saya duduk di tempat Bapak, untuk menemani keluarga saya?” Dengan acuh, ia berkata, “Lho, saya duduk di mana?” Baba mempersilakan dia duduk di tempat lain. “Saya juga bersama keluarga,” ucapnya menunjuk istri dan anak-anaknya yang duduk di barisan belakangnya. “Iya, Pak. Justru suami saya duduk di depan, karena tidak dapat bangku,” istrinya menimpali, “kalau ia pindah ke bangku lain, nanti anak-anak saya menangis, tidak ada bapaknya.”

Lho? Bubu terheran dengan alasan si ibu karena anak-anak mereka nampak lebih tua usianya daripada Radya. Tidak produktif jika mendebat, Baba dan Athiya pun mendapati sebuah bangku kosong yang tidak jauh dari Bubu dan duduk di sana. Sepanjang pertunjukan, laki-laki itu tampak tidak menikmati acara, karena terdengar oleh Bubu celotehan anaknya, “Papah ini kok, main hape melulu.”

Mengikuti beberapa remaja peserta olimpiade sains, Baba, Bubu, Radya, Tsuraya dan Athiya yang sudah tertidur sejak awal pertunjukan, turut telentang di lantai depan menikmati proyeksi universarium di langit-langit kubah. Dibandingkan dengan posisi duduk di bangku yang hanya menghadap satu arah, posisi telentang ini cukup nyaman dan memungkinkan untuk melihat ke seluruh penjuru. Melirik ke bangku si bapak yang disibukkan dengan hape tadi , ia nampak menghilang selepas paruh awal pertunjukan, dan tidak satupun anak-anaknya yang menangisi kepergiannya dari ruang pertunjukan. Empat bangku di barisan depan itu pun kembali kosong hingga akhir pertunjukan.

(bersambung)


Konsep Bawah dan Atas

29 Januari, 2012

“Baba, kok di dalam rumah ada gambar bintang?” tanya Radya yang melihat layar Samsung Galaxy 5 milik babanya yang masih menampilkan aplikasi Google Sky Map. Baba menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah mengenali bintang-bintang ketika melakukan observasi bersama Radya seperti pada tulisan sebelumnya. Radya pun mengangkat ponsel pintar itu, memutar posisinya dan dengan penuh gairah menelusuri semua gambar bintang yang ditampakkan. “Baba, semua arah ada bintangnya, kok bisa?” seru Radya lagi.

“Zenith adalah posisi yang tegak lurus di atas kita, sedangkan Nadir adalah posisi yang tegak lurus di bawah kita. Segala yang berada di sekitar titik Nadir tidak dapat kita lihat karena berada di belahan yang lain dari langit. Bukan berarti Nadir itu ada di bawah, tetapi ia tetap berada di atas bagi orang-orang yang tinggal di belahan yang lain dari bumi,” Baba menjelaskan. Melihat Radya yang bersusah payah berupaya memahami penjelasan itu, Baba kemudian mengambil sebuah bola plastik dan menandai dengan spidol sebuah titik.

“Bola ini ibarat bumi dan titik ini adalah tempat kita,” ujar Baba dengan mengarahkan titik berada di posisi atas bola dan menaunginya dengan telapak tangan, “Telapak tangan ini langit yang berada di atasnya.” Kemudian Baba memindahkan posisi telapak tangan ke bagian bawah bola dengan titik tetap menghadap ke atas, “Telapak tangan ini langit yang berada di bawahnya.” Kemudian Baba menghadapkan titik ke arah bawah, “Pada posisi ini langit yang berada di bawah bola adalah atas bagi si titik, dan langit yang berada di atas bola adalah bawah bagi si titik.”

Tiba-tiba Radya memindahkan posisi titik menghadap ke samping kanan dan meletakkan telapak tangannya menghadap ke titik, “Dan ini adalah atas si titik,” kemudian meletakkan telapak tangannya pada arah sebaliknya, yaitu dari samping kiri dan berkata, “dan ini adalah bawah si titik.” Dengan senyuman Baba berkata, “walaupun langit itu ternyata berada di samping bola.”


Orion dan Radya

29 Januari, 2012

Malam gelap masih belum larut, rembulan masih hilal belum tampak seperti tandan, Radya mengajak Baba menatap langit melihat bintang-bintang. Baba mengambil Samsung Galaxy 5 miliknya dan membuka aplikasi Google Sky Map. Radya mampu membedakan antara planet dengan bintang. Planet adalah bintang kembara, benda langit yang cahayanya terang tidak berpendar, karena hanya memantulkan sinar matahari. Sedangkan bintang adalah bintang tetap, benda langit yang bersinar dan cahayanya berkelap-kelip, letaknya yang sangat jauh membuatnya terlihat kecil di langit malam. Andai saja bintang yang besar itu dekat, sudah pasti ia lebih terang cahayanya dibandingkan sinar matahari.

Orion adalah salah satu rasi bintang yang mudah terlihat di ekuator langit (ketika diobservasi oleh Radya, Orion sedang berada di dekat zenith). Dalam mitologi Yunani, Orion adalah sang pemburu. Di Jawa disebut sebagai rasi Waluku, yang kemunculannya sebagai penanda waktu menanam padi pada sawah tadah hujan. Radya mengamati Orion dengan seksama, di sekitarnya ada rasi bintang dua ekor anjing (Canis Major dan Canis Minor), serta rasi bintang binatang buruan yaitu Taurus si kerbau dan Lepus si kelinci. Agak ke utara terlihat bintang kembara (planet) yang besar dan terang yaitu Jupiter. Radya menikmati pemandangan langit dengan antusias dan rasa puas.

[26Januari2012/02RabiulAwal1433]


matahari mengelilingi bumi? #3

7 Januari, 2010

Fenomena siang dan malam

Pada majalah Playhouse Disney edisi 19/2010 pada halaman 18 dengan judul “Matahari dan Bulan” terdapat aktivitas Goofy yang sedang melihat dari jendela Clubhouse untuk memastikan apakah saat itu pagi, siang atau malam. Orangtua yang mendampingi anaknya membuka halaman tersebut diminta pula untuk menjelaskan kepada putra-putrinya bahwa matahari terbit dan tenggelam dalam waktu yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi. Jadi di Inggris masih siang, di Australia sudah malam.

Bagaimana menjelaskan terbit dan tenggelamnya matahari dalam waktu yang berbeda-beda?

Sebelum lebih jauh, konsep astronomi dalam dunia Islam diperlukan untuk menunjang peribadatan.
Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: